Framing ; Strategi Klasik Kaum Liberal


IslamediaSekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta membahas materi “Diskusi Literasi” pada pertemuan ke-8 yang berlangsung Rabu malam (26/04) di Aula INSISTS, gedung Gema Insani Press, di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan. Narasumber Akmal Sjafril dalam diskusi kali ini membahas wawancara Ulil Abshar Abdalla dengan sosiolog Julia Suryakusuma yang dimuat di situs islamlib.com dengan judul “Julia Suryakusuma: ‘Saya tidak Percaya Agama, Tapi Percaya Tuhan’”.

Dalam salah satu dialog Julia mengatakan, “Akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa agama itu muncul ketika spiritualisme menurun.” Hal ini mendapat kritik keras oleh Akmal. Founder #IndonesiaTanpaJIL ini menyebut pendapat Julia tersebut sebagai framing yang sengaja dibentuk untuk kepentingannya sendiri. “Seolah manusia memeluk agama karena tidak dekat dengan Tuhan, sementara dia sendiri merasa sudah menyatu dengan Tuhan sehingga tidak perlu lagi agama,” ungkapnya.

Penulis buku Islam Liberal 101 ini menegaskan, “Dalam debat, framing adalah strategi kaum liberalis. Lihat saja, kalau dicermati, pola yang sering dipakai adalah framing. Tidak ada fakta dalam kalimat atau argumen mereka, bahkan dalam berargumen mereka cenderung ‘abusive’,” ungkapnya ketika menyimpulkan diskusi malam itu.

Akmal pun berpesan agar peserta SPI mengingat satu hal dalam menghadapi kaum liberal. “Jangan ikuti permainan lawan. Merekalah yang harus ikut permainan kita. Cari titik lemahnya, dan potong argumennya di situ,” pungkasnya. [islamedia/indah/abe]