UBN: Radio Adalah Tempat Saya Pertama Kali Berkenalan dengan Buya Hamka


Islamedia Dalam kajian ketiganya, Sekolah Pemikiran Islam (SPI) menghadirkan Ust. Bachtiar Nasir sebagai pembicara. Kajian yang bertajuk “Menjejak Warisan Ilmu Sang Ayah Bangsa” itu digelar pada Jum’at (25/01) malam di AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta.

Kajian yang dimulai pukul 20.00 WIB itu berhasil menyedot perhatian banyak orang, terutama anak muda, yang umumnya baru mulai berkenalan dengan sosok dan pemikiran Buya Hamka.

Alhamdulillaah, kajian kali ini dihadiri oleh banyak anak muda, bahkan yang jauh lebih muda daripada saya. Saya pun termasuk generasi yang tidak pernah bertemu dengan jamannya Buya Hamka. Sebagaimana sudah diketahui bersama, Buya Hamka wafat tahun 1981. Jadi, yang lahir setelah tahun itu jelas tidak pernah bertemu dengan beliau,” ujar Akmal, Kepala SPI Pusat yang malam itu hadir sebagai moderator.

Pastinya semua yang hadir penasaran ingin mendengarkan uraian Ustadz Bachtiar tentang sosok Buya Hamka. Tapi sebelumnya, saya ingin ajukan satu pertanyaan dulu. Bagaimana sih seorang Ustadz Bachtiar Nasir pertama kali mengenal Buya Hamka?” ujar Akmal saat membuka pembicaraan di atas panggung.

UBN kemudian mengawali uraiannya dengan bercerita tentang sedikit pengalaman masa kecilnya. “Saya berkenalan dengan pemikiran Buya Hamka saat usia saya masih sangat belia. Saya lahir tahun 1967, beliau sudah wafat tahun 1981. Ayah saya orang Bugis, dan setiap pagi ayah saya akan menyetel radio dan kami akan mendengarkannya sambil sarapan, bersiap-siap untuk pergi ke sekolah, dan sebagainya. Yang kami dengarkan di radio adalah ceramah Buya Hamka,” ungkapnya.

Suara beliau yang serak-serah basah itu sulit untuk dilupakan. Kesan yang saya dapatkan dari ceramah-ceramah beliau adalah bahwa Buya Hamka ini seorang pemberani. Beliau tidak takut pada apa pun dan akan menyampaikan segala sesuatu apa adanya,” ujar UBN yang larut dalam nostalgianya.

Pengalaman masa kecilnya itu, menurut UBN, juga mengandung pelajaran penting bagi keluarga masa kini. “Ceramah-ceramah Buya Hamka itu kami dengarkan sambil lalu, sembari sarapan dan bersiap-siap untuk sekolah. Mungkin Ayah saya mengira saya tidak mendengarkan, padahal nyatanya berbekas juga pada jiwa kami. Karena itu, akrabkanlah anak-anak kita dengan ceramah-ceramah keagamaan, baik dengan menghadirinya langsung, atau dengan menonton dan mendengarkan rekamannya, meskipun mereka mendengarkannya sambil main,” tandas UBN. [abe/islamedia]

Baca Ini Juga ...: