Distorsi Gradient: Bingung jalan ini sedang menanjak atau menurun -->

Distorsi Gradient: Bingung jalan ini sedang menanjak atau menurun

Admin
Kamis, 18 April 2013
Islamedia - Opini ini ditulis untuk sekedar mengomentari kehidupan keberagamaan kita di Indonesia  terutama setelah muncul ‘ricuh’ soal tayangan Khasanah Islam di Trans-7.

Pernahkah anda berjalan atau berkendara melewati jalan yang begitu landai? Atau pernahkah juga anda berjalan-jalan menyusuri tepian sebuah sungai?

Pernahkah sekali saja mengira-ira jalan yang sedang anda lalui itu menurun atau menanjak?

Kadang sulit bukan menentukannya? Sejauh yang saya pahami, jalanan kita itu sedikit sekali yang benar-benar kemiringannya 0 derajat. Hampir semuanya lebih besar dari 0 atau lebih kecil dari 0.

Begitu juga dengan kehidupan yang sedang kita lalui sekarang ini, hari ini.

Hampir mayoritas kita sekarang dalam beragama berasal dari apa-apa yang diajarkan oleh pendahulu kita. Keluarga, orang tua, atau sesepuh yg pernah kita temui.

Suka tidak suka, terima tidak terima, tata cara dan semangat keberagamaan kita saat ini masih berbeda dengan tata caranya nabi Muhammad SAW.

Dan bila kita telisik sejarahnya, Indonesia dulu dikuasai oleh hegemoni kerajaan Hindu dan Budha. Kemudian datang para Da'i yang berusaha mengentaskan rakyat Indonesia untuk mengabdi pada Allah yang Haq, saja.

Dalam literatur-literatur sejarah sering kita temui penjelasan bahwa salah satu cara para Da'i untuk mengenalkan ajaran Islam adalah dengan memasukkan nilai dan istilah Islam dalam kebudayaan yang sudah ada sebelumnya.

Dulu di Hindu ada ajaran untuk kirim 'ngabekten' kirim do'a di hari-hari tertentu setelah kerabatnya ada yg meninggal. Oleh para Da'i, budaya kirim do'anya masih dipraktekkan tapi konten doa'nya diubah dengan bacaan surat Yasin dan bacaan-bacaan tahlil.

Dulu di budaya Jawa ada upacara Grebeg yang dimaknai awalnya sebagai bentuk syukur kepada Sang Hyang Penguasa Alam (mungkin maksudnya Dewi Sri/ Dewi Padi) karena telah memberikan rejeki berupa hasil pertanian. Sehingga bentuk tumpengan Grebeg selalu berupa bahan-bahan hasil pertanian. Lalu kemudian, oleh para Da'i budaya Grebeg tetap diadakan tapi kontennya diubah, tujuan syukurnya diubah bukan lagi ke Dewi Sri tapi kepada Allah SWT, dan diperkenalkan istilah baru bernama Sekaten (Syahadat 'Ain; logat lidah jawa. red).

Ada juga mengenai cara berpakaian, dulu tidak pernah dikenal adanya kerudung atau hijab bagi wanita. Lalu diperkenalkan oleh para Da'i dengan sekedar selendang yang taruh di atas kepala ("ditaruh" untuk membedakan dengan hijab yang seharusnya "diikat" untuk membungkus kepala). Itu semua tahapan yag mereka pilih untuk mengenalkan Islam.

Mungkin kita akan mengatakannya mereka para Da'i itu mencampur adukkan yang haq dan yang bathil. Tapi itulah metode yang dipilih. Sekali lagi metode. Bukan tujuan akhir.

 

Pengamalan masih berada di area minus, tapi progresnya selalu positif. Gradiennya positif atau naik.

Note: gradien adalah istilah matematika yang digunakan untuk menyebut kemiringan sebuah garis. Jika garisnya naik ke kanan-atas disebut gradien positif, jika garis miring ke kanan-bawah disebut gradien negatif.

Dan sekarang, apa-apa yang dulu dilakukan/dipilih para Da'i itu masih bisa kita temui. Tapi ada juga yang sama sekali sudah hilang.

Bila kita analogikan sebuah grafik matematika, sekarang ini ada beberapa tata-cara keberagamaan kita yang masih berada di area minus, ada juga yang sudah di area plus (di atas nol).

Di titik inilah yang saya maksudkan dengan distorsi gradient. Kita ternyata ada yang masih cukup gamang tentang garis hidup yang kita lewati hari ini sedang naik atau turun atau mendatar penuh. Sehingga ada di antara kita yang keukeuh mempertahankan amalan yang di area minus itu dengan dalih inilah yang dulu diajarkan para kiayi dan ulama pendahulu.

Mungkin bagi sebagian kita ada yang punya anggapan apa yang kita dapatkan hari ini dalam tatacara keberagamaan adalah sudah garis lurus, 100 persen sudah benar. Padahal belum sempurna.

Di sinilah kita dipaksa untuk jeli membedakan mana yang masih minus mana yang sudah plus. Sementara harus kita sadari dengan sesadar-sadarnya bahwa selandai-landainya garis itu, gradientnya tetap positif menuju sebuah area tata-cara beragamanya Nabi Muhammad SAW.
Artinya yang minus akan ditinggalkan, yang plus akan ditambah terus sampai minusnya hilang sama sekali.

Patokannya apa?



Patokannya adalah apa-apa yang diperbuat Nabi Muhammad SAW. Bukan Nabi selainnya. Meskipun Nabi Ibrahim AS yang pertama kali mengajarkan ibadah Qurban, tapi kita berqurban karena Nabi Muhammad SAW juga melakukannya. Ini untuk menghindarkan kita agar tidak membenarkan hal-hal yang sebenarnya bukan ajaran Islam yang dibawa Rasulullah. Semisal, dulu Nabi Sulaiman bekerjasama dengan seluruh makhluk termasuk jin. Itu khusus untuk Nabi Sulaiman, tapi itu sekarang dilarang dan bukan ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad.

Dan semestinya apa-apa yang dulu Rasulullah tidak menuntunkan, sesegera mungkin kita tinggalkan. Sedikit demi sedikit minimal, karena kita sadar, kita ini sedang bergerak naik dengan gradien positif.

Dan terakhir, bagaimanapun, para wali dan Da'i di era awal Islam di Indonesia ini tetaplah mulia (meski terkesan mereka mencampur adukkan yg haq dan bathil). Asasnya, sang pioneer -meski tak sempurna- tetap lebih mulia daripada orang-orang sesudahnya.

Wallahu A'lam bish showab


Tri Wiyono