Gagal Lulus SPI, Mahasiswa STEI Nekat Lakukan Hal Ini


Islamedia Sekolah Pemikiran Islam (SPI) adalah lembaga pendidikan non-formal yang mengkompilasi kajian-kajian tematik dan berkesinambungan menjadi sebuah kursus singkat yang dilakukan dalam beberapa kali pertemuan selama kurang lebih 5-6 bulan. SPI telah membuka kelas kursus singkatnya di tiga wilayah, yaitu Jakarta, Bandung dan Tangerang.

Meski lolos ujian masuk SPI, tidak ada jaminan bahwa peserta akan melanjutkan studinya hingga lulus. Ini dialami oleh seorang mahasiswa STEI Rawamangun Jakarta yang bernama Tri Januar. Ia lolos ujian masuk SPI Jakarta untuk Angkatan ke-4 pada 2016 silam. Namun karena sesuatu hal, akhiranya ia dinyatakan gugur dan tidak bisa melanjutkan proses belajar di SPI.

Kalau alasan mengapa (studi di) SPI sebelumnya gagal, sebenarnya karena jadwal SPI berbarengan dengan kuliah di kampus,” ungkap Januar saat diwawancara pada Kamis (20/09) silam.

Peraturan di SPI memang cukup ketat dan mengikat, salah satunya dengan membatasi ketidakhadiran peserta. Jumlah maksimal ketidakhadiran hanya dibatasi 3 (tiga) kali pertemuan, dan apabila melampaui jumlah itu, maka secara otomatis peserta dianggap gugur dan tidak diperkenankan melanjutkan program pembelajaran selanjutnya. Karena bentroknya waktu kegiatan tersebut, Januar harus memilih salah satu dan terpaksa mengorbankan kegiatannya di SPI kala itu.

Dua tahun berlalu, kini Januar mantap mendaftarkan diri kembali mengikuti Kursus Singkat SPI Jakarta di Angkatan ke-9 pada tahun 2018. Kali ini, ia sangat yakin bisa menyelesaikan studinya dan membayar kegagalan sebelumnya.

Saya percaya segala sesuatu perlu diperjuangkan. Belajar dari pengalaman sebelumnya, saya tak ingin gagal lagi,” tegas Januar. [alifi/abe/islamedia]

Baca Ini Juga ...: