Review Ayat-ayat Cinta 2 : Antara Tetap Setia atau Melupakan Masa Lalu






Islamedia "Hal yang paling layak untuk dicintai adalah cinta itu sendiri dan hal yang paling layak dibenci adalah kebencian itu sendiri" (Fahri, mengutip Syaikh Said Nursi)

Setelah hampir 10 tahun sejak film pertamanya muncul, akhirnya Ayat-ayat Cinta 2 kembali hadir di bioskop mulai tanggal 21 Desember. Alhamdulillah saya mendapatkan tiket di hari pertama pemutarannya yang hampir semua bioskop full house. Keuntungan nonton sendiri, ya itu, bisa dapat kursi walaupun bioskop sudah penuh. Hehehe…

Saya ingat tahun 2008, animo masyarakat begitu antusias dengan kehadiran film yang dilabeli “islami” ini. Saya yang saat itu gak pernah ke bioskop akhirnya kembali nonton ke bioskop. Waktu itu usai mengaji mingguan yang selesai pukul 11 malam, saya bersama seorang teman menonton A2C jam 23.45 di Setiabudi 21. Kemudian saking sukanya sama film ini nonton untuk kedua dan ketiga kalinya. Walaupun saya tidak habis membaca novelnya, tapi bagi saya film ini sangat bagus pada zamannya. Sempet ngedumel juga sih dengan beberapa pemain filmnya yang menurut saya kurang cocok, tapi tetap saja film ini masuk kategori bagus bagi saya. 

 
Poster film A2C2 yang ada dimana-mana


Film A2C2 kali ini hampir 80% mempunyai karakter yang berbeda. Fahri tetap diperankan oleh Fedi Nuril (and he’s acting so well), Aisha kali ini bukan diperankan Riyanti Cartwright melainkan oleh Dewi Sandra. Peran tambahan yang baru ada di novel keduanya adalah Hulusi (diperankan Pandji P), Hulya (Tatjanan Saphira), Keira (Chelsea Islan), Misbah (Arie K. Untung), Nenek Chatarina (Ade Irawan), Brenda (Nur Fazura), dan lainnya. Sutradaranya pun berganti ke Guntur Soeharjanto dari sebelumnya Hanung Bramantyo. Kali ini Kang Abik turut mengawasi pembutan film ini.

Kisah dibuka dengan suasana konflik di Palestina. Aisha berada di daerah yang sedang dibombardir oleh Israel itu. Scene pun berganti saat Aisha terjatuh. Selanjutnya digambarkan kehidupan Fahri yang sekarang sudah menjadi Professor di Universitas Edinburgh. Kehidupan Fahri begitu sempurna, harta yang banyak, rumah yang mewah, usaha yang banyak, teman-teman yang baik, otak yang cerdas, dan banyak dikagumi oleh wanita. Inilah yang akhirnya menjadi konflik utama dalam film ini, hubungan Fahri dengan wanita-wanita itu. Sementara Fahri berusaha setiap dengan Aisha yang kondisinya tidak diketahui, namun wanita-wanita itu terus berada di sekeliling Fahri. Terus setia atau melupakan masa lalu. Cerita pun ditambahi dengan bumbu-bumbu rasisme, konflik Palestina-Israel dan hubungan antar manusia. Jika sudah membaca novelnya pasti akan mudah langsung menebak akhir dari cerita ini. Kalau saya, sebelumnya googling dulu cari spoiler isi bukunya jadi secara garis besar sudah tau isi ceritanya. Hehehe…

 
Dari film ini ada beberapa catatan dari saya baik kelebihan maupun kekurangannya. Berikut yang menjadi catatan saya :


KELEBIHAN 

1. Film ini berani mengangkat isu Palestina – Israel yang secara kebetulan kondisinya sesuai dengan keadaan sekarang. Hal ini menurut saya cukup BERANI, karena PH yang memproduksi film ini adalah PH terkenal. Jarang-jarang ada PH yang mau menampilkan masalah dunia islam. Bagi Mas Guntur ini adalah film keduanya yang mengangkat isu Palestina setelah film “Jilbab Traveler Love Sparks In Korea”. Fahri menggambarkan muslim yang sangat toleransi terhadap agama apapun. Bahkan ada adegan yang Fahri menyebutkan, “Bukan Yahudinya yang kita benci, tetapi gerakan Zionis nya”. Itu bagi saya keren bingits! Lalu saat Baruch mengusir ibu tirinya, Chatarina, Fahri yang datang dan menolongnya. Padahal awalnya Chatarina sangat jutek pada Fahri. Pada saat debat pun Chatarina yang Yahudi yang menolong Fahri dari tuduhan Baruch. Pokoknya scene ini informatif banget deh!


2. Sinematografi yang ciamik. Entah kenapa kalau Mas Guntur yang jadi sutradara, saya selalu terhibur dengan gambar-gambar yang ada di filmnya. Pengambilan gambarnya indah dan suasananya asyik banget khas Mas Guntur banget deh. Mas Guntur berhasil menggambarkan Kota Edinburgh yang klasik, indah dan nyaman. Seorang teman yang dulu pernah kuliah di Inggris sampai baper saat menonton film ini, pengen kembali ke Edinburgh. Tapi benar ciamik apa yang ditampilkan di film ini. Lagi-lagi jadi bikin saya mupeng kesana.


3. Akting yang keren. Akting paling keren menurut saya adalah Fedi Nuril, yang hampir setiap scene sedih dia menguarkan air mata secara alami. Jadinya saya yang nonton ikutan sedih. Akting Tatjana Saphira, Chelsea Islan, dan Dewi Sandra juga bagus tapi menurut saya belum istimewa. Sebagai perbandingan yang disebut istimewa menurut saya adalah akting Laudya Cintya Bella di Film Surga Yang Tak Dirindukan. Akting mencuri perhatian justru datang dari Nur Fazura (kali ini bukan Nora Danish lagi yang dipakai) aktor asal negeri jiran yang walaupun kebagian peran kecil tapi bagi saya sangat memorable. Akting Pandji dan Arie juga bagus termasuk pula akting Ade Irawan. Tapi tetap belum istimewa. Catatan lainnya, akting para pemain bulenya pun tidak ada yang kaku. Beda dengan film BTDA yang menurut saya akting para bule nya “aneh”. Bahkan Milene Fernandez berbicara bahasa Inggris dengan menggunakan logat british yang menambah totalitas akting mereka.


4. Jalan cerita lancar dan mengalir. Nonton film A2C2 kali ini saya bener-bener gak pengen selesai. Seperti membaca buku yang difilmkan. Cerita mengalir lancar dan menarik. Tidak banyak adegan-adegan yang menurut saya tidak perlu. Sampai di akhir cerita pun terus mengalir dan lancar tanpa hambatan. Walaupun ada beberapa adegan yang menurut saya “ilogical” tapi untuk penonton umum mungkin masih bisa diterima. 


5. Sarat hikmah. Udah gak perlu diraguan lagi kalau ini ya. Secara yang nulis kan Kang Abik, lulusan Al Azhar Mesir. Adegan sarat makna yang paling saya suka adalah saat Fahri sudah hampir putus asa dan dia meminta nasehat kepada Misbah di pelataran masjid. Juga saat seorang Imam yang bacaannya salah, diperbaiki oleh Fahri dan Imam itu tidak marah melainkan malah berterima kasih (padahal itu Imam Besar). Hal ini semakin menggambarkan bahwa Islam itu indah (jama'ah oh jama'ah...).


Nah, selanjutnya ini beberapa kekurangan yang saya temukan dalam film ini :

KEKURANGAN 

1. The Too Perfect Fahri. Tokoh Fahri bagi saya terlalu sempurna dan hanya akan ada di kehidupan novel saja (wajar ya, kalau penulis bisa melakukan apa saja dengan si tokoh). Sudah ganteng, pinter dan kaya pula. Setiap hal yang dilakukan Fahri pasti baik. Selain itu Fahri juga setia. Dia masih susah beranjak dari Aisha yang entah masih hidup atau sudah tiada. Kehadiran Hulya, Brenda dan Keira pun tak lantas membuat Fahri menjadi centil pada wanita-wanita itu, sebaliknya Fahri malah merasa risih dan menjaga jarak. Maka tak heran ketika Fahri meminang Hulya, tidak banyak penonton yang mempermasalahkan poligami ini. Padahal kalau karakter Fahri digambarkan jahat dan kejam, udah pasti langsung kena perundungan. Hehehe.


2. Beberapa jalan cerita yang dipaksakan. Misal ketika Sabina menjadi asisten rumah tangga di rumah Fahri, masa iya, Fahri tidak mengenali kalau itu Aisha? Padahal tokoh Sabina gak terlalu ketutup banget, malah matanya terlihat jelas. Masa sih Fahri tak mengenali mata istrinya cuma gegara istrinya sudah menjadi buruk rupa (kalau di film buruknya gak terlalu ketara sih). Katanya si Fahri cinta…hehehe. Kemudian saat Hulya meminta Aisha untuk face off wajah, apa iya penampilan itu yang paling utama sehingga Aisha yang berwajah buruk mesti cantik dulu agar cocok sama Fahri? Dan hasil face off nya yang 100% sama dengan wajah Hulya ditambah proses face off nya yang cepet bingits! Bagi penonton kritis seperti saya mungkin ini amat sangat mengganggu. Tapi dibandingkan dengan keseluruhan cerita, mungkin hal ini bisa tertutupi dengan baik.


3. Musik yang megah, penuh diva tetapi forgetable. Untuk sountrack film kali ini, pihak PH sampai meminta 4 diva terkenal, Raisa, Krisdayanti, Rosa, dan Isyana Saraswati. Tapi menurut saya lagunya belum ada yang makjleb. Berbeda saat A2C 1 yang hanya diisi Rosa dan Sherina, lagu-lagunya sampai sekarang pun masih terngiang dengan jelas. Sountrack nya yang sekarang memang mewah sih tapi bagi saya forgetable.


4. Ada adegan yang gak banget. Dan adegan ini ada di film A2C 1 maupun yang sekarang, yaitu adegan usai Fahri dan Hulya sholat sunnah bersama (saya gak mau jelasin maksudnya apa ya). Bagi saya itu langsung ngerusak isi film. Pentingnya apa dan apa perlu digambarkan seperti itu? Apalagi ini film Islami loh! Banyak orang tua yang mengajak anak-anaknya menonton juga menambah ke “enggak banget” an adegan ini. Kalaupun di cut kayaknya gak akan mengganggu jalan cerita deh.


Secara keseluruhan film A2C2 ini masuk kategori bagus dan layak ditonton. Tentu saja film ini tidak cocok ditonton anak-anak karena mereka bakalan ruwet dengan masalah cinta orang dewasa. Hahaha… Mewahnya film ini memang dapet dan sepertinya budgetnya gila-gilaan. Promosinya pun gak kalah gila. Itu poster film ada mulai dari di bilboard gede, kereta api, dll. Iklannya pun berseliweran di tivi-tivi nasional jadi gak akan mengherankan jika film ini nanti bakalan tembus 1 juta penonton. Mudah-mudahan aja bukan cuma kemewahannya aja yang di dapat oleh penonton tetapi hikmah yang ada di film ini juga bisa ditangkap.

Sekarang saya kasih score untuk film ini :

Akting 8.5/10
Skenario 8/10
Cinematografi 9/10
Overall 8.8/10

In the end, wajiblah ya bagi kita mendukung film-film Indonesia yang sehat dan bagus. Apalagi film ini berlabel “islami” jadi mesti banget didukung. Bukan malah menjelek-jelekkan atau mengajak orang untuk tidak menonton film ini. Beberapa kekurangan wajarlah ya, asalkan secara umum jalan ceritanya masih bagus dan dapat diterima. Saya sendiri merekomendasikan untuk menonton film ini. Yuk, nonton film ini dan bagi anda yang suami istri bisa-bisa jadi tambah lengket. Sedangkan bagi yang sendiri, siap-siap baper dan caper ya! Lol.


Ditulis oleh Yasser A

Bogor, 24th of December 2017
@RiceBowl BSB, 17.26 pm

dipublikasikan pertama di yassaja.blogspot.co.id

[islamedia].