Keutamaan dan Ikhtiar Menahan Marah -->

Keutamaan dan Ikhtiar Menahan Marah

Minggu, 01 Januari 2023


Islamedia -  Bismillaahirrahmaanirrahiim. Sering kali kita jumpai anak marah sama orang tua karena orang tua tidak bisa memenuhi permintaannya. Sering juga orang tua bertindak berlebihan dan tidak proporsional ketika marah. Tidak jarang juga kita dengar perkelahian siswa dengan membawa sajam serta saling melempar batu karena dipicu hal-hal sepele.

Juga kita mendengar kasus-kasus penganiayayaan gara-gara perkara remeh temeh. Bahkan terkadang seperti tidak ada penyebabnya. Lihat orang menggunakan sepeda motor dengan kaos supporter lain, kemudian dikejar dan dikeroyok  dan berujung pada meninggal dunia. Saling memandang berujung pada pembunuhan karena dianggapnya menantang. Dan masih banyak lagi kasus-kasus di sekitar kita yang menunjukkan begitu mudah marahnya generasi kita.


Di level orang terdidikpun juga sering kita saksikan tidak bisa menahan marah. Pada saat musyawarah dalam organisasi sering terjadi saling lempar kursi dan saling pukul karena berbeda pendapat.


Alhamdulillah, Islam adalah agama rahmat bagi semesta alam. Jika kita belajar agama secara komprehensif maka kita akan dapati banyak mutiara-mutiara di sana. Salah satu mutiara ini adalah bagaimana Islam sangat melarang dan menghindari pengursakan maupun kerusakan.


Dalam rangka untuk menghindari dampak kerusakan, Nabi ﷺ kita yang mulia mengajarkan kepada kita supaya tidak mudah marah dan bagaimana jika sifat amarah datang, amarah ini lekas turun dan tidak berdampak negatif, seperti pembunuhuan maupun pengrusakan baik skala kecil maupun skala lebih luas.

 

Keutamaan Menahan Marah

1.     Allah Ta’ala memuji dan mencintai orang yang menahan marah sebagamana firman Allah Ta’ala dalam Surat Ali-Imran ayat 134:

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

Artinya:” (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Sungguh beruntung orang yang dipuji dan dicintai oleh Allah Ta’ala.


2.     Allah Ta’ala akan membanggakan orang yang menahan marah serta memilih bidadari yang disukainya. Sebagaimana dalam hadis Nabi  ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud:


مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنْ الْحُورِ الْعِينِ مَا شَاءَ

Artinya:“Barangsiapa yang menahan kemarahannya padahal dia mampu untuk melampiaskannya maka Allah Ta’ala akan memanggilnya (membanggakannya) pada hari kiamat di hadapan semua manusia sampai (kemudian) Allah membiarkannya memilih bidadari bermata jeli yang disukainya (HR. Imam Abu Dawud)


3.       Orang yang mampu menahan marah adalah orang yang kuat, sebagaimana hadis Nabi  yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori berikut:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ


Artinya: "Orang yang kuat itu bukanlah karena jago gulat, tetapi orang kuat adalah orang yang dapat menahan dirinya di kala sedang marah (HR Imam Bukhori)


4.    Balasan orang yang menahan marah adalah surga, sebagaimana hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban berikut:

 

 لا تغضبْ ، ولَكَ الجنَّةُ


Artinya: “Janganlah engkau marah, niscaya bagimu surga” (HR Imam Ibnu Hibban)

 

Tuntunan Ikhtiar Menahan Marah

Islam agama yang mulia ini memberikan tuntunan ketika hawa amarah datang merasuk dalam dada maka ada beberapa ikhtiar untuk menahannya.

 1.    Minta perlindungan kepada Allah Ta’ala (bertaawudz) sebagaimana dalam surat Al-a’raf ayat 200:

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيْطَٰنِ نَزْغٌ فَٱسْتَعِذْ بِٱللَّهِ ۚ إِنَّهُۥ سَمِيعٌ عَلِيمٌ


Artinya: “Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

Juga hadis Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim:

 

سَمِعْتُ سُلَيْمَانَ بْنَ صُرَدٍ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اسْتَبَّ رَجُلَانِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَغَضِبَ أَحَدُهُمَا فَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى انْتَفَخَ وَجْهُهُ وَتَغَيَّرَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ الَّذِي يَجِدُ فَانْطَلَقَ إِلَيْهِ


Artinya:” Diriwayatkan dari Sulaimân bin Shurd Radhiyallahu anhu berkata, “Aku pernah duduk di samping Nabi ﷺ saat dua orang lelaki tengah saling caci. Salah seorang dari mereka telah memerah wajahnya, dan urat lehernya tegang. Beliau bersabda, “Aku benar-benar mengetahui perkataan yang bila diucapkannya, niscaya akan lenyap apa (emosi) yang ia alami. Andai ia mengatakan: a’ûdzu billâhi minasy syaithânir rajîm, pastilah akan lenyap emosi yang ada padanya [HR. Imam Bukhori dan Imam Muslim)

 

2.       Berwudhu

Sebagaimana hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:

إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ


'Sesungguhnya marah itu perbuatan setan, dan setan itu diciptakan dari api, dan sesungguhnya api itu hanya dapat dipadamkan dengan air. Karena itu, apabila seseorang di antara kalian marah, hendaklah ia berwudu'. (HR Imam Ahmad)

3.     Merubah posisi dari berdiri ke posisi duduk kemudian ke posisi berbaring

Sebagaimana Hadis Nabi  ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ

Artinya: “Jika salah seorang dari kalian marah saat berdiri, hendaknya ia duduk, kalau belum pergi amarahnya, hendaknya ia berbaring (HR Imam Abu Daud)

Maka denga posisi duduk apalagi berbaring amarah akan menjadi reda. Detak jantung yang mengeras karena marah pelan-pelan akan menjadi normal. Disamping itu dampak kerusakan marah juga akan sangat terkurangi. Apa yang bisa diperbuat dari orang yang berbaring? Sungguh tuntunan yang sangat sempurna.

4.    Ketika amarah datang maka kita berusaha diam

Sebagaimana Hadis Nabi  ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad

 

وَ إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ


Jika salah seorang diantara kalian marah maka diamlah (HR Imam Ahmad)

Demikian tulisan singkat ini, terkait dengan kutamaan seseorang menahan marah dan ikhtiar menahan marah ketika rasa marah datang. Keutamaan yang sangat besar bagi sesiapa yang mampu menahan marah. Jika rasa amarah datang, maka mari ikuti tuntunan Nabi ﷺ dengan membaca ta’awudz dan berwudhu. Jika dalam posisi berdiri masih merasakan marah, maka duduk dan berbaring dan diam akan menurunkan tensi marah dan dampak negatif.  Semoga generasi kita menjadi generasi yang bijak dan generasi yang tidak mudah marah. Wallahu a’lam bishshowab. Nashrun minallahi wa fathun qarib


Ditulis oleh : Ustadz Tito Yuwono, M.Sc

Sekretaris Majelis Dikdasmen PCM Ngaglik, Sleman
Ketua Joglo DakwahMu Almasykuri Yogyakarta
Dosen Jurusan Teknik Elektro-Universitas Islam Indonesia Yogyakarta