Lawan Kebebasan Seksual, Komunitas Perempuan Peradaban Luncurkan Buku Saku “Ada Apa dengan Konsen” -->

Lawan Kebebasan Seksual, Komunitas Perempuan Peradaban Luncurkan Buku Saku “Ada Apa dengan Konsen”

Kamis, 23 Desember 2021

Islam
edia 
Jakarta (22/12) -- Bertepatan dengan hari Ibu, sebuah komunitas perempuan yang menamakan dirinya Perempuan Peradaban meluncurkan buku saku berjudul “Ada Apa dengan Konsen” atau disingkat AADK. Peluncuran buku saku ini berlangsung secara daring ini dihadiri oleh empat orang penulisnya yaitu Lewinda Jotari atau biasa dipanggil Jota, Annisa Ghasyani, Ria Rahmawati dan Febriana Okta Filia.

Jota mengatakan, “Buku saku ini salah satu upaya untuk menyelamatkan pemikiran anak muda dari pengaruh yang tidak sesuai dengan moral bangsa dan agama yang dianut bangsa ini,” Dosen muda perguruan tinggi di Bandung ini juga menjelaskan bahwa kata konsen yang merupakan ringkasan dari konsensual seks harus betul dipahami bahayanya oleh kalangan pemuda.

Di momen yang sama Annisa juga menjelaskan proses pembuatan buku saku tersebut tidaklah mudah, “Meskipun ini cuma buku saku, tapi bikinnya tidak mudah karena kita perlu menyederhanakan bahasa pemikiran menjadi bahasa yang sederhana mudah dipahami, namun tidak menghilangkan esensinya. Kami merumuskan buku ini dalam waktu sekitar satu tahun,” jelas guru pesantren di Bukittinggi tersebut.

Acara yang dihadiri oleh Farah Qoonita sebagai pewara ini pun mengundang antusiasme anak muda untuk hadir dan bertanya mengenai cara menyatukan buah pikiran saat menulis buku padahal semua penulis bertempat tinggal di kota yang berbeda sampai tantangan yang dihadapi penulis.

Iya, memang selain konten, tantangan kita juga tentang lokasi penulis ditambah dengan latar belakang yang berbeda juga. Kak Jota di bidang Humaniora, kak Ria jurusan Teknik Kimia, kak Nisa lulusan pendidikan dan Saya sendiri lulusan psikologi. Namun Alhamdulillah tantangan ini justru menguatkan, perbedaan ini yang menjadi salah satu alasan butuh waktu satu tahun untuk bisa menerbitkan buku saku,” jelas Fillia yang bertempat tinggal di Malang.

Ria menambahkan bahwa meskipun proses yang dilakukan dalam pembuatan buku cukup menantang, tapi buku saku AADK sengaja dijual murah agar bisa menjangkau semua kalangan. “Walau harganya murah, cuma sepuluh ribu, bahkan harga langganan NetFlix lebih mahal. Tapi insyaallah isinya ngga murahan bahkan lebih aman dan bermanfaat dibandingkan nonton Sex Education di Netflix,” lanjut perempuan pegiat clean eating tersebut.

Acara peluncuran buku berlangsung hingga hampir larut malam itu ditutup dengan pembagian hadiah buku saku AADK bagi pertanyaan yang paling menarik. Keempat penulis ini merencanakan untuk membuat buku saku lanjutan yang isinya seputar pemikiran yang berbahaya untuk peradaban perempuan Indonesia. 

Insyaallah setelah ini kami akan mengadakan roadshow ke berbagai sekolah, pesantren ataupun kampus-kampus. Dan insyaallah tahun depan akan menerbitkan dua buku. Mohon doa semuanya.” pungkas Jota. [islamedia/abe]