Mengingat Kematian -->

Mengingat Kematian

admin
Kamis, 09 Juli 2020
Islamedia Mengingat kematian akan membuat kita menjadi zuhud di dunia dan menyadarkan kita untuk berusaha menyiapkan bekal di kehidupan selanjutnya yang abadi.

Bersegera beramal shalih wahai orang-orang yang dunia kesibukkannya, semangatnya, dan cita-citanya. Kematian akan datang tiba-tiba. Kuburanlah kotak amal.

Dunia akan berakhir dan akhirat akan datang. Dunia dan akhirat memiliki anak-anak yang setia. Jadilah kalian anak-anak akhirat. Jangan menjadi anak-anak dunia. Janganlah kalian disibukkan oleh angan-angan. Karena angan-angan akan menghalangi kalian dari taubat. Hati-hatilah dari hawa nafsu. Karena hawa nafsu menghalangi dari kebenaran.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata,

وكلما غفل قلبك واندمجت نفسك في الحياة الدنيا فاخرج الى القبور وتفكر في هؤلاء القوم

Setiap kali hatimu lalai dan terlarut dalam kehidupan dunia, keluarlah engkau menuju kuburan.

وتفكر في هؤلاء القوم

Dan renungkanlah tentang mereka-mereka ini (para penghuni kubur).

الذين كانوا بالأمس مثلك على الأرض يأكلون ويشربون ويتمتعون

Kemarin mereka seperti dirimu berada diatas bumi, mereka makan, minum dan bersenang-senang. .

والآن أين ذهبوا

Dan sekarang kemana mereka pergi?

صاروا الآن مرتهنين بأعمالهم

Sekarang mereka tergadaikan dengan amalan-amalan mereka (di dalam kubur).

لم ينفعهم إلا عملهم كما أخبر بذلك النبي عليه الصلاة والسلام أنه قال

Tidak bermanfaat bagi mereka kecuali amalan-amalan mereka, sebagaimana hal itu dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam,

يتبع الميت ثلاثة : ماله وأهله وعمله ، فيرجع اثنان ويبقى واحد ، يرجع أهله وماله ، ويبقى عمله

“Akan mengiringi mayit tiga perkara, Hartanya, keluarganya dan amalannya. Maka akan kembali pulang dua perkara dan akan tinggal bersamanya satu perkara. Yang akan kembali pulang keluarganya dan hartanya, dan akan tinggal bersamanya amalannya.” (HR. Bukhori, Muslim)

ففكِّر في هؤلاء القوم

Maka renungkanlah tentang mereka-mereka ini. (Syarh Riyadhus Shalihin 3/473)

Bahaya yang sesungguhnya adalah ketika kalian berhenti dari mengingat kematian dan sebab-sebabnya. Sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada kita,

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ

“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan. Yakni kematian.” (HR. ath-Thabrani).

Mari kita persiapkan diri kita untuk kematian. Bagaimana mungkin disebut dengan bersiap untuk kematian, orang-orang yang lama tak membaca Alquran, meremehkan sholat berjamaah di masjid. Tidak disebut bersiap untuk kematian, orang-orang yang masih suka berghibah, mengadu domba, memenuhi hatinya dengan kedengkian, menyia-nyiakan waktu dan umurnya dalam masalah yang belum diketahui benar atau salah.

Wallahu a’lam

Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia