Inilah Kisah Mahasiswa Indonesia yang Selamat dari Serangan Teroris di Masjid Selandia Baru


Irfan Yunianto
Irfan Yunianto [foto : Facebook]
Islamedia Mahasiswa S3  bidang onkologi molekuler asal Indonesia bernama Irfan Yunianto dikabarkan selamat dan berhasil meloloskan diri dari aksi penembakan yang dilakukan oleh Teroris di Masjid Al Noor, Kota Christchurch, Selandia Baru, pada Jumat 15 Maret 2019.

Berikut ini kisah lengkapnya seperti dilansir bbc.com, sabtu(16/3/2019).

Saya tiba di Masjid untuk Sholat Jum'at sekitar pukul 13.30 Wakttu Selandia Baru. Saya melihat di ruang utama masjid agak sepi, kemungkinan karena sebelumnya hujan deras sehingga Jamaah terlambat datang ke Masjid.

Biasanya apabila kondisi masjid masih sepi, saya menunaikan Sholat Tahyatul Masjid di ruang utama. Namun khusus hari itu, Allah mengarahkan saya untuk belok kanan ke ruang kecil, ruangan tersebut biasanya digunakan untuk seminar, pertemuan.

Karena saya datang naik sepeda dan mengenakan jaket, saya dapat meletakkan jaket didalam ruangan tersebut tanpa mengganggu Jamaah lainnya. Pada ruangan tersebut juga terdapat pintu emergency exit.

Saya memutuskan Sholat Tahyatul Masjid di ruangan tersebut dan mendengar khutbah sedikit—tidak sampai lima menit dari pertama masuk masjid saya mendengar suara letusan "DUAR DUAR".

Saat itu insting saya mengatakan mungkin ada trafo meledak. Namun ada suara tembakan beruntun dor dor dor dor, orang-orang mulai panik.

Karena posisi saya persis berada di depan pintu emergency exit, saya langsung membuka pintu tanpa halangan. Orang-orang pada keluar, saya ikut lari. Kami ke luar, lari ke parkiran mobil di belakang, luas. Semua orang panik, kemudian memanjat pagar.

Di situ ada teman saya yang sekolah penerbangan, 'ke sini, ke sini'. Ditolong saya memanjat pagar. Lalu kami sembunyi di rumah penduduk yang pagarnya menempel dengan pagar masjid.

Ada sekitar 15 orang, kami melihat dua orang korban. Satu luka tembak di bahu kanan. Wah itu parah.

Saya sempat khawatir, bagaimana bila beliau meninggal? Dia sudah mengucap syahadat dan seterusnya. Tapi ada orang lain yang menolong, menghentikan pendarahan.

Terus ada satu korban, remaja berusia 15 tahun. Kakinya bercucuran darah.

Termasuk saya, ada tiga warga Indonesia di rumah warga tersebut.

Kami menghubungi paramedis yang datang menjemput dua korban tadi. Kami nggak berani lihat ke luar karena kami takut terkena peluru nyasar atau bahkan kalau pelakunya mengejar sampai ke parkiran belakang.

Kami hanya mendengar polisi menyisir, di parkiran belakang. Mereka melihat kami kemudian berteriak 'Get into the house!' Saya menghubungi supervisor dan KBRI. Di dalam rumah kami saling menguatkan.

Sekitar lima jam kami berada di rumah warga tersebut. Beliau merupakan pria pensiunan dokter mata berusia 60-an tahun.

Selama sembunyi di rumah itu, tuan rumahnya menyalakan televisi. Kami melihat laporan berita. Wah sudah.

Memang terguncang karena teringat ada kerabat, keluarga yang jadi korban, Ada yang meninggal di dalam. Kami coba saling support.

Waktu menunjukkan pukul 19.00 saat polisi datang dan mengevakuasi kami. Saya diantarkan ke rumah, sampai di rumah jam 19.30.

(baca juga : Terjadi Penembakan di Masjid Selandia Baru, Korban Jamaah Sholat Jum'at Berjatuhan).

[islamedia].