Sepenggal Kisah Syaikh Ahmad Yasin Saat 9 Tahun di Penjara Zionis Israel


Sepenggal Kisah Syaikh Ahmad Yasin Saat 9 Tahun di Penjara Zionis Israel
Islamedia Syaikh Ahmad Yasin, sosok legendaris dalam perjuangan bangsa Palestina dalam memperjuangkan kemerdekaan Bangsa Palestina. Dalam kondisi yang terbatas diatas kursi roda, Syaikh Yasin sanggup membangkitkan semangat para pemuda Palestina untuk berjuang melawan kedzoliman penjajah Zionis Israel.

Berikut ini sepenggal kisah yang selama ini belum terungkap kepublik tentang sosok Syaikh Yasin saat berada didalam penjara Zionis selama 9 tahun. 

Nidhal Abu Sa’adah adalah salah satu dari sekian oleh yang menyertai Syaikh Ahmad Yasin di dalam penjara Zionis. Eks tawanan yang telah bebas dari penjara Zionis ini berasal dari kota Bet Dajn di timur kota Nablus, wilayah utara Tepi Barat. Dia mendampingi Syaikh Ahmad Yasin selama mendekam di sel isolasi di penjara Kfar Yuna di tahun 1994. Selama tiga bulan dia melayani Syaikh Ahmad Yasin.

Dalam wawancara dengan Pusat Informasi Palestina, Abu Sa’adah menceritakan sebagian dari apa yang terekam ingatannya selama masa mendampingi Syaikh Ahmad Yasin. Dia berusaha mengungkap beberapa penggalan hidup Syaikh Ahmad Yasin yang belum dilihat oleh siapapun setelah 13 tahun beliau gugur oleh rudal penjajah Zionis.

Kepada Pusat Informasi Palestina, Syaikh Nidal Abu Sa’adah (52) mengatakan bahwa dia merasa sangat bahagia begitu para tawanan sipil diizinkan untuk melayani Syaikh Ahmad Yasin, setelah sebelumnya yang bisa memberi bantuan untuk urusan Syaikh Yasin hanya para sipir penjara sipil atau polisi penjajah Zionis.

Abu Sa’adah tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya yang membuncah karena dia termasuk generasi awal yang bisa melayani Syaikh Ahmad Yasin. Perasaan itu dia ungkapkan, “Saya teramat sangat ingin bertemu Syekh di penjara. Saya dipindahkan ke bagian penjara isolasi di tempat Syekh berada. Saya kebetulan memasuki bagian itu dan Syeikh Yassin berada di halaman penjara di tempat yang dikenal sebagai al-Fawra (mencari angin). Begitu saya melihatnya, saya langsung menunduk ke arahnya. Saya segera mencium wajah dan kedua tangannya. Tanda-tanda kebahagiaan terlihat di wajah Syekh karena bertemu dengan saya dan dengan salah satu anak muda Tepi Barat, dan anggota gerakannya.”

Pukul 2 Pagi

Beliau sangat berbeda dalam segala hal dengan yang lain. Tidak pernah letih dan tidak pernah lelah. Meski beliau sakit dan kondisi kesehatannya yang memprihatinkan, namun beliau adalah orang yang paling disiplin dengan waktunya. Paling perhatian dengan waktunya, jangan sampai ada waktu yang terbuang tanpa kontribusi dan atau ibadah.

Begitulah Abu Sa’adah menggambarkan program harian Syaikh Ahmad Yasin. Dia mengatakan, “Syaikh Ahmad Yasin mengawali harinya pada pukul 2 pagi dengan melaksanakah shalat malam dan membawa al-Quran sampai terbit fajar. Setelah shalat Subuh beliau istirahat sejenak sampai waktu sarapan. Kemudian jam-jam siangnya beliau gunakan untuk membaca dan mengikuti berita harian. Hal itulah yang menjadikan Syaikh Yasin seperti ensiklopedi informasi dalam banyak sisi wawasan dan ilmu pengetahuan.”

Abu Sa’adah menerangkan tentang wawasan Syaikh Yasin, “Kami bertanya kepada beliau tentang tema-tema fiqih, politik dan masalah-masalah militer. Kami dapati beliau jawaban-jawaban yang cukup luas dalam masalah-masalah tersebut.”

Pendiritaan fisik dan penahanan tidak mampu merampas keindahan spirit jiwanya. Demikian kata Abu Sa’adah, menggambarkan Syaikh Ahmad Yasin yang memiliki keistimewaan suka humar, melontarkan candaan dan mendengarkannya. Juga tentang pelajaran paling menonjol yang dipelajari Abu Sa’adah dari Syaikh Ahmad Yasin, katanya, “Beliau adalah ibarat sekolah dalam kesabaran. Beliau selalu menganggap enteng soal penahanan ini dengan mengatakan: penjajah Zionis yang mengeluarkan vonis hukuman, namun hanya Allah semata yang menentukan langit-langit dan tanggal pembebasannya. Dan beliau sendiri divonis penjara seumur hidup.”

Karisma yang tinggi

Meskipun Syaikh Ahmad Yasin mengalami lumpuh total, berat badannya tidak lebih dari 55 kilogram, belum lagi berbagai penyakit yang beliau deerita, sebagaimana dinyatakan oleh Abu Sa’adah, namun beliau tetap memiliki harisma besar di hati musuh-musuhnya sebelum di hati kawan-kawannya. Abu Sa’adah bercerita satu peristiwa, “Saya ingat ketika terjadi aksi penculikan serdadu Zionis Nahshon Vixman, pihak penjara saat itu menarik semua cangkir dan gelas dari kamar Syaikh Yasin sebagai reaksi terhadap aksi tersebut.”

Dia menambahkan, “Waktu itu Syaikh Ahmad Yasin sangat marah dan beliau berkata: Wahai Abu Shuhaib, bawakan pena dan kerta, tulis. Beliau mengirim surat ke menejemen penjara. Begitu surat diserahkan, direktur penjara pun diliputi ketakutan dan berkata kepada saya: saya akan mengembalikan semua yang disita dari kamar Syaikh meski karena itu saya harus membelinya dengan uang pribadi saya, tapi saya minta jangan diajukan pengaduan ini ke menejemen penjara.”

Dalam peristiwa lain Abu Sa'adah menggambarkan dampak penyanderaan Brigade Qassam terhadap serdadu Zionis Vixman, dia mengatakan, "Delegasi Zionis yang terdiri dari para menteri dan pemimpin militer bergantian memantau ruang isolasi Syaikh, mereka meminta beliau mengirim pesan kepada para penyandera yang isinya meminta meraka untuk meembebaskan serdadu Vixman. Namun kemudian Syaikh menolak dengan tegas: Saya tidak akan mencampuri masalah ini, Brigade Qassam lebih tahu apa yang mereka lakukan, kata-kata saya sekarang ini tidak akan didengar mereka, ada ribuan orang Palestina di penjara Anda, jadi bebaskan mereka."

Karamah

Dalam sebuah riwayat yang diceritakan Abu Sa’adah untuk pertama kalinya, mengisyaratkan kadar intiusi yang kuat Syaikh Ahmad Yasin. Dia mengatakan, “Pada suatu hari Syaikh terbangun dari tidur siang secara tiba-tiba. Beliau berkata kepada saya: Abu Suhaib, saya menyalakan televisi. Saya merasa bahwa sebuah aksi besar telah terjadi di entitas (Israel). Segera setelah saya nyalakan tv, saluran tv berita menyiarkan kabar tentang sebuah aksi besar yang menyebabkan kerugian manusia dan material entitas Israel. Yaitu aksi "Dizenkov" yang berlangsung di pusat Dizenkov di Tel Aviv, yang dilakukan oleh Asy-Syahid Qasami Saleh Shawi dari kota Qalqilya, yang menewaskan 13 orang Zionis dan melukai puluhan lainnya.”

Abu Sa’adah menutup kisahnya dengan mengungkapkan bahwa waktu tiga bulan menyertai Syaikh berlalu begitu cepat, namun dia merasakan banyak kebanggaan dan kekaguman yang memenuhi hatinya. Dia mengatakan, “Saya merasa bangga pernah menjadi bagian dari kehidupan Syaikh Ahmad Yasin. Saya tidak pernah membayangkan kalau saya akan memiliki hak istimewa memberi beliau makan dan melayakinya. Allah telah memberikan anugerh kepada saya dengan nikmat ini. Segala keutamaan dan segala puni hanya milik Allah. Saya berharap menjadi teman beliau di surga kelak." 

sumber : palinfo.com


[islamedia].