Konsep Gender Para Feminis Dipenuhi Unsur Kebencian


Islamedia Pada hari Rabu (23/01), SPI Jakarta kembali mengadakan kuliah yang bertempat di Aula Gedung Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan. Kuliah yang mengkaji tajuk “Gender” itu disampaikan oleh Dr. Henri Salahuddin, MIRKH. Berlangsung malam hari, kuliah tersebut menandai pertemuan kelima di semester kedua SPI Jakarta angkatan ke-9.

Sebagai pembuka, Henri menyatakan bahwa konsep gender yang dibangun dewasa ini memiliki makna yang negatif. “Gender memandang hubungan laki-laki dan perempuan sebagai hubungan hierarki kekuasaan, yang dibangun berdasarkan persaingan antagonis dan kebencian. Feminisme dan agama juga cenderung saling bertentangan dan membangkitkan emosi yang berdampak langsung kepada kehidupan seseorang,” paparnya.

Henri kemudian beralih ke penjelasan mengenai konsep gender dalam Islam, yang bertentangan dengan konsep gender yang dikemukakan oleh para feminis. 

“Kedudukan manusia dalam Islam tidak didasarkan pada jenis kelaminnya, tetapi tergantung taqwanya. Islam tidak menjadikan jenis kelamin sebagai basis ajarannya. Manusia juga dihisab berdasarkan amal, bukan gender. Selain itu, perbedaan peran gender dalam Islam tidak menentukan derajat ketinggian surga, dan lain-lain,” ujarnya.

Selain itu, Henri juga menjelaskan bahwa konsep gender yang dikemukakan oleh para feminis berdampak pada RUU P-KS yang belakangan gencar dipropagandakan untuk disahkan, yang mana hal ini akan memiliki dampak-dampak negatif. 

“Apabila RUU P-KS disahkan, dampaknya adalah adanya legalisasi prostitusi jika didasari kerelaan tanpa ada paksaan, adanya legalisasi aktivitas seks menyimpang jika didasari keikhlasan, dan istri bisa menganggap suami memerkosa apabila tidak didasari keikhlasan,” pungkasnya. 

Ditinjau dari sejarah terjadinya feminisme, Henri mengemukakan bahwa paham feminisme itu muncul dari ketertindasan dan kemarahan. Hal ini terjadi karena adanya inkuisisi terhadap perempuan yang dilakukan oleh pihak gereja di Barat. Inkuisisi tersebut terjadi karena didorong oleh pernyataan-pernyataan dalam Bibel yang menunjukkan bahwa perempuan merupakan makhluk yang inferior atau rendahan. [nafilatulfalah/ajeng/abe/islamedia]