Islam edia - Pembubaran paksa acara konser musik komunitas Punk oleh tim gabungan TNI/Polri, Satpol PP dan Wilyathul Hisbah di Ace...
Islamedia - Pembubaran paksa acara konser musik komunitas Punk oleh tim gabungan TNI/Polri, Satpol PP dan Wilyathul Hisbah di Aceh pada 10 Desember 2011 menyedot perhatian dunia. Karena bukan sekedar membubarkan, polisi juga membina 60-an anak Punk Aceh setelah sebelumnya menggunduli anggota kelompok yang terkenal dengan rambut mohawknya.
Beberapa kelompok menuding penggundulan anak Punk itu telah melanggar HAM. Media luar pun tak ketinggalan mengulas apa yang terjadi di Aceh. Solidaritas terhadap kawan-kawannya ditunjukkan oleh berbagai komunitas punk di daerah-daerah di Indonesia.
Menarik, rupanya di tengah komunitas yang dikenal urakan itu, terdapat sub komunitas yang bernama “Punk Muslim”. Pernah mendengar nama ini? Islamedia berhasil mengulas tentang Punk Muslim ini langsung dari orang yang terlibat di dalamnya.
Dia adalah Ahmad Zaki, seorang pembina komunitas Punk Muslim. Penasaran dengan kelompok tersebut? Mari, kita berkenalan dengan komunitas yang unik ini.
Bagaimana tanggapan anda dengan kasus pembinaan beberapa anak Punk di Aceh?
Menanggapi pertanyaan ini, maka perlu ada penjabaran definisi pembinaan. Ada penyamaan persepsi definisi, tujuan akhir, maupun langkah langkah pembinaan tersebut, atau setidaknya penyampaian. Pembinaan yang di lakukan oleh Pihak Kepolisian Aceh merupakan salah satu upaya kuratif yang represif kepada Punk Aceh, bukan preventif parsipatorif. Beberapa metode pembinaan dilakukan untuk dapat mengembalikan Punk Aceh ke dalam kondisi normal sesuai dengan norma dan etika masyarakat Aceh.
Pembinaan ini pun sebaiknya berkelanjutan, sehingga kawan –kawan punk yg dibina tidak terjebak lagi dengan pemahaman kekebasan dalam paradigma terbatas mereka.
Meskipun sebagian kawan kawan Punk tidak sepakat dengan pola pembinaan yg di tawarkan, namun saya kira jika kawan kawan Punk Aceh, menjalani dengan senang maka kita pun harus menghargai pilihan tersebut.
Pembinaan ini pun sebaiknya berkelanjutan, sehingga kawan –kawan punk yg dibina tidak terjebak lagi dengan pemahaman kekebasan dalam paradigma terbatas mereka.
Meskipun sebagian kawan kawan Punk tidak sepakat dengan pola pembinaan yg di tawarkan, namun saya kira jika kawan kawan Punk Aceh, menjalani dengan senang maka kita pun harus menghargai pilihan tersebut.
Anggapan orang bahwa polisi sudah melanggar hak asasi anak-anak Punk, apakah anda setuju?
Aceh, termasuk daerah dengan sistem adat istiadat yang cukup kuat, serta penerapan syari'at Islam pun sudah mulai di berlakukan disana. Ini yang kadang kawan-kawan tidak fahami. Tidak semua wilayah Punk dapat bersosialisasi dengan baik diterima masyarakat. Pun setiap wilayah di seluruh Indonesia memiliki cara yang berbeda terhadap bagaimana membina maupun bertoleransi dengan anak anak punk. Agar tidak mengakibatkan kerancuan pemahaman, maka perlu digarisbawahi mengenai pemahaman hak asasi manusia maupun seberasa besar bentuk toleransinya, pengertian toleransi sebagai kemampuan dan kerelaan untuk menerima segala bentuk perbedaan identitas pihak lain secara penuh, asalkan esensi ketertiban masyarakat tetap jalan dengan baik.
Apabila kawan kawan Punk bergesekan dengan masalah Kriminal yg menyangkut PIDANA atau merugikan kepentingan umum, jangankan di ACEH, dimanapun di seluruh Indonesia tentunya HARUS ditindak. Apalagi bila terbenturkan dengan Kewajiban Asasi Manusia yang sering terlalaikan. Harus balance bicara hak dan kewajiban.
Apabila kawan kawan Punk bergesekan dengan masalah Kriminal yg menyangkut PIDANA atau merugikan kepentingan umum, jangankan di ACEH, dimanapun di seluruh Indonesia tentunya HARUS ditindak. Apalagi bila terbenturkan dengan Kewajiban Asasi Manusia yang sering terlalaikan. Harus balance bicara hak dan kewajiban.
Punk, bagi menurut Punkers adalah gaya hidup. Mereka memilih jalanan dan ideologi anti kemapanan. Lalu anda hadir dengan sebuah alternatif: Punk Muslim. Sejauh apa penerimaan kelompok lain dalam dunia Punk?
Punk Muslim sudah eksis sejak 4 tahun lalu, sebagian kawan kawan Punk menerima baik kehadiran PUNK MUSLIM sebagai alternative kawan kawan Punk yang ingin nge-Punk dengan lebih memperjuangkan idealisme Islam dalam mengimplementasikan kehidupan sehari harinya. Namun ada juga yang menolak dengan mengatakan Punk dan Islam tidak bisa disatukan, yah tidak apa jika mereka berfikir seperti itu. Setiap manusia berhak mengeluarkan pendapat. Namun yang perlu digarisbawahi : mari lebih banyak berjuang berkontribusi dalam manfaat terhadap masyarakat dan sudah 4 tahun kawan kawan menjalani kehidupan sebagai Punk Muslim.
Hari ini ada 2 orang kawan Street Punk dari Jombang dan 3 orang kawan dari Jati asih singgah dan bermalam di markaz.
Anak Punk identik dengan rambut mohawk, celana ketat, dan juga tato. Apakah Punk muslim bergaya seperti ini juga?
Punk Muslim menjauhi diri dari Punk style karena Punk Muslim mengerti bahwa Punk Style hanya akan menjebak kawan kawan Punk Muslim dengan gaya hidup konsumerisme dan penuhanan label identitas yang tidak matang. Punk Muslim berpakaian menutup aurat. Sebagian kawan-kawan ada yang bertato. Setelah bergabung dengan Punk Muslim mulailah kawan kawan mengerti bagaimana memperjuangkan idealisme Islam dalam kehidupan sehari hari, diantaranya mencoba menutupi tato bahkan menghapus tato dan berkomitmen untuk bertaubat dan tidak menambah tato lagi.
Lalu ciri/identitas/nilai Punk yang diserap oleh Punk muslim itu apa?
Sebenarnya Punk tidak perlu identitas sebab dengan ‘rasa’, dengan ‘perjuangan’ ( kontribusi manfaat untuk rakyat marginal) . Saya pun secara pribadi menghormati teman teman punk yang masih menunjukkan identitas secara terang-terangan. Eksistensi terkadang masih menjadi kesilauan terbesar tidak hanya untuk Punk.
Pertanyaannya, apakah Punk mesti menunjukkan identitas? Harus tatoan? Piercing, Mabuk-mabukan? Mowhowk?
Punk Muslim beridentitas dalam Aqidah. Punk Muslim Sholat, Rajin Mandi (Agak Harum), menjauhi maksiat, dan peka dengan kondisi sosial-lingkungan dan dunia Islam. Bahkan Punk Muslim berjuang untuk hal tersebut, meskipun dalam kontribusi kecil : memakai kaos bertulis : Warning PUNK MUSLIM , udah tobat jangan di ajak maksiat, atau kaos dengan Tulisan : Buanglah Zionis di Tempat Sampah.
Pandangan masyarakat bahwa anak Punk itu pasti urakan dan ditunggangi ideologi tertentu, berarti salah ya? Tak semua anak Punk seperti itu?
Punk sekarang berbeda dengan Punk dulu. Ada pergeseran nilai dan ideologis. Punk yang sejatinya adalah budaya perlawanan sosial. Tidak menuhankan label dan identitas yang tidak matang, tidak hanya berkecimpung dalam eksistensi tanpa kontribusi, bahkan tidak mengerti makna dan esensi perjuangannya.
Kini malah banyak berjalan bersamaan dengan Industri Kapitalis, terutama di penerapan ideologis tersebut. Punk Amerika kini sudah medesakralkan Punk itu sendiri, yang akhirnya hanya bermain di Fashion dan Music. Tanpa perjuangan yang nyata untuk kehidupan sosial.
Kent McLard, seorang punkers dari Amerika mengatakan, ”Menentang arus, menjadi seorang anarkis, tinggal di gedung kosong pada usia 20-an tampaknya menjadi sebuah hal yang menyenangkan. Tetapi pada usia 30-an, tampaknya akan lebih menyenangkan apabila kita justru menceburkan diri kedalam arus dan mengikuti alurnya”
Kini malah banyak berjalan bersamaan dengan Industri Kapitalis, terutama di penerapan ideologis tersebut. Punk Amerika kini sudah medesakralkan Punk itu sendiri, yang akhirnya hanya bermain di Fashion dan Music. Tanpa perjuangan yang nyata untuk kehidupan sosial.
Kent McLard, seorang punkers dari Amerika mengatakan, ”Menentang arus, menjadi seorang anarkis, tinggal di gedung kosong pada usia 20-an tampaknya menjadi sebuah hal yang menyenangkan. Tetapi pada usia 30-an, tampaknya akan lebih menyenangkan apabila kita justru menceburkan diri kedalam arus dan mengikuti alurnya”
Kalau polisi di tempat lain ikut-ikutan membina anak Punk seperti di Aceh, apakah keberadaan anak Punk akan berkurang drastis?
Saya kira tidak ada korelasi antara pembinaan anak Punk oleh Polisi dengan jumlah anak Punk. Punk di indonesia tidak akan berkurang oleh karena grafiknya sejalan dengan angka kemiskinan dan rendahnya indeks pendidikan. Bagi masyarakat marginal, menjadi "Anak Punk" adalah trendsetter baru. Saya sarankan bahwa pembinaan yang dilakukan adalah pemecahan masalah yang tepat sesuai dengan akar permasalahan, dan pemerintah harus fokus dan berkelanjutan menangani masalah tersebut, dan bilapun bila bersinggungan kembali dengan kawan kawan Punk sebaiknya lebih parsipatorif. Tidak sebatas wacana yang kurang pas, seperti dalam penyelesaian masalah anak jalanan, dimana tujuan menzerokan anak jalanan dengan cara memindahkan mereka ke panti. Jadi anak panti dong namanya. Cuma beda tempat tempat. Nasib sama.
Di Aceh sudah ada Punk Muslim?
Akan ada insya Allah Segera. setelah advokasi dan tim mediasi Punk Muslim turun ke lapangan. Kawan-kawan Punk di Aceh sebagian sudah menunggu disana. Jaringan Punk Muslim di Aceh sudah ada hanya belum di deklarasikan. Dengan statement Punk tidak boleh ada di Aceh, bisa jadi Punk Muslim juga tidak boleh ada di aceh. Tapi Tunggu saja tanggal mainnya.
Di Medan, Punk Muslim sudah mendapat dukungan dari Aparat Satpol PP setempat dan sudah ada jaminan bila Punk Muslim di sana maka tidak akan menganggu ketentraman masyarakat setempat, karena mereka sudah mengerti siapa dan bagaimana Punk Muslim.
Apakah kasus di Aceh ini mempermudah komunitas Punk Muslim untuk melebarkan sayapnya?
Sebenarnya, bukan mempermudah, tapi memang sudah jadi kewajiban kawan2 di Punk Muslim untuk melebarkan sayap, kalo bisa dari ujung aceh sampai ujung papua. Karena Islam Rahmatan Lil 'alamin.
Rencana ke depan Punk Muslim seperti apa?
Insya allah akan ada pertemuan akbar jaringan Punk muslim se Indonesia – Malaysia Tahun 2012. Konsolidasi dan menyamakan misi visi gerakan. Kalau dalam waktu dekat, adalah deklarasi Punk muslim di daerah-daerah serta pembentukan Punk Muslim Army.
Satu hal yang perlu dipahami adalah bahwa kami Punk Muslim tidak hanya sebatas bermain di referensi mengenai Punk, ataupun definisi definisi, pelabelan dsb, namun agenda besar kami adalah memperjuangkan masyarakat marjinal, berjuang berkontribusi tanpa basa basi, serta memperjuangkan idealisme Islam.
Terakhir, pesan2 dari Punk muslim untuk pembaca Islamedia?
Untuk pembaca Islamedia, sudah saatnya masyarakat bergerak menciptakan perubahan lingkungan. Jangan apatis dan jangan masa bodo. Karena kelak bisa jadi orang-orang didekat kita lah yang mengalami degradasi moral, degrasi budaya dan tersesat dalam keburukan. Mencegah lebih murah dari pada mengobati, operasi, bahkan ICU. Kalo sudah dihadapi kondisi itu, menyesal nggak ada gunanya.
“Tidakkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya. Apakah kamu dapat menjadi pemelihara baginya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka itu lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” [Q,S. Al Furqan: 43-44]