Assalamu ‘Alaikum Ustadz, kalau anak atau kita yang belum aqiqah, apakah udah dewasa atau kita yang udah tua boleh aqiqah? (085245014x...
Assalamu ‘Alaikum Ustadz, kalau anak atau kita yang
belum aqiqah, apakah udah dewasa atau kita yang udah tua boleh aqiqah? (085245014xxx)
Jawaban:
Wa ‘Alaikum Salam wa Rahmatullah
wa Barakatuh.
Bismillah wash Shalatu was Salamu
‘Ala Rasulillah wa ‘Ala Aalihi wa Ashhabihi wa Man Waalah wa Ba’d:
Para ulama sepakat bahwa hari
ketujuh dari kelahiran bayi adalah paling utama (afdhal) unuk aqiqah,
tetapi mereka berbeda pendapat tentang aqiqah selain hari ketujuh, bolehkah
atau tidak. Kebanyakan ulama membolehkannya. Ada yang mengatakan sama sekali
tidak boleh dan jika dilakukan, maka itu bukanlah aqiqah. Sebagian lain ada
yang membolehkan pada hari ke 14 dan 21, ada pula yang membolehkan sebelum hari
ke tujuh, bahkan ada yang membolehkan kapan pun dia memiliki kemampuan,
walau sudah dewasa.
Dari Samurah bin Jundub, bahwa
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
كلُّ غلامٍ رهينةٌ بعقيقته: تذبح عنه يوم سابعه، ويحلق، ويسمى
“Setiap bayi digadaikan dengan aqiqahnya,
disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur kepalanya, dan diberikan
nama.” (HR. Abu Daud No. 2838. Ahmad No. 19382. Ad Darimi No. 2021. Al
Baihaqi, Syu’abul Iman, No. 8377.
Hadits ini shahih. Lihat Imam An Nawawi, Al Adzkar, No. 843.
Darul Fikr. Syaikh Al Albani, Irwa’ Al Ghalil No. 1165. Al Maktab Al
Islami. )
Imam Asy Syaukani mengomentari demikian:
فِيهِ مَشْرُوعِيَّةُ التَّسْمِيَةِ فِي الْيَوْمِ
السَّابِعِ وَالرَّدُّ عَلَى مَنْ حَمْلِ التَّسْمِيَةَ فِي حَدِيثِ سَمُرَةَ السَّابِقِ
عَلَى التَّسْمِيَةِ عِنْدَ الذَّبْحِ .
وَفِيهِ أَيْضًا مَشْرُوعِيَّةُ وَضْعِ الْأَذَى وَذَبْحِ الْعَقِيقَةِ
فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ .
“Dalam hadits ini terdapat pensyariatan
penamaan pada hari ketujuh, dan sebagai bantahan bagi pihak yang mengatakan
bahwa penamaan itu pada saat penyembelihan, dan disyariatkannya pula
menghilangkan gangguan (mencukur rambut), dan menyembelih aqiqah pada hari
itu.” (Nailul Authar , 5/135. Maktabah Ad Da’wah Al Islamiyah)
Imam Abu Thayyib Syamsul Azhim
Abadi,
memberikan syarah (penjelasan) demikian:
فِيهِ دَلِيل عَلَى أَنَّ وَقْت الْعَقِيقَة سَابِع الْوِلَادَة ، وَأَنَّهَا
لَا تُشْرَع قَبْله وَلَا بَعْده وَقِيلَ تَجْزِي فِي السَّابِع الثَّانِي وَالثَّالِث
لِمَا أَخْرَجَهُ الْبَيْهَقِيُّ عَنْ عَبْد اللَّه بْن بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ
النَّبِيّ أَنَّهُ قَالَ " الْعَقِيقَة تُذْبَح لِسَبْع وَلِأَرْبَع عَشْرَة وَلِإِحْدَى
وَعِشْرِينَ " ذَكَرَهُ فِي السُّبُل . وَنَقَلَ التِّرْمِذِيّ عَنْ أَهْل الْعِلْم
أَنَّهُمْ يَسْتَحِبُّونَ أَنْ تُذْبَح الْعَقِيقَة يَوْم السَّابِع فَإِنْ لَمْ يَتَهَيَّأ
فَيَوْم الرَّابِع عَشَر ، فَإِنْ لَمْ يَتَهَيَّأ عَقَّ عَنْهُ يَوْم إِحْدَى وَعِشْرِينَ
.
“Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa waktu aqiqah
adalah hari ke tujuh kelahiran. Sesungguhnya tidak disyariatkan sebelum dan
sesudahnya. Ada yang mengatakan: Sudah mencukupi dilakukan pada hari ke 14 dan
21, sebab telah dikeluarkan oleh Imam Al Baihaqi dari Abdullah bin Buraidah,
dari Ayahnya, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:
‘Aqiqah disembelih pada hari ke- 7, 14, dan 21.’ Hadits ini disebutkan dalam kitab
Subulus Salam. Imam At Tirmidzi mengutip dari para ulama bahwa mereka
menyukai menyembelih aqiqah pada hari ke 7, jika dia belum siap maka hari ke
14, jika dia belum siap maka di hari ke 21.” (‘Aunul Ma’bud, 8/28.
Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)
Para Imam Ahlus Sunnah pun
membolehkan aqiqah dilakukan setelah hari ketujuh kelahiran. Berikut
keterangannya:
قال أبو داود في كتاب المسائل سمعت أبا عبد الله يقول العقيقة تذبح يوم
السابع وقال صالح بن أحمد قال أبي في العقيقة تذبح يوم السابع فإن لم يفعل ففي أربع
عشرة فإن لم يفعل ففي إحدى وعشرين وقال الميموني قلت لأبي عبد الله متى يعق عنه قال
أما عائشة فتقول سبعة أيام وأربعة عشرة ولأحد وعشرين وقال أبو طالب قال أحمد تذبح العقيقة
لأحد وعشرين يوما انتهى
“Abu Daud mengatakan dalam kitab Al
Masail, aku mendengar Abu Abdillah (Imam Ahmad) berkata: Aqiqah disembelih
pada hari ke 7. Berkata Shalih bin Ahmad: “Ayahku (Imam Ahmad) berkata tentang
aqiqah, bahwa disembelih pada hari ke 7, jika belum melaksanakannya maka hari
ke 14, dan jika belum melaksanakannya aka hari ke 21. Berkata Al Maimuni: Aku
bertanya kepada Abu Abdillah, kapankah dilaksanakannya aqiqah? Dia menjawab:
‘Ada pun ‘Aisyah mengatakan pada hari ke 7, 14, dan 21.’ Berkata Abu Thalib:
Imam Ahmad berkata aqiqah disembelih pada satu hari, hari ke 21. Selesai.” (Imam
Ibnul Qayyim, Tuhfatul Maudud, Hal. 43. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)
Imam Ibnul Qayyim juga
menceritakan bahwa Imam Hasan Al Bashri mewajibkan aqiqah pada
hari ketujuh. Imam Laits bin Sa’ad mengatakan bahwa aqiqah dilakukan pada hari
ketujuh kelahiran, jika belum siap, boleh saja dilakukan pada hari setelahnya,
dan bukan kewajiban aqiqah pada hari ketujuh. Sementara Abu Umar (Ibnu Abdil
Bar) mengatakan bahwa Imam Laits bin Sa’ad mewajibkan aqiqah hari ketujuh.
Semenara ‘Atha lebih menyukai aqiqah dilakukan hari ketujuh dan mengakhirkannya hingga hari ketujuh
selanjutnya (hari ke 14). Ini juga pendapat Ahmad, Ishaq, dan Asy Syafi’i,
Malik tidak menambahkan hingga hari ke 14, sementara menurut Ibnu Wahhab tidak
mengapa hingga hari ke 21. Ini juga pendapat Aisyah, ‘Atha, Ishaq, dan Ahmad. (Ibid,
Hal. 44)
Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:
والذبح
يكون يوم السابع بعد الولادة إن تيسر، وإلا ففي اليوم الرابع عشر وإلا ففي اليوم الواحد
والعشرين من يوم ولادته، فإن لم يتيسر ففي أي يوم من الايام. ففي حديث البيهقي: تذبح
لسبع، ولاربع عشر، ولاحدي وعشرين.
“Penyembelihan
dilakukan pada hari ke tujuh setelah kelahiran jika dia lapang, jika tidak maka pada hari ke 14,
jika tidak maka hari ke 21 dari hari kelahirannya. Jika masih sulit, maka bisa
lakukan di hari apa pun. Dalam Hadits Al Baihaqi: “disembelih pada hari ke 7,
14, dan 21.” (Fiqhus Sunnah, 3/328. Darul Kitab Al ‘Arabi)
Demikian perselisihan ini, bahkan ada pula yang mengklaim
bahwa secara ijma’ (aklamasi) tidak boleh aqiqah pada hari sebelum dan
sesudah hari ke 7. Namun klaim ini lemah dan
bertentangan dengan realita perselisihan yang ada.
Berkata Imam Asy Syaukani Rahimahullah:
وَنَقَلَ صَاحِبُ الْبَحْرِ عَنْ الْإِمَامِ يَحْيَى أَنَّهَا لَا تُجْزِئُ
قَبْلَ السَّابِعِ وَلَا بَعْدَهُ إجْمَاعًا وَدَعْوَى الْإِجْمَاعِ مُجَازَفَةٌ مَا
عَرَفْت مِنْ الْخِلَافِ الْمَذْكُورِ .
“Pengarang Al Bahr mengutip dari
Imam Yahya, bahwa menurut ijma’ aqiqah tidaklah sah dilakukan sebelum
dan sesudah hari ke 7. Namun, klaim adanya ijma’ ini hanyalah
prasangkaan semata, tidakkah Anda mengetahui perselisihan yang sudah
disebutkan.” (Nailul Authar, 5/133. Maktabah Ad Da’wah Al Islamiyah)
-
Bolehkah
Aqiqah setelah Dewasa?
Para
ulama berbeda pendapat, antara membolehkan dan tidak. Mereka yang melarang
beralasan bahwa hadits tentang bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam pernah mengaqiqahkan dirinya setelah dewasa adalah dhaif.
Dari Anas bin Malik, katanya:
عق رسول الله صلى الله عليه وسلم عن نفسه
بعد ما بعث بالنبوة
“Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam mengaqiqahkan dirinya setelah beliau diangkat menjadi
nabi.” (HR. Abdurrazaq, No. 7960)
Hadits ini sering dijadikan dalil
bolehnya aqiqah ketika sudah dewasa. Shahihkah hadits ini?
Sanad hadits ini dhaif.
Dalam sanadnya terdapat Abdullah bin Muharrar. Para Imam Ahli hadits
tidaklah menggunakan hadits darinya.
Yahya bin Ma’in mengatakan, Abdullah
bin Muharrar bukanlah apa-apa (tidak dipandang). Amru bin Ali Ash Shairafi
mengatakan, dia adalah matrukul hadits (haditsnya ditinggalkan). Ibnu
Abi Hatim berkata: Aku bertanya kepada ayahku (Abu Hatim Ar Razi) tentang Abdullah
bin Muharrar, dia menjawab: matrukul hadits (haditsnya
ditinggalkan), munkarul hadits (haditsnya munkar), dan dhaiful hadits
(haditsnya lemah). Ibnul Mubarak meninggalkan haditsnya.
Abu Zur’ah mengatakan, dia adalah
dhaiful hadits. (Imam Abdurrahman bin Abi Hatim, Al Jarh wat Ta’dil,
5/176. Dar Ihya At Turats)
Sementara Imam Bukhari
mengatakan, Abdullah bin Muharrar adalah munkarul hadits. (Imam
Bukhari, Adh Dhu’afa Ash Shaghir, Hal. 70, No. 195. Darul Ma’rifah)
Muhammad bin Ali Al Warraq
mengatakan, ada seorang bertanya kepada Imam Ahmad tentang Abdullah bin
Muharrar, beliau menjawab: manusia meninggalkan haditsnya. Utsman bin Said
mengatakan: aku mendengar Yahya berkata: Abdullah bin Muharrar bukan orang yang
bisa dipercaya. (Al Hafizh Al Uqaili, Adh Dhu’afa, 2/310. Darul Kutub
Al ‘ilmiyah)
Imam An Nasa’i mengatakan,
Abdullah bin Muharrar adalah matrukul hadits (haditsnya ditinggalkan).
(Imam An Nasa’i, Adh Dhu’afa wal Matrukin, Hal. 200, No. 332)
Imam Ibnu Hibban mengatakan,
bahwa Abdullah bin Muharrar adalah diantara hamba-hamba pilihan, sayangnya dia
suka berbohong, tidak mengetahui, dan banyak memutarbalik-kan hadits, dan tidak
faham. (Imam Az Zaila’i, Nashb Ar Rayyah, 1/297)
Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan
bahwa Abdullah bin Muharrar adalah seorang yang dhaif jiddan (lemah
sekali). (Imam Ibnu Hajar,Talkhish Al Habir, 4/362. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)
Ada
pun ulama yang mendhaifkan hadits ini adalah Al Hafizh Ibnu Hajar, Imam An
Nawawi menyebutnya sebagai hadits batil, sedangkan Imam Al Baihaqi
menyebutnya hadits munkar. (Ibid)
Oleh
karena itu, dengan dasar dhaifnya hadits ini, ulama kalangan Malikiyah dan sebagain
Hambaliyah melarang aqiqah ketika sudah dewasa.
Tetapi, banyak pula imam kaum muslimin yang membolehkan. Sebab hadits di atas memiliki beberapa syawahid
(saksi penguat), sehingga terangkat menjadi shahih.
Pertama, hadits
yang diriwayatkan oleh Imam Abu Ja’far Ath Thahawi dalam Kitab Musykilul
Atsar No. 883:
Berkata kepada kami Al Hasan bin
Abdullah bin Manshur Al Baalisi, berkata kepada kami Al Haitsam bin Jamil,
berkatakepada kami Abdullah bin Mutsanna bin Anas, dari Tsumamah bin Anas, dari
Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu,
katanya:
أن النبي صلى الله عليه وسلم عق عن نفسه بعدما
جاءته النبوة
Bahwa Nabi
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengaqiqahkan dirinya setelah datang kepadanya
nubuwwah (masa kenabian).
Kedua, hadits
yang diriwayatkan oleh Imam Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Awsath
No. 994:
Berkata kepada kami Ahmad,
berkata kepada kami Al Haitsam (bin Jamil), berkata kepada kami Abdullah (bin
Mutsanna), dari Tsumamah, dari Anas bin
Malik Radhiallahu ‘Anhu, katanya:
أن النبي عق عن نفسه بعد ما بعث نبيا
Bahwa Nabi
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengaqiqahkan dirinya sendiri setelah diutus
sebagai nabi
Ketiga,
diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hazm dalam kitab Al Muhalla, 7/528, Darul
Fikr:
Kami meriwayatkan dari Ibnu Aiman,
berkata kepada kami Ibrahim bin Ishaq As Siraaj, berkata kepada kami ‘Amru bin
Muhammad An Naaqid, berkata kepada kami Al Haitsam bin Jamil, berkata kepada
kami Abdullah bin Al Mutsanna bin Anas, berkata kepada kami Tsumamah bin
Abdullah bin Anas, dari Anas, katanya:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَقَّ،
عَنْ نَفْسِهِ بَعْدَمَا جَاءَتْهُ النُّبُوَّةُ
Sesungguhnya
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengaqiqahkan dirinya sendiri setelah
datang kepadanya masa kenabian.
Syaikh Al Albani memberikan
komentar tentang semua riwayat penguat ini:
قلت : و هذا إسناد
حسن رجاله ممن احتج بهم البخاري في " صحيحه " غير الهيثم ابن جميل ، و هو ثقة حافظ من شيوخ الإمام أحم
Aku berkata: Isnad hadits ini
hasan, para perawinya adalah orang-orang yang dijadikan hujah oleh Imam Bukhari
dalam Shahihnya, kecuali Al Haitsam bin Jamil, dia adalah terpercaya,
seorang haafizh, dan termasuk guru dari Imam Ahmad. (As Silsilah
Ash Shahihah, 6/502)
Sehingga, walau sanad hadits
riwayat Imam Abdurrazzaq adalah dhaif –karena di dalamnya ada Abdullah bin Muharrar yang telah disepakati
kedhaifannya- Syaikh Muhammad
Nashiruddin Al Albani menshahihkan hadits ini dengan status SHAHIH LI
GHAIRIHI, karena beberapa riwayat di atas yang menguatkannya. (Ibid)
Ulama yang membolehkan aqiqah ketika sudah dewasa adalah Imam Muhammad bin Sirin, Al
Hasan Al Bashri, Atha’, sebagian Hambaliyah dan Syafi’iyah.
Imam Ahmad ditanya tentang bolehkah seseorang mengaqiqahkan
dirinya ketika sudah dewasa? Imam Ibnul Qayyim menyebutkan dalam kitabnya
sebagai berikut:
وقال أن
فعله إنسان لم أكرهه
“Dia (Imam Ahmad)
berkata: Aku tidak memakruhkan orang yang melakukannya.” (Imam Ibnul Qayyim,
Tuhfatul Maudud, Hal 61. Cet. 1. 1983M-1403H. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)
Imam Muhammad bin Sirrin berkata:
لَوْ أَعْلَمُ أَنَّهُ لَمْ يُعَقَّ عَنِّي ،
لَعَقَقْتُ عَنْ نَفْسِي.
Seandainya aku tahu aku belum
diaqiqahkan, niscaya akan aku aqiqahkan diriku sendiri. (Al Mushannaf
Ibnu Abi Syaibah No. 24718)
Imam Al Hasan Al Bashri berkata:
إذا لم يعق عنك ، فعق عن نفسك و إن كنت رجلا
Jika dirimu belum diaqiqahkan,
maka aqiqahkan buat dirimu sendiri, jika memang kamu adalah laki-laki. (Imam
Ibnu Hazm, Al Muhalla, 8/322)
Dan, inilah pendapat yang lebih
kuat, Insya Allah. Hanya saja di negeri kita umumnya, memang tidak lazim aqiqah ketika sudah dewasa.
Aquulu qauliy
haadza wa astaghfirullahu liy wa lakum ...
Wallahu A’lam
Ustadz Farid Nu'man Hasan