Habib Salim Yang Saya Kenal


habib salim
Islamedia Alhamdulillah dengan rahmat Allah, saya sudah kenal Habib Salim Segaf Al Jufri lebih dari 25 tahun lalu. Beliau adalah cucu dari ulama besar Palu, Sayyid Idrus bin Salim Al Jufrie atau disebut 'Guru Tua' pahlawan dan penyebar ajaran Islam di Indonesia Timur. 

Perkenalan saya dengan beliau, selaku murid dengan guru. Karena beliau adalah dosen saya di LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) Jakarta. Mengajar di LIPIA selama kuliah disana. Beliau dosen Fiqih, kajiannya mendalam, sangat menguasai perbandingan madzhab, dan beliau konsisten dengan madzhab As-Syafi'i, walaupun tidak fanatik.

Nasab dan akhlaknya bersambung dengan nasab dan akhlak Rasulullah SAW. Beliau santun, ramah dan pemurah. Tidak pernah marah kecuali jika ada pelanggaran Syariah. Selama berinteraksi dengan beliau, saya tidak pernah dimarahi, kecuali kalau terkait dengan Syariah.

Tidak banyak ulama yang terkumpul padanya, nasab, iman, akhlak, ilmu, ibadah, amal shaleh dan jihad. Saya tidak mensucikan seorang pun pada Allah-, tapi itulah yang saya lihat. Karena beliau keturunan Rasul saw dan belajar langsung di kota Nabi saw Madinah Munawwaroh dari S1 sampai S3.

Di masa menjelang Reformasi, alhamdulillah saya dapat berkhidmah pada beliau dalam sebuah lembaga Kajian Fiqih di Condet Jakarta. Jika bulan Ramadhan tiba, beliau fokus beribadah dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW, beri'tikaf di 10 hari terakhir Ramadhan. Masjid Al Khairat Condet adalah masjid yang pertama mengadakan I'tikaf di Jakarta dan beliau pimpin langsung.

Pada saat Reformasi, saya menyaksikan sendiri beliau ikut demo 1998. Dan di malam mencekam tgl 20 Mei. Beliau melihat langsung kondisi lapangan bersama bapak Reformasi Amien Rais. Hari yang sangat bersejarah, karena terjadi suksesi kepemimpinan nasional dengan relatif damai. 

Di Era Partai, beliau bersama qiyadah dakwah lain mendirikan Partai Keadilan, dan beliau mendapat amanah menjadi ketua Dewan Syariah Pusat PK, saya ikut berkhidmah di dalamnya. Masukan dan arahan Habib Salim sangat dipertimbangkan oleh Qiyadah PK dan PKS, khususnya dalam masalah yang strategis, termasuk dalam proses pergantian presiden mulai dari Soeharto sampai sekarang.

Hari-hari dilalui beliau antara ilmu, amal dan dakwah. Sampai amanah datang kepada beliau menjadi Duta Besar RI untuk Saudi Arabia dan Oman. Kemudian Menteri Sosial RI di masa Presiden SBY. Banyak kisah bagaimana beliau menyantuni fakir, miskin dan duafa bahkan tidak segan bermalam bersama mereka.

Kemudian, amanah berikutnya datang lebih berat lagi menjadi ketua Majelis Syuro PKS menggantikan Ustadz Hilmi Aminuddin, sebuah jabatan tertinggi di PKS. Beliau terimanya dengan berat hati karena memang kondisi Partai sedang berat. Bahkan Habib Salim tidak bisa menghentikan linangan airmatanya menerima amanah ketua MS PKS tersebut.

Beliau jalani amanah ketua MS dengan penuh ikhlas dan pengorbanan yang totalitas. Walau ada riak-riak ketidak puasan bahkan ketidak percayaan sebagian kader. Anehnya, dari sebagian muridnya sendiri. Semoga Allah memberikan hidayah dan rahmat-Nya pada kami sebagian muridnya.

Dalam kondisi berat tersebut. Namanya, kemudian disebut para ulama yang berijtima' menjadi salah satu cawapres untuk mendampingi capres Pak Prabowo. Semoga Allah memberi karunia kepada negeri ini, negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia, dipimpin salah seorang keturunan Rasul saw. Ya Allah turunkan kepada rahmat dan berkah-Mu pada kami bangsa Indonesia. Amiiin

Akhirnya, semoga Habib Salim diberikan kekuatan dan kesehatan berkhidmah menjalankan amanah Allah. Kami mohon maaf atas kesalahan dan kelemahan kami. Muridmu.

Ditulis oleh Usadz Iman Santoso


[islamedia]