Perlunya Mengkritik Sejarah Islam


Islamedia Fitnah Kubro adalah suatu fase dalam sejarah Islam yang kemudian menjadi peristiwa yang memberikan pengaruh besar umat Muslim sampai saat ini,” ucap Ahmad Rofiqi saat mengawali materi perkuliahan “Fitnah Kubro” di Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakata pada Rabu (14/03), pukul 18.30 WIB, bertempat di aula INSISTS, Kalibata, Jakarta.

Mantan kepala Sekolah Alam Jatinangor ini mengatakan bahwa kebanyakan sejarah Islam pada masa Khulafaurrasyidin yang ada di buku sekolah saat ini justru menyudutkan para sahabat. Ini disebabkan oleh fitnah kubro yang terjadi setelah Khalifah Umar bin Khattab wafat. Penulisan sejarah yang ditulis di buku-buku sekolah tersebut ternyata diriwayatkan oleh golongan Syiah yang merupakan para pembenci para Sahabat yang bukan ahlul bait.

Materi Fitnah Kubro ini dapat meluruskan beberapa asumsi atau referensi yang salah mengenai sejarah di fase tersebut,” ucap Dewi yang merupakan salah satu peserta SPI Jakarta.

Menurut Rofiqi, dalam membaca sebuah sejarah, pembacalah yang seharusnya bertanggung jawab dalam menyeleksi informasi. Pembaca harus teliti dalam melihat suatu riwayat. “Jika riwayatnya dari orang Syiah dan yang diriwayatkannya tidak berhubungan dengan Islam, umat Islam masih boleh menerima informasi tersebut. Tapi jika sejarah yang dibicarakannya malah menyudutkan para sahabat, itu sangat jelas tidak bisa diterima,” jelas Rofiqi.

Mantan penerjemah di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tripoli, Libya ini seringkali menegaskan bahwa pertikaian dan konflik yang terjadi pada fase fitnah kubro ini sama sekali tidak mempengaruhi kewibawaan dan kejayaan Islam pada saat itu. “Fase fitnah kubro ini bisa menjadi pelajaran bagi umat Islam saat ini dalam menyikapi fitnah-fitnah yang muncul pada saat ini, sehingga Islam bisa tetap berjaya,” tutur Rofiqi. [islamedia/hayati/abe]