Hilangnya Sejarah Islam Akibat Nativisasi



Islamedia Ajakan untuk kembali kepada budaya asli belakangan ini sering digaungkan seiring pengaruh globalisasi. Tetapi, budaya yang diklaim sebagai budaya asli itu jauh dari nilai Islam. 

Upaya seperti ini disebut dengan nativisasi. Nativisasi adalah upaya mengembalikan kebudayaan lokal namun menghilangkan pengaruh Islam di Indonesia,” ungkap Beggy Rizkiyansyah selaku pengajar kuliah “Nativisasi” di Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta, Rabu (07/03) di Aula INSISTS, Kalibata.

Mencitrakan Islam sebagai produk asing yang harus dimurnikan dari nilai asli adalah salah satu cara nativisasi. Kaum kolonialis melakukan propaganda lewat pendidikan dan bahasa. Berbagai suku asli di Indonesia pun terkena dampaknya seperti Batak, Sunda, Jawa, Bali dan Minahasa.

Sunda, misalnya. Orang Sunda dianggap tidak punya sastra hanya karena dalam pandangan Barat sastra itu harus dituliskan. Sementara bagi orang Sunda, sastra itu berupa syair-syair yang dihapalkan. Sebenarnya ada yang tertulis, namun dalam aksara Arab pegon. Kemudian ini dianggap sakral, disimpan dan sulit ditemukan,” jelas Beggy yang juga pendiri situs jejakislam.net ini.

Nativisasi juga terjadi lewat penguasaan teknologi. Saat penjajah kolonial membawa mesin cetak, aksara yang tersedia untuk percetakan saat itu hanyalah aksara latin. Arab pegon lalu mulai sirna seiring tidak adanya sarana cetak. Upaya latinisasi bahasa asli juga mendukung hilangnya kemurnian budaya. Padahal bahasa Indonesia tidak terlepas dari bahasa Melayu dan Arab. 

Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta


Mereka (penjajah kolonial) bilang tradisi tidak boleh dicampuri, ngakunya melestarikan, nyatanya mereka sendiri yang menentu-nentukan dengan standar mereka,” Beggy menyimpulkan.

Fauziah Ridha, salah seorang peserta SPI Jakarta Angkatan ke-7, melihat bahwa nativisasi sebenarnya masih berlangsung hingga kini. Ia memandang nativisasi sebagai hal negatif. “Ini kan jadi menegatifkan Islam. Bahaya untuk orang awam, jadi (memudahkan mereka) dirasuki budaya Barat,” jelasnya. Akan tetapi, Ridha tidak ingin anti terhadap budaya, melainkan ingin mempelajarinya lebih dalam lagi. [islamedia/abe/putri]