Hakim : Asma Dewi Divonis Bersalah karena Gunakan Kata "Koplak" dan "Edun"


Islamedia Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta akhirnya memvonis Asma Dewi dengan hukum pidana 5 bulan 15 hari.

Vonis dijatuhkan kepada Asma dikarenakan melanggar Pasal 207 KUHP terkait penghinaan pada penguasa atau badan hukum. 

Hukuman itu dikurangi lamanya masa tahanan yang telah dijalani Dewi sebelum perkaranya diputus majelis hakim.

"Menjatuhkan pidana atas terdakwa itu dengan pidana penjara selama 5 bulan 15 hari," ujar Ketua Majelis Hakim Aris Bawono membacakan surat putusan di ruang sidang 4 Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, seperti dikutip dari tribunnews, kamis(15/3/2018).

Hal yang memberatkan yakni Dewi dinilai tidak menghormati alat-alat kekuasaan negara. Sementara hal yang meringankan adalah Dewi bersikap sopan selama persidangan, tidak menyulitkan jalannya persidangan, dan belum pernah dihukum sebelumnya.

Majelis hakim memutuskan Dewi melanggar Pasal 207 KUHP karena penggunaan kata "koplak" dan "edun" dalam postingannya di Facebook.

Asma menggunakan kedua kata tersebut untuk mengkritik mahalnya harga daging dan pemerintah yang dianggapnya tidak memberikan solusi.

Namun, majelis hakim menganggap kata koplak dan edun bukanlah bentuk kritikan, melainkan penghinaan. "Kritik yang baik dan sifatnya membangun bukanlah dengan kata-kata koplak atau edun yang dapat dikategorikan menghina dari pasal ini (Pasal 207 KUHP)," kata Aris.

Ia mengatakan, kata koplak dan edun tidak ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Majelis hakim berpandangan kedua kata itu berkonotasi negatif dan bentuk penghinaan.

"Koplak bisa mempunyai banyak arti, dapat diartikan bodoh, dungu, aneh, otak miring sebelah. Sedangkan edun, menurut hemat majelis, plesetan dari kata edan," ucapnya.

Setelah divonis bersalah oleh Majelis Hakim, Asma nampak menangis, beberapa saat kemudian dengan mata memerah, dia lalu tampak tersenyum.

"Alhamdulillah ya hakim masih mempunyai hati nurani walaupun... pokoknya alhamdulillah," kata Dewi.[islamedia].