Menggali Sumber Ajaran Syiah yang Sebenarnya




Islamedia - Peristiwa Fitnah Kubro di akhir masa Khulafaur Rasyidin meninggalkan parasit dalam tubuh umat, satu diantaranya adalah Syi’ah. Kini, kehadirannya telah mengakar selama 1.400 tahun. Pertanyaannya, mengapa Syi’ah muncul? Darimana ia berasal? Apakah ajaran dasarnya berasal dari Islam?

Ungkapan retoris ini disampaikan oleh Asep Sobari, Lc. saat membuka materi perkuliahan ke-14 Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta pada hari Rabu (07/09) silam. Tema “Sejarah dan Doktrin Syi’ah” yang diangkat merupakan kelanjutan dari materi sebelumnya yang merupakan tema krusial dalam sejarah Islam, “Fitnah Kubro”.
Jawaban dari tiga pertanyaan mendasar ini akan mengungkap hakikat Syi’ah,” tegas Asep lagi..
Alumni Islamic University of Madinah ini menjelaskan bahwa kesinambungan dan kesatupaduan dakwah Islam antara masa Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin merupakan hal yang fundamental di dalam ajaran Islam.
Bahkan ketetapan para sahabat telah dijadikan sumber utama setelah Qur’an dan Sunnah, yaitu berupa ijma’ sahabat,” tutur Asep menambahkan. Menurutnya, ini menjadi petunjuk bahwa ajaran baru yang muncul di luar jalur pada masa itu merupakan penyimpangan.
Mengenai latar belakang kemunculan Syi’ah, Asep menjelaskan sebuah tantangan yang dihadapi umat saat itu dengan munculnya ideologi asing yang mulai berkembang di wilayah akar rumput umat, terutama di wilayah bekas Persia dan Romawi yang baru dikuasai Islam, misalnya Irak dan Mesir. “Runtuhnya Persia meninggalkan golongan yang tidak senang terhadap Islam dan mencoba mengubah arah perlawanan dengan gerakan pemikiran,” tutur Asep.
Kemunculan ajaran asing di luar kalangan sahabat  merupakan indikasi adanya intervensi ideologi di tengah umat Islam yang tidak bersumber dari ajaran Islam. Dan Syi’ah adalah ancaman ideologi eksternal yang bukan berasal dari Islam, sekalipun secara tampilan fisik adalah muslim,” tuturnya.
Menurut Asep, hal ini dapat dibuktikan dengan maraknya gerakan zindiq atau kamuflase identitas keislaman oleh orang-orang kafir, yang marak pada masa sahabat menjelang munculnya Syi’ah. Gerakan ini dipelopori oleh Abdullah bin Saba’ dari Yaman yang awalnya adalah Yahudi.
Pendiri Sirah Community Indonesia (SCI) ini kemudian menjelaskan bahwa ajaran dasar Syiah merupakan gabungan dari beberapa keyakinan, salah satunya berasal dari ajaran kebatinan Yahudi, yaitu persenyawaan antara unsur manusia dan Tuhan. Hal ini, menurutnya lagi, tercatat dalam sejarah, yakni ketika muncul sekelompok orang yang mengkultuskan Ali bin Abu Thalib di masa pemerintahannya, sehingga Ali pun menghukum mereka dengan hukuman bakar.
Selain pengaruh Yahudi, Syi’ah juga dilatari oleh gerakan Saba’iyah dan mengalami internalisasi ide-ide dari gerakan tersebut. “Pengaruh lain Syi’ah berasal dari syubhat Saba’iyah yang mengajarkan tentang kepemimpinan ilahiyah, dimana pemimpin umat hingga zaman akhir telah ditunjuk berdasar ketentuan wahyu,” tambah Asep. Hal ini, lagi-lagi, mengarah kepada sosok Ali bin Abi Thalib.
Menurutnya, dalil-dalil yang dipakai sebagai justifikasi terambil dari Qur’an dan beberapa riwayat sejarah, namun semua berada di luar ketetapan hukum, sikap dan pendirian para sahabat, termasuk Ali sendiri. Di kalangan Syi’ah pun terdapat perbedaan mengenai siapa saja imam yang ditunjuk oleh wahyu tersebut hingga mereka terpecah lagi menjadi beberapa golongan.
Salah seorang peserta, Miftahul Fikri, memberikan tanggapan terhadap materi ini. “Persoalan inti dan pokok tentang Syi’ah selama ini kurang diketahui, karena yang banyak diangkat oleh mereka adalah hal-hal di permukaan yang ada kesamaannya dengan kita. Mendalami tentang hakikat Syi’ah perlu dilakukan untuk mengetahui letak penyimpangannya,” ungkapnya. [islamedia/ali/abe]