Sekularisme, Buah Trauma Barat Terhadap Agama


Islamedia Kuliah Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta angkatan 2017 kembali digelar. Perkuliahan yang sudah masuk dalam pertemuan ke-11 ini dibuka dengan mengangkat tema “Sekularisme”. Akmal Sjafril atau yang akrab dipanggil kang Akmal kembali didampuk menjadi pembicara.

Pada hari Rabu, 16 Agustus 2017, atau satu hari sebelum hari peringatan Kemerdekaan Indonesia yang ke-72, di aula INSISTS, Jalan Kalibata Utara II, perkuliahan yang dihadiri oleh kurang lebih 50 peserta ini digelar secara tertutup. 

Pada abad 5-15 Masehi, Eropa yang sebelumnya sudah hidup dalam kemakmuran mengalami kemunduran drastis dalam kualitas hidup. Salah satunya bisa dilihat dari pola hidup masyarakat Eropa yang begitu sulit mendapatkan akses air bersih. Ironisnya, jaman kegelapan itu terjadi ketika Gereja sedang memegang kekuasaan tertinggi dan tanpa batas,” ungkap Akmal. 

Gereja mendirikan sebuah lembaga inkuisisi yang bertugas menjaga doktrin gereja, sehingga yang melenceng dari aturan Gereja akan disiksa dengan berbagai alat penyiksaan. Masih ada dua hal lagi yang membuat masyarakat barat memilih sekularisme selain sejarah penyiksaan tersebut, yaitu problem teks Bibel dan problem teologis yang sangat sulit untuk dipahami,” tambah pria yang telah memiliki seorang anak ini.

Dengan segala fenomena tersebut, Barat pun memutuskan bahwa sekularisme adalah sebuah keniscayaan. 

Di tempat yang sama, Rikzan Akbar, salah seorang peserta yang juga mahasiswa semester akhir di salah satu universitas swasta di Depok ini mengungkapkan pendapatnya tentang perkuliahan kali ini. “Sangat bermanfaat, saya jadi mengetahui asal mula sekularisme dan bagaimana cara pikir yang menyimpang di dalamnya,” ungkap Rikzan. [islamedia/ananto/abe]
close
Banner iklan disini