Kisah Bantuan dari PKS yang “DITOLAK”

Islamedia - Jika berbicara tentang partai yang paling rajin membantu saat bencana datang, maka salah satu yang menjadi referensi adalah PKS. Partai ini telah merubah arti sebuah partai, dari sekedar peserta pemilu dan pengisi gedung parlemen menjadi sebuah gerakan yang selalu dekat dan melayani. kapanpun dan dalam situasi apapun. menjelang pemilu atau sesaat setelah pemilu, partai ini selalu berusaha membantu walau masih terbatas sumber daya.

Tapi tahukah kawan ? Sebenarnya masyarakat tak selalu memandang positif kinerja PKS dalam urusan membantu korban bencana. Saya pernah mengalami langsung penolakan masyarakat kala dibantu PKS.


**
Maret 2007.
Pagi itu saya hendak berangkat kerja. Sepeda motor telah siap ditunggangi. Jas hujan telah dikenakan dan secangkir teh telah menghangatkan tubuh. Tiba-tiba ada sms masuk. Bunyi smsnya kira-kira. “Mohon segera merapat ke DPD, kita harus turun membantu korban banjir, sebarkan !”

Sms singkat itu menghentikan langkah saya menuju tempat kerja. Seragam kerja diganti kaos cokelat kepanduan. Sms pun saya bagikan ke rekan PKS lainnya. Sepanjang perjalanan, saya membayangkan kondisi apa yang akan dihadapi. Mengingat itu adalah pengalaman pertama saya membantu korban bencana banjir.

Sesampainya di kantor DPD PKS Kabupaten Bekasi di daerah Tambun, telah ada beberapa orang lainnnya yang telah bersiap siaga, juga tim kesehatan dari Bandung. Beberapa kader PKS yang datang adalah mereka yang baru saja pulang bekerja shift malam. Luar biasa semangat mereka. Pulang kerja bukannya menghabiskan siang di rumah didampingi keluarga dan menikmati hujan, justru datang ke kantor PKS untuk turun membantu korban banjir.

Waktu itu kami dibagi kedalam tiga tim. Tim pertama diturunkan membantu korban banjir di sekitar Tambun. Tim kedua menuju daerah utara dan tim ketiga menuju daerah timur Kabupaten Bekasi. Tepatnya di Kecamatan Cabangbungin, daerah yang menjadi perbatasan dengan kabupaten Karawang.

Informasi yang kami terima, ada tanggul sungai Citarum yang jebol di sekitar Cabangbungin. Saya memilih ikut tim yang dirunkan di Cabangbungin. Kami membawa beberapa dus mie instan, obat-obatan berikut perlengkapan medis serta satu buah perahu karet yang ditaruh diatas kap mobil.

Sesampainya di lokasi, kami telah disambut relawan lokal. Seorang ketua PKS Kecamatan Cabangbungin dan seorang guru SD. Yang kami lihat hanyalah hamparan air yang menutupi pesawahan. Dari kejauhan tampak air sungai terus mengalir dari tanggul yang jebol.

Relawan lokal mengarahkan kami untuk membantu evakuasi penduduk dari sebuah kampung yang tepat berada di bibir Citarum. Menurutnya, dikampung itu masih ada beberapa lansia yang menolak evakuasi dan lebih memilih tetap tinggal di rumah karena menjaga hewan ternak dan harta benda lainnya.

Empat orang relawan termasuk saya naik kedalam perahu dan mulai mendayung. Sekali dua kali mendayung, perahu bergerak lambat. Akhirnya kami turun dari perahu, mengisi perahu itu dengan nasi bungkus dan mendorongnya bersama-sama.

Kami berjalan cukup jauh, membelah derasnya air tumpahan dari sungai dan menyaksikan puluhan hektar sawah yang siap panen tertutup air. Sesampainya di kampung itu, cukup beragam tanggapan dari warga yang masih bertahan. Ada yang menyambut gembira dan mengelu-elukan PKS, ada yang berharap mendapat nasi bungkus lebih banyak, ada yang menyatakan siap direlokasi tapi menunggu sore dan berharap hujan berhenti dan air surut.

Yang sangat ekstrim adalah seorang kakek tua yang mengenakan kaos kuning khas sebuah partai. Ia bertanya ini bantuan dari mana. Relawan lokal yag mengantarkan kami langsung menjawab. “Ini dari PKS kek.”

Lalu si Kakek itu menjawab. “Wah, kalau dari PKS saya tidak mau .”

Akhirnya kami meninggalkan kakek itu dan membawa beberapa lansia naik keatas perahu untuk dibawa ke daerah aman. Sesampainya di daerah kering, kami kembali membawa beberapa nasi bungkus untuk dibagikan kepada warga yang masih bertahan. Begitu seterusnya hingga tiga kali putaran.

Setiap putaran, kami selalu menjumpai kakek itu dan membujuknya agar mau pindah ke lokasi aman. Tetapi ia tetap menolak. Nasi bungkus yang kami serahkan pun ditolaknya. ”Pokoknya saya gak mau bantuan dari PKS.”

Saya menyarankan kepada tim, ya sudah kita jangan perkenalkan diri sebagai kader PKS. Kita bilang saja dari pemerintah, toh kakek itu sudah tua dan mungkin pendengarannya sudah menuru. Tetapi relawan lokal menolak saran saya dan meminta untuk tetap memperkenalkan diri sebagai kader PKS. Konon katanya kakek tua itu mantan pengurus tingkat desa sebuah partai warisan orde baru.

Pada kesempatan keempat…
“Darimana nih ?” kata si kakek.
“Ini nasi bungkus dari pemerintah, kek” sahut saya singkat
“Nah ini yang saya tunggu.” Ujar kakek tua sumringah.

Pada perbincangan selanjutnya terungkap ternyata Si kakek malu karena ternyata partai yang ia dukung belum memberikan bantuan.

Begitulah kisah tentang penolakan masyarakat terhadap bantuan PKS yang pernah saya alami. Saya masih ingat betul kejadian itu karena Tidak seperti kader PKS lainnya yang aktif turun langsung dalam setiap bencana. bahkan ada yang lintas negara, mengirimkan bahan makanan ke negara tetangga saat Filipina dihantam badai. Pengalaman saya dalam hal membantu korban bencana sangat minim dan bisa dihitung dengan jari.


ENJANG ANWAR SANUSI
Twitter @enjang_as

[sialmedia]