Dibunuh Penguasa Zalim adalah Syahid, Mereka Bukan Bughat Apalagi Khawarij


IslamediaMengapa mereka disebut syahid? Ada beberapa hujjah, diantaranya:

Pertama, terdapat hadits shahih tentang jihad yang paling agung dan paling afdhal adalah mengutarakan perkataan yang ‘adil di depan penguasa atau pemimpin yang zhalim.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ أَوْ أَمِيرٍ جَائِرٍ


“Dari Abu Said al Khudri, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Jihad yang paling utama adalah mengutarakan perkataan yang ‘adil di depan penguasa  atau pemimpin yang zhalim.’” (HR. Abu Daud No. 4344.  At Tirmidzi No. 2174, katanya: hadits ini hasan gharib. Ibnu Majah No. 4011, Ahmad No.  18830, dalam riwayat Ahmad tertulis: Kalimatul haq [perkataan yang benar] )
Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan shahih. (Tahqiq Musnad Ahmad No. 18830),  juga dishahihkan oleh Syaikh Al Albani. (As Silsilah Ash Shahihah No. 491)
Nah, disebut apa orang yang mempersembahkan jiwanya, dibunuh oleh pemimpin yang zhalim karena perjuangannya menegakkan syariat Allah Ta’ala? Menurut hadits di atas Itulah afdhalul jihad sebab ia dibunuh oleh penguasa tiran pada masanya.
Kedua, hadits dari Jabir radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

سَيِّدُ الشُّهَدَاءِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، وَرَجُلٌ قَالَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ فَأَمَرَهُ وَنَهَاهُ فَقَتَلَهُ


“Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, dan orang yang melawan penguasa kejam, ia melarang dan memerintah, namun akhirnya ia mati terbunuh.” (HR.  Ath Thabarani dalam Al Awsath No. 4079, Al Hakim, Al  Mustdarak ‘Ala ash Shaihain, No. 4884,  katanya shahih, tetapi Bukhari-Muslim tidak meriwayatkannya.  Al Bazzar No. 1285. Syaikh Al Albany  mengatakan shahih dalam kitabnya, As Silsilah Ash Shahihah No. 374 )
Dari hadits ini dapat kita ketahui. Pemimpin para syuhada ada dua orang.
  1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut langsung secara definitif, yaitu pamannya sendiri, Hamzah bin Abdul Muthalib radhiallahu ‘anhu.
  2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya memberikan kriterianya, yaitu mereka yang dibunuh oleh penguasa yang zalim ketika beramar ma’ruf dan nahi munkar kepada mereka.
Orang-orang yang menyeru kebaikan secara damai kepada penguasa zalim, agar mereka kembali kepada Allah Ta’ala, tidak tunduk kepada musuh, justru penguasa zalim ini takut   kekuasaannya terancam, lalu  dia membunuh orang-orang yang mengajak itu. Menurut hadits ini, orang yang terbunuh itu syahid, bahkan penghulu para syuhada, karena dia melakukan amar ma’ruf nahi munkar kepada penguasa yang zalim. Wallahu a’lam.
Ketiga, hadits dari Sa’id bin Zaid, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُونَ أَهْلِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دَمِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ


“Barangsiapa yang terbunuh karena membela hartanya, maka ia syahid. Terbunuh karena membela keluarga, maka ia syahid. Barangsiapa terbunuh membela agamanya, ia syahid. Barangsiapa yang terbunuh karena membela darahnya, maka ia syahid.” (HR. Ahmad No. 1652, Abu Daud No 4772, Ath Thayalisi No. 233. Berkata Syaikh Syuaib Al Arnauth: sanadnya kuat. Ta’liq Musnad Ahmad, 3/190)
Keempat, hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا تَعُدُّونَ الشَّهِيدَ فِيكُمْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ قَالَ إِنَّ شُهَدَاءَ أُمَّتِي إِذًا لَقَلِيلٌ قَالُوا فَمَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِي الطَّاعُونِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِي الْبَطْنِ فَهُوَ شَهِيدٌ


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apa menurut kalian tentang orang yang mati syahid?” Mereka menjawab: “Wahai Rasulullah, asy Syahid adalah buat mereka yang dibunuh fisabilillah.” Rasulullah bersabda: “Jika demikian saja, maka syuhada umatku sedikit.” Mereka bertanya: “Lalu, siapa mereka Ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Barangsiapa dibunuh dijalan Allah itulah Syahid, dan barangsiapa mati fisabilillah itulah syahid, yang mati karena tha’un (sejenis penyakit lepra) maka dia syahid, dan siapa yang mati karena sakit perut dia syahid.” (HR. Muslim No. 1915)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan syahid orang ‘sekadar’ membela diri dan keluarga, lalu bagaimana dengan membela agama dan kehormatan syariat Allah? Bukankah itu syahid?
Urusan Hati Serahkan kepada Allah Ta’ala
Terhadap para pejuang, hendaknya kita berbaik sangka. Jangan sampai lahir sikap-sikap sinis mempertanyakan niat mereka. Para ulama tidak menilai hati mereka, sebab urusan niat kita serahkan kepada Allah Ta’ala. Mereka hanya menilai secara zhahir apa yang dilakukan oleh para pejuang tersebut. Kita tidak dibebani untuk membedah hati masing-masing pejuang, justru kita dianjurkan untuk berbaik sangka kepada sesama muslim, apalagi kepada para pejuang Islam.
Tidak pantas menanyakan, “Jangan-jangan mereka hanya mencari pamor saja,”atau “Mereka ingin mencari kekuasaan,”  atau , “Ada ambisi pribadi dibalik perjuangan mereka,” dan semisalnya.
Imam Badruddin Al ‘Aini mengatakan:

إحسان الظن بالله عز وجل وبالمسلمين واجب

“Berbaik sangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan kaum muslimin adalah wajib.”(‘Umdatul Qari, 29/325)
Sikap Para Ulama
Pemberian gelar Asy Syahid untuk orang yang wafat karena berjuang di jalan Allah Ta’ala, bukan hanya diberikan kepada Hasan Al Banna, Sayyid Quthb, Abdullah ‘Azzam, Marwan Hadid, dan lainnya, tetapi jauh sebelum mereka  sudah ada yang disebut dengan Asy Syahid pada namanya. Demikian yang diriwayatkan oleh Imam Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam An Nubala.
Imam Adz Dzahabi rahimahullah
Sebagai contoh nama yang diberi gelar Asy Syahid oleh Imam Adz Dzahabi  dalam kitab Siyar-nya adalah:
  1. As Sayyid Asy Syahid As Sabiq Al Badri Al Qursyi (Juz. 1, Hal. 145)
  2. As Sayyid Asy Syahid Al kabir Abu Hudzaifah (Juz. 1, Hal. 164)
  3. Abu Ya’ala Al Qursyi Al Hasyimi Al Makki Asy Syahid (Juz. 1, Hal. 172)
  4. Al Amir As Sa’id Asy Syahid Abu Amru Al Anshari (Juz. 1, Hal. 230)
  5. As Sayyid Asy Syahid Al Mujahid At Taqi Abu Abdirrahman Al Qursyi Al ‘Adawi (Juz. 1, Hal. 298)
  6. As Sa’id Asy Syahid ‘Ukasyah bin Muhshin (Juz. 1 Hal. 307)
  7. Al Husein Asy Syahid (Juz. 2, Hal. 202)
  8. Asy Syahid ‘Ubaidah bin Al Harits Al Muthallibi (Juz. 2, hal. 218)
  9. Al Malik Al Kamil Asy Syahid Nashiruddin Muhammad bin Al Malik Al Muzhaffar (Juz. 23 Hal. 201)
  10. Al Khalifah Asy Syahid Abu Ahmad Abdullah bin Al Mustanshir billah (Juz. 23, Hal. 174)
  11. Dan masih banyak puluhan nama yang oleh Imam Adz Dzahabi disebut dengan gelar Asy Syahid.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Muhammad Alu Asy Syaikh Hafizhahullah
Beliau adalah mufti Kerajaan Saudi Arabia, pengganti Syaikh Ibnu Baaz. Beliau berkata tentang wafatnya Syaikh Ahmad Yasin Rahimahullah:
“Sesungguhnya kami menerima kabar pembunuhan Asy Syaikh Asy Syahid Ahmad Yasin ini dengan perasaan duka. Semoga Allah mengampuni beliau, merahmatinya, dan meninggikan derajatnya di surga dan memberikan pengganti beliau dalam rangka melawan kekuatan zalim yang keji semoga Allah membalas berbuatan mereka.” (http://www.said.net/Doat/Zugait/313.htm)
Lihat…, gelar syahid, langsung disebutkan oleh mufti kerajaan Saudi Arabia ini. Bukan hanya beliau, ada 65 ulama yang memberikan ucapan belasungkawa terhadapnya, di antaranya ada Syaikh Shalih Al Luhaidan hafizhahullah, anggota Hai’ah Kibar al Ulama.
Bahkan beliau mencela orang-orang yang mencela HAMAS dan Syaikh Ahmad Yasin. Beliau berkata:

الرجل أشتهر عنه الخير .. والثبات ..

وإغاضة اليهود .. ومن ورائهم من حماتهم ..المدافعين عنهم ..ثم الرجل قُتِل قتلةً ،، بشعةً ،، شنيعة ..  نسأل الله أن يجعله بعدها في أعلى عليين ..

تَنَقُصُهم ، هو ومن يقاتل اليهود ، .. لايدل على خير من المُنَتَقِص .. وإنما إما يدل على إما جهل بالحقائق ..أو عن هوى ..والمسلم ينبغي أن يتجنب هذا وهذا ..


“Laki-laki ini (Syaikh Ahmad Yasin) terkenal dengan kebaikannya, keteguhannya dan perlawanannya yang sengit terhadap Yahudi. Dan, di belakang beliau ada orang-orang yang siap melindungi dan membelanya (maksudnya HAMAS). Kemudian Syaikh Ahmad Yasin dibunuh secara keji dan tak berperikemanusiaan. Kita memohon kepada Allah agar memasukkannya ke surgaNya yang tinggi. Orang-orang yang menjelek-jelekkan mereka –padahal beliau orang yang memerangi Yahudi- tidak menunjukkan kebaikan orang yang menjelek-jelekkannya, melainkan menunjukkan kebodohannya terhadap fakta yang ada atau hanya menunjukkan hawa nafsunya.  Seorang muslim hendaknya menjauhi hal ini dan itu …” 

Ditulis oleh Ustadz Farid Nu’man Hasan, 
dipublikasikan pertama di tarbawiyah.com
[islamedia]