Sebelum Adzan Dhuhur Khodijah Putriku Menghembuskan Nafas Terakhirnya





Islamedia -  Tadi lewat di newsfeed mbahas imunisasi, tergelitiklah hati kepengin sharing pengalaman, So....seperti biasa status ini dibikin adem aja,,,ngga ngajakin adu argumen pro kontra vaksin. Woles cuyy kalo kata anak-anak sekarang. Seorang ibu bercerita ‪#‎flashback‬ beberapa tahun yang lalu.

Anak pertamaku sampai ketiga full imunisasi, sejak tahun 2002 sampai 2005 gonjang ganjing imunisasi belum sampai ke telingku. Singkat cerita, pada tahun 2007 hamil anak keempat mulai rame akan tetapi aku belum kenal internet. Buku dan buku. Itu yang jadi andalan. Aku baca argumen dari pro vaksin dan anti vaksin. Diskusi dengan bidan juga. Tentunya aku sebagai ortu ingin memberikan yang terbaik untuk buah hatiku.

Sampailah saat saat menjelang HPL, keputusan harus segera kuambil.

Saat itu aku masih ragu, yang kupahami tinggalkanlah sesuatu yang meragukan. Akhirnya ku ambil keputusan tidak imunisasi.

Tetaplah di hatiku, aku ragu, dan kan kutinggalkan sesuatu yang meragukan. Prinsip yang kupegang setiap penyakit pasti ada obatnya kecuali kematian.

Kewajiban sebagai ibu aku berikan hak anak-anakku yakni ASI eksklusif, Mp-ASI bikin sendiri sampai bubur susu pun bikin sendiri. Tidak mengenal M*l*a atau merk makanan instant lainnya. Alhamdulillah dulu kami mempunyai usaha kambing perah, sehingga anak-anak pun bisa minum susu full.

Berlalulah waktu...

Tahun 2009 aku hamil anak kelima. Informasi semakin bertambah. Ku buka lagi buku, kubaca, kutelaah semampuku. 

Mahasiswa Indonesia yang telah menyelesaikan kuliah pasca sarjana di Univ.Islam Madinah sudah mulai menebarkan faidah ilmunya. Kudapatkan pencerahan tentang polemik imunisasi dari sudut keimuan agama. Akhirnya ku ambil keputusan anak kelima imunisasi.

Di penghujung tahun 2010, di akhir bulan Dzulqo'dah. Malam Rabu...lewat dari tengah malam putri keempatku sesak memang dia sedang batuk. Ku lakukan pertolongan di rumah, menunggu pagi. Sekitar jam delapan pagi berangkatlah kami ke dokter spesialis anak langganan yang sudah hampir setahun lebih tidak pernah dikunjungi.

Diperiksa, ternyata selain batuk pilek terkena otitis media juga (infeksi telinga bagian tengah), di kasih obat, pulang.

Berselang 3 hari minum obat alhamdulillah kondisi putriku Khodijah mulai pulih, dah bisa main bersama kakak-kakaknya. Tibalah hari Sabtu pagi.

Seperti biasa kami sarapan bersama, ketika Khodijah hendak menelan makanan kelihatan sangat sulit. Aku mencoba memberinya minum ternyata sama. Darahku berdesir, jantungku berdegup kencang. Innalillah badanku terasa limbung, tetesan air mata tak kuasa terbendung, apa yang terjadi dengan anakku. Kupeluk Khodijah, tunggu ya Nak, jam 8 nnt kita ke rumah sakit.

Sekitar jam delapan kami berangkat ke RS. Menunggu antrian Khodijah masih bisa main prosotan. Masuklah ke ruang dokter. Diperiksa.

Dokter menyampaikan :" Ibu bapak...dari gejala terkuncinya rahang mulut saya mengarah Khodijah terkena TETANUS". Kembali darahku berdesir, dingin dan lemas terasa badanku. Ku tarik nafas, teringat 2 minggu yg lalu tetangga meninggal karena tetanus. Kutegarkan jiwaku.

Ku beranikan bertanya, "Apakah masih ada kemungkinan sembuh Dok ? ".

Dokter mengangguk, tapi memang butuh perawatan agak lama, DPT nya lengkap ? Tanya dokter.

Aku hanya bisa menggeleng lemah.

Kita berusaha semaksimal mungkin Bu, apalagi gejala sudah terdeteksi sejak dini ujar dokter berusaha memberi ketenangan.

Apa yang harus kami lakukan Dok...?

Saya sarankan rawat untuk observasi. Saya khawatir Khodijah terkena tetanus dari otitis medianya.

Otitis media ini efek dari batuk pileknya. Batuk pilek kalau tidak segera ditangani dari telinga akan keluar cairan. Apalagi Khodijah ketika bayi memang punya riwayat otitis media.

Khodijah mulai rawat inap. Hari Sabtu Ahad kondisi Khodijah masih bisa jalan. Tapi mulutnya sudah mulai mengunci, giginya mengatup, terbuka kurang lebih hanya setengah senti. Sekedar bisa minum dari sedotan. Tapi akhirnya semakin mengunci giginya dan dipasanglah selang melalui hidung untuk memasukkan sumber makanan.

Susu sebagai sumber asupan utama, disedot memakai alat suntik (tanpa jarum), kemudian suster pelan-pelan memasukkan ke dalam selang yang sudah terpasang di hidung Khodijah, dimana selang itu dari terhubung dari hidung ke tenggorokan. Kusaksikan Khodijah dengan amat susah payah berusaha menelan susu tersebut. Ku lihat dia memberontak menolak seperti merasakan sakit, entahlah apa yang dia rasakan. Tapi air mataku tak kuasa terbendung...ku usap usap jidatnya.  

"sabar ya nak" serasa ku juga ingin berontak...suster....cukuuupp jangan sakiti anakku.

Mulai malam Senin badannya mulai kaku punggungnya sudah seperti papan. Kaku. Mulut dan giginya sudah mengunci rapat. Bentuk wajahpun sudah berubah. Ketika aku membalikkan badannya, dari posisi miring ke posisi terlentang, ku rasakan sama seperti ku sedang membalikkan balok kayu. Kaku.

Melihat kondisi Khodijah yang langsung drop dokter memindahkan ke ruang NICU. Qoddarullah terjadi gagal nafas. Dokter langsung memindahkan ke ruang ICU.

Inilah saat saat yang paling menyesakkan. Melihat putriku Khodijah usia 2,8 tahun berjuang, perawat berusaha membuka mulutnya, giginya yang sudah mengatup erat. Perawat hendak memasukkan alat ke dalam mulutnya, aku hanya bisa menggenggamnya jari jemari tangan Khodijah.

"Tahanlah Kamu sakit sebentar Nak kami semua sedang membantu menyembuhkan sakitmu" jerit hatiku sambil terus kupandang mata Khodijah. 

Dia masih bisa menatapku penuh pemberontakan. Akhirnya setelah 1 jam perjuangan perawat berhasil. Mulut Khodijah berhasil terbuka dan sekujur tubuhnya pun sudah penuh dengan kabel.

Masuklah Khodijah di ruang ICU isolasi. Senin, Selasa, Rabu, ku hanya bisa melihat badan mungilnya terbujur lemah dan matanya yang sudah terpejam. Kedua tangannya terikat, kakinya pun terikat. Yaa untuk save alat2 yang sudah terpasang. Kadang badannya terasa sedingin es. Terbayanglah dosa dosaku silih berganti, betapa diri ini penuh dosa. Allah peringatkan diri ini, agar kembali.

Saat inilah kurasakan betapa pentingnya ilmu. Ilmu itu akan bermanfaat ketika dibutuhkan.

Untuk itu bersemangatlah untuk terus belajar teman, nanti ada saat-saat kamu butuhkan ilmu itu.

Hari Kamis, terlihat mata Khodijah terbuka. Kulihat dia tersenyum di balik alat oksigennya. betapa bahagianya hatiku.

Kusambut dengan senyum. "Anakku...ini ibumu".

Dia hendak bangkit merangkulku, tapi tak bisa...kembali aku hanya bisa memegang erat jari jemari tangannya: "Nak, maafkan ibumu ini", jerit batinku. Tapi itu tak lama....kembali matanya terpejam.

Tersayat-sayat hati ini, betapa tergoncang jiwaku, hancur sehancur hancurnya.

Kemudian jadwal visit dokter, dan dokter memberi penjelasan : "Ibu, Tetanus Khodijah sudah ditangani sedini mungkin. Dari gejala paling awal. Semua obat sesuai prosedur penanganan Tetanus sudah kami berikan. Sampai sekarang Khodijah masih bertahan. Sekarang kita berharap adanya imun dari tubuh Khodijah sendiri".

Dari sinilah teman-teman, aku baru memahami apa yang sudah kubaca. Maaf bukan sama sekali bermaksud provokasi, semua adalah takdir Allah. Kenapa kita memerlukan imunisasi? 

Imun itu akan diperlukan pada saat sebuah penyakit menyerang tubuh dia. Imun Tetanus diperlukan saat terkena tetanus. Imun hepatitis diperlukan saat terkena hepatitis. Imun pertusis atau difteri diperlukan saat terkena difteri ataupun pertusis.

Hari Jum'at..

Khodijah demam tinggi, badan, kaki dan tangannya terangkat kejang tiada henti. Obat kejang sudah diberikan dengan dosis yang paling tinggi. Aku hanya bisa menatap pilu dengan tetesan air mata.

Seorang teman menghampiriku (suami temanku seorang dokter)...Ketahuilah ini adalah sebuah nasehat yang besar faidahnya.

Dia menasehatiku: "Sahabatku, sungguh sekarang yang harus kamu lakukan pertama BERDO'ALAH agar kamu SABAR apabila Khodijah ditakdirkan diambil Sang Pemilik. Karena saat itu yang kamu butuhkan adalah SABAR. Dan sabar saat itu TIDAK MUDAH. Sabar adalah PADA SAAT PERTAMA sebuah musibah. Hanyalah Allah yang bisa memberi taufik".

Berdoalah terus. Seandainya Allah takdirkan sembuh itu adalah karunia yang sangat kita harapkan.

Yang kedua jangan pernah kamu berpikir, ini semua terjadi karena Khodijah tidak imunisasi. Imunisasi tidak imunisasi takdir Allah yang telah tertulis.


Aku mengangguk paham. Dengan profesi suami sebagai dokter tentunya beliau adalah provaksin. Akan tetapi beliau menyikapi suatu masalah dengan bijak.

Sabtu pagi.

Kondisi Khodijah semakin memburuk, menjelang dhuhur dokter memanggil aku dan suamiku. 

Dokter dan perawat sudah mengelilingi Khodijah yang sudah tertidur tenang. Akan tetapi masih ada kehidupan di sana. 

Dokter memberi isyarat seandainya Khodijah sudah kritis dan tim medis akan melakukan tindakan. Aku mengangguk.

Sungguh aku sedang mengumpulkan kekuatan, memohon taufik dari Allah untuk sabar. Sabar saat pertama sebuah musibah.

Dokter dan perawat sekuat tenaga melakukan pertolongan. Kulihat dokter bermandikan peluh keringat dan terus menginstruksikan perawat. Setengah jam waktu berlalu.

Akhirnya Dokter menggeleng lemah.

"Maafkan kami bu" Saya mengangguk. Saya tau dokter sudah memberikan yang terbaik. Terima kasih Dok.

Sebelum adzan Dhuhur Khodijah menghembuskan nafas terakhirnya. Alhamdulillah. Innalillah wa inna ilaihi rooji'un.

Setelah semua administrasi kuberesi, kembali aku melangkah gontai menuju ruang ICU. Ku hampiri kamu, kupeluk kamu sayang. Kini dirimu sudah terbalut kain. Hari Kamis kamu tersenyum manis dan ingin dipeluk. Ku peluk hari ini kamu sayang, walaupun hanya bisa melihat senyum ketenanganmu.

Ku bopong kamu melalui lorong lorong rumah sakit. Inilah saat terakhir aku bisa memelukmu, nggak akan aku bisa memelukmu lagi.

Ku lihat mobil temanku. 2,8 tahun yang lalu mobil itu yang bawa kamu dari klinik persalinan menuju tempat tinggal kita, sekarang mobil itu juga yang akan menghantarmu menuju tempat peristirahatanmu.

Kamu akan lebih bahagia di sana, di sana banyak teman teman sebayamu, di sana ada sungai yang kau bisa puas bermain, di sana ada pohon susu yang kau akan puas meminumnya dan di sana ada pohon pohon rindang tempatmu bisa bersandar. Selamat jalan Nak.


Ditulis oleh Wasiyati Marhami

[islamedia]