Mencari Teladan untuk Anak Kita


IslamediaIdola. Itulah yang sedang dicari anak-anak kita saat ini. Begitu banyak tokoh ataupun public figure yang mungkin berseliweran di hadapan anak-anak kita. Mereka pun bisa menemukan idolanya dari apa yang sering mereka lihat, baca, dengar atau rasakan. Entah itu dari media elektronik seperti televisi, media sosial, majalah, ataupun yang langsung mereka saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Tentunya harapan orangtua idola tersebut bukan hanya sebagai pujaan namun juga bisa menjadi teladan yang baik, karena idola yang mereka puja bisa mempengaruhi segala dimensi kehidupannya, dari hal yang kecil seperti cara berpakaian, sampai hal yang besar seperti masalah akidah. Dan warisan yang sangat berharga dari sebuah keteladanan adalah akidah yang lurus serta akhlak yang baik.

Jauh sebelum adanya media-media tersebut diatas muncul, Al-Qur’an sudah membahas mengenai keteladanan yang juga dibingkai indah dalam titian shiroh Nabi kita tercinta Rasulullah Muhammad saw. 

Allah berfirman dalam QS. Al-Ahzab : 21, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” 

Jadi keteladanan yang utama bagi kita umat muslim adalah pribadi Rasulullah SAW. Mengapa? Karena Rasulullah saw adalah seorang manusia yang (sudah) Allah pilih dalam mengemban tugas menyampaikan risalah kebenaran, ajaran tauhid dan pemberi kabar tentang Yaumil Akhir nanti. Apalagi yang kita harapkan dari anak-anak kita selain menjadi penyejuk mata, air mata bahagia selepas kita tiada nanti selain iman yang kuat dan akhlak yang baik. Apalagi yang kita harapkan di penghujung kehidupan anak-anak kita selain menjadi manusia yang bermanfaat, yang bisa menjadi agen rahmatan lil ‘alamin, menyebarkan kebaikan dan risalah kebenaran serta membentengi dirinya di akhir zaman dengan hujjah yg bersumber dari Al-Qur’an dan hadis juga mendapatkan syafaat Rasulullah saw di hari akhir nanti? Dan idola yang paling bisa membuat anak-anak kita seperti itu hanyalah manusia yang paling dicintai Allah swt, yaitu Nabi Muhammad saw.

Sungguh indah perkataan Ummul Mukminin kita ‘Aisyah ra saat menggambarkan bagaimana akhlak Nabi Muhammad saw, “Akhlak beliau adalah Al-Qur`an”. Rasulullah tidak marah ketika ‘Aisyah ra melempar nampan milik istrinya yang lain karena cemburu, beliau hanya berkata “Ibu kalian sedang cemburu.”. Dan sungguh lembut akhlak Nabi di hadapan pelayannya, Anas bin Malik ra. Bahwa ia tidak pernah mendengar Rasulullah saw berkeluh kesah “Mengapa kamu melakukan ini? Mengapa kamu tidak melakukan itu?”. Begitupun Shafiyah binti Huyay ra yang hanya 5 tahun bersama Rasullullah saw, menjadi saksi dari indahnya akhlak Rasulullah saw. Dan ia pun mengatakan , “Aku tidak pernah melihat orang yang akhlaknya sebaik Rasulullah saw.”

Lalu, bagaimana kita sebagai orangtua bisa mentransfer iman dan akhlak yang dimiliki Rasulullah saw dan para sahabat itu sehingga bisa tertanam di jiwa anak-anak kita? Ya, jawabannya adalah dengan menjadi qudwah (teladan) atau contoh bagi anak-anak kita dalam meneladani Nabi Muhammad saw. Karena orangtua adalah sosok pertama dalam kehidupan mereka yang secara fisik, dengan kelima indera nya berinteraksi secara intens dengan mereka. Maka apa yang dilakukan orangtuanya, apa yang disukai ayah ibunya, apa yang di tonton ataupun kebiasaan orangtuanya, sudah pasti akan mereka tiru. Bahkan mereka bisa menganggap itu adalah suatu kebenaran, dan selanjutnya terekam di alam bawah sadar mereka dan bisa tertanam di otak hingga dewasa nanti.

Maka disinilah rukun Qudwah berlaku bagi para orangtua, antara lain : (1) Adanya pondasi keimanan, (2) Khusnul Khuluq (Akhlak yang baik), dan (3) Perkataan yang sesuai amal, karena Allah swt membenci perkataan yang tidak sesuai dgn amal perbuatan (QS. Ash-Shaaf : 2-3). Dan tentunya kredibilitas seseorang bisa dilihat dari sinkronisasi antara perkataan dan perbuatan, dan anak-anak kita sudah tentu bisa menilainya. Dan manakah di antara ayah dan ibu yang memiliki beban tanggung jawab terbesar untuk menjadi qudwah ini? Tidak lain adalah sang Ayah. Baik atau buruknya generasi ada pada peran seorang ayah. Karena, anak-anak tumbuh dan berkembang terhadap sesuatu karena dibiasakan oleh orangtuanya, terutama ayahnya. Dan sebab ayah adalah Qawammah (pemimpin) dalam suatu keluarga/rumah, maka di pundaknya telah ada peran sebagai Qudwah (sesuatu yang diikuti).

Akhirul kalam, maka sebagai orangtua bagaimana cara mendapatkan teladan yang baik bagi anak kita? Yaitu dengan terus memperbaiki diri untuk menjadi mukmin yang baik yang hidup sesuai Al-Qur’an dan sunnah Nabi kita tercinta. Karena keteladanan di dalam rumah itu ada pada dirimu wahai orangtua. Wallahu ta’ala a’lam.


Depok, 9 Juni 2017

Riera Ummu Maiza

[islamedia]