Kembalikan Makna Agama Kepada ‘Diin’




IslamediaSabtu (29/04), kuliah pertemuan keenam Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Bandung untuk Angkatan 2017 dilaksanakan di D’Best Hotel, Bandung. Kuliah yang dimulai pada pukul sepuluh pagi ini menghadirkan Ahmad Rofiqi, Lc sebagai pembicara dengan tema “Konsep Diin”.

Ustadz alumni Libya ini mengawali kuliah dengan mengajak peserta untuk memaknai kembali agama melalui istilah “diin” yang Allah gunakan di dalam Al-Qur’an. Menurut beliau, istilah “diin” perlu kembali diangkat karena kemunculan konsep agama sejarah yang dipopulerkan oleh Wilfred Cantwell Smith yang menganggap bahwa agama adalah hal yang dinamis dan berdialektika dengan keadaan sosial. “Oleh karenanya, agama dianggapnya dapat berkompromi dan berubah karakteristiknya sesuai dengan keadaan sekelilingnya,” ujarnya.

Mereka kemudian menyamaratakan pandangan mereka terhadap agama mereka ke seluruh agama, padahal Islam berbeda,” ujar beliau menyikapi konsep agama sejarah. Konsep ini, menurutnya, dengan sendirinya telah terbantahkan dengan aksi 411 dan 212 yang dilakukan umat Muslim Indonesia, sebab berbagai latar belakang sosial dapat tersatukan dalam satu diin yang sama.

Materi yang berlangsung hingga waktu zuhur ini banyak membahas bukti-bukti yang jelas di dalam Al-Qur’an yang menunjukkan bahwa agama Islam memang berasal dari Allah. Dalam agama Islam, nama tuhan, agama dan kitab sucinya sudah didefinisikan dengan jelas sebagai Allah, Islam dan Al-Qur’an. Hal yang sama tidak ditemukan pada agama-agama lain. 

“’Diin’ sendiri adalah kata yang terdapat di dalam Al-Qur’an untuk mengistilahkan Islam. Makna ‘diin’ adalah keadaan berhutang dari makhluk kepada penciptanya, keberserahan diri kepada Allah, kuasa peradilan yang memberi panduan benar dan salah, dan makna lainnya adalah sebuah kecenderungan alami yang lebih dikenal sebagai fitrah,” papar Rofiqi lagi.

Juris Arrozy, mahasiswa ITB yang saat ini menjadi peserta SPI, berpendapat bahwa masyarakat Indonesia yang hidup di tengah hegemoni peradaban barat perlu memaknai istilah agama dengan benar. “Ternyata hanya dari satu kata ‘diin’ saja bisa dijelaskan secara filosofis sampai begitu mendalam, memang inilah keistimewaan bahasa Arab,” komentarnya setelah mengikuti perkuliahan. [islamedia/asa/abe]