Etika Membutuhkan Agennya

Islamedia Etika membutuhkan agen yang mampu mencontohkannya, demikianlah pendapat Immanuel Kant. Pandangan tersebut disampaikan oleh Muhammad Fadhila Azka ketika memimpin perkuliahan Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta untuk Angkatan 2017. Azka menjelaskan bahwa untuk menjadi agen yang dimaksud oleh Kant, orang tersebut harus benar-benar bersih, tidak punya kepentingan dan melaksanakan sepenuhnya etika yang disampaikan.

Sayangnya, Immanuel Kant tidak menemukan orang tersebut, malah agama kita yang memiliki kriteria yang dimaksud dalam diri Rasulullah,” ungkap Azka.

Pertemuan ke-7 dalam rangkaian kursus singkat SPI Jakarta ini digelar pada Rabu, 19 April 2017, bertempat di Aula INSISTS, membahas seputar konsep wahyu dan nabi. Azka melanjutkan bahwa konsep wahyu dan nabi adalah salah satu penegasan mendasar dalam proses menyembah Tuhan. “Ini dikarenakan wahyu memang bersifat eksklusif, dalam artian tidak semua manusia bisa memperoleh wahyu,” ujarnya.

Wahyu adalah pemberitahuan yang bersifat tertutup, tidak diketahui pihak manapun, cepat dan hanya untuk yang dituju,” demikian Azka menjelaskan definisi wahyu menurut Rasyid Ridha.

Azka juga kemudian mengutip pendapat para ulama lain untuk menjelaskan definisi rasul dan nabi. “Rasul ialah seorang manusia lelaki yang merdeka, yang diberi wahyu oleh Allah berupa suatu syara', dan ia wajib mensyiarkan syara' itu kepada seluruh umatnya. Sedangkan nabi hanya menerima wahyu dan tidak wajib mensyiarkan kepada umatnya,” tambah alumnus UIN Syarief Hidayatullah Jakarta ini.

Di akhir perkuliahan, Azka menyimpulkan bahwa wahyu dan kenabian saling terkait satu sama lainnya. Wahyu adalah sesuatu yang diberikan dan rasul adalah orang yang menerima dan akan mensyiarkan wahyu itu kepada umatnya.

Kesatuan substansi wahyu dan hubungannya dengan misi risalah para rasul amat jelas terbukti jika kita mengikuti nalar kisah Qur’an yang menegaskan tentang dakwah para rasul tersebut,” pungkas Azka. [islamedia/ananto/abe]