Cucu Hasan Al-Banna Ini Syahid Di Hari Jum'at dan Saat Berpuasa


Islamedia Nama lengkapnya adalah dr. Khalid Farnas Al-Banna, cucu dari Imam syahid Hasan Al-Banna dan anak dari Dr. Hala Hasan Al-Banna ini meninggal pada hari Jum'at tanggal 16 Agustus 2013 dalam pembantaian Ramsis.

As-Syahid yang lahir pada tanggal 7 Februari 1983 ini gugur syahid saat sedang melalukan amal shaleh yaitu berpuasa, di mana dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah Saw., bersabda:

Barangsiapa yang mengucapkan: Laa ilaaha illallah mengharapkan wajah Allah lalu wafat setelah mengucapkannya maka dia masuk surga, barangsiapa berpuasa satu hari mengharapkan wajah Allah lalu wafat ketika mengerjakannya maka dia masuk surga, barangsiapa yang bersedekah dengan satu sedekah mengharapkan wajah Allah lalu wafat ketika mengerjakannya maka dia masuk surgA.” (hadits shahih).

As-Syahid juga meninggal bertepatan dengan hari Jum’at, di mana sesuai dengan sabda Rasulullah Saw., orang yang meninggal di hari Jum’at, maka Allah melindunginya dari siksa kubur;

“tidaklah seorang muslim yang meninggal pada hari Jumaat atau malam Jumaat melainkan Allah Melindunginya dari siksa kubur.”

Tak hanya berpuasa dan meninggal pada hari Jum’at, As-Syahid Khalid Al-Banna juga telah menyempurnakan amal-amal shaleh lainnya, seperti wirid dzikir sore (Ma’tsurat), dan melantunkan surah Yasin, dan di detik-detik As-Syahid meninggal, setelah terkena peluru panas, sebelum meninggal, As-Syahid melafadzkan kedua kalimat syahadat. Dalam Hadits Rasulullah disebutkan bahwa barangsiapa yang akhir hidupnya mengucapkan “Laa ilaaha illallah mengharapkan wajah Allah lalu wafat setelah mengucapkannya maka dia masuk surga.”



Dalam tulisan saudari As-Syahid Khalid Al-Banna, terungkap rahasia kebiasaan-kebiasaan As-Syahid Khalid Al-Banna hingga ia layak mendapatkan husnul khatimah dan gelar As-Syahid.





“Rahasia apakah yang kamu miliki antara kamu dengan Tuhanmu sampai Allah mematikanmu dalam husnul khatimah? hingga kamu berjumpa dengan Tuhanmu pada hari jumat sedang kamu dalam kondisi puasa? Sebelum datang kematianmu kamu telah membaca wirid, berdzikir ma’tsurat sore, membaca surat yasin secara sempurna dan ketika kamu terkena peluru tajam kamupun langsung melafadzkan dua kalimat syahadat walaupun tidak ditalqin?
Saudaramu melarang orang yang ingin melihatmu ketika kamu dimandikan, sungguh ketika kami membersihkan darah dilukamu tercium semerbak minyak kasturi yang belum hilang sampai hari ini.
Teringat Saat itu sebelum dirimu keluar dari rumah untuk ikut aksi demonstrasi, kamu telah memperbaharui dan memantapkan niat bahwa keikutsertaanmu dalam demonstarsi dalam rangka berjihad di jalan Allah dan menyampaikan kalimat yang benar dihadapan penguasa tiran. Kemudian ada yang menyampaikan kabar kepada kami, bahwa kamu pada hari itu, ketika melaksanakan subuh di masjid kamu membaca surat As-Sajadah dan surat Al-Insan, saat itu kamu berhenti sangat lama dan mengulang ulang ayat: yadkhulu man yasyaa”u fii rahmatihi… wahai Khalid, semoga kamu termasuk di dalamnya (kelompok orang orang yang mendapatkan rahmat) sungguh rahmat Allah sangat luas meliputi segala sesuatu.
Saudaraku Khalid... Aku tahu bahwa dirimu akan berpisah dengan kami sebagai syahid di jalan Allah karena kamu sedang puasa. Suatu kali sekitar 3 bulan yang lalu (saat tulisan ini ditulis.red) aku melihat ada pancaran cahaya di wajahmu, senyumanmu sangat indah, saat itu kamu sedang bercerita di depan ibu. Wahai kekasihku (Khalid) aku tahu bahwa kamu telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk kematianmu hari ini dengan penuh kesungguhan, demi Allah...kami tidak melihat kehidupanmu kecuali saat waktu sholat, qiyam, puasa. Dan setelah kamu selesai dari dzikir ma’tsurat, dan selesai membaca Al-Quran kamu langsung membantu ibu yang tercinta yang amat lembut.
Begitulah kamu menulis dan menggelari nama ibu di HP mu. Kamu senantiasa membantu semua pekerjaan rumah bahkan kamu tidak sungkan membantu kami ikut dalam menyiapkan makanan. Wahai Khalid...semoga Allah menjadikan itu semua sebagai pemberat timbangan kebaikanmu kelak di hari kiamat.amin.
Tapi.... Sungguh aku tidak tahu bahwa ternyata Allah dengan keutamaan dan kemurahan-Nya telah menyiapkan untukmu visa umrah yang menjadi satu satunya visa yang mendapatkan persetujuan di antara sekian ribu visa yang diajukan, itulah yang membuat keinginanmu bisa terealisasi. Sungguh Allah telah menginginkanmu agar bisa menemani dan merawat ibu kita tercinta selama melakukan umrah. Wahai kekasihku, kami juga tidak tahu dengan kehendak Allah Swt., kamu bisa melaksanakan umrah sebulan penuh dengan penuh cinta. Dan sungguh tidak pernah terlintas dalam pikiran orang bahwa air zamzam yang kamu bawa bersama ibu dari Makkah ke Madinah dan dari Madinah kamu bawa ke kairo ternyata air zamzam itulah yang digunakan untuk memandikan jenazahmu.
Wahai saudaraku tercinta. Rahasia apakah yang kamu miliki antara kamu dengan Rabbmu wahai Khalid???...Sungguh nampak kelembutan perasaanmu dan kecintaanmu kepada kepada kekasih pilihan Allah ( Muhammad Saw), di mana kamu saat itu menyetop sebuah bus perjalanan dari Makkah ke Madinah untuk bisa berziarah ke kuburan Ummul Mukminin Khadijah radhiyallahu anha setelah itu kamu berangkat menuju ke makam Rasulullah Muhammad Saw., untuk mengabarkan kepada Rasul tentang ziarahmu ke Ummmul Mukminin Khadijah. Saat itu kamu seolah olah merasakan senyuman Rasulullah. Sungguh kamu mirip seorang bayi yang fitri dan bersih.
Wahai saudaraku tercinta, sungguh Allah maha benar dengan segala firman-Nya dan kamu pun membenarkannya.
Teringat ketika kamu sering bertanya kepada ibu kita tercinta, “wahai ibunda, doa apa yang selalu ibu panjatkan untukku? Sang Ibu menjawab: wahai Khalid aku selalu berdoa untukmu supaya mendapatkan istri yang sholihah, keturunan yang baik, rizki yang halal dan lain sebagainya. Kemudian Khalid menjawab: Wahai ibu, itu hanyalah urusan dunia. Tolong ibu doakan agar Khalid masuk surga, berteman dengan sang kekasih Rasulullah Saw., dan meninggal dengan husnul khatimah. Setelah itu ibu mendoakan Khalid sebagaimana permintaannya.
Ada apa denganmu wahai Khalid, akhir akhir ini (sebelum kematianmu) kamu selalu minta ibu untuk mendoakanmu denngan syahadah? Tapi ternyata ibu kita menolak mendoakanmu seperti itu, karena beliau sangat sedih berpisah denganmu wahai Khalid. Hingga akhirnya ibu berkata kepadamu: wahai Khalid, aku tidak sanggup mendoakanmu untuk mendapat syahadah (mati syahid), aku tidak kuat berpisah denganmu. Kemudian Khalid menjawab: wahai ibuku, Sungguh aku mati di jalan Allah lebih baik dari pada hidup bersamamu.......
“Wahai anakku, sungguh Allah maha tahu bahwa kerinduan kami padamu tidaklah terputus karena Allah lah yang mengikat dan menguatkan hati kami saat kami tahu bahwa Allah memberikan taqdir yang terbaik bagimu, menggantikan keluarga terbaik dari keluargamu dan menganugerahkan tempat yang terbaik untukmu. Ya Rabb pertemukanlah kami kelak dengannya di atas kebaikan, jadikanlah akhir hidup kami sebagai husnul khatimah sebagaimana Engkau berikan kepada ananda Khalid. Terimalah dia (Khalid) sebagai syuhada’Mu, masukkanlah dia pada golongan hamba hamba-Mu yang sholih, dan semoga kelak pada hari kiamat bisa memberikan syafaat kepada kami, amin ya rabbal alamin.
Wahai Rabb, berikanlah kekuatan kepada hati ibu kami yang telah berjuang terus menerus tanpa kenal lelah, beliaulah yang telah mendidik dan membimbing kami sejak kecil sehingga kami tumbuh dengan menghafal Al-Quran, cinta kepada Nabi sang kekasih Allah, cinta kepada keluarga Rasulullah, cinta Makkah Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawwarah, tidak takut mengatakan Al-Haq (kebenaran) dimanapun berada, cinta memuntut ilmu dan profesioanal dalam bekerja.
Ya Allah ya Rabb kami, kami punya hak untuk menuntut hukum qishas pada darah Khalid, sungguh kami telah menyerahkan sepenuhnya kepada-MU ya rabb, berilah hukuman (qishas) kepada orang yang telah membunuhnya, tampakkanlah kepada kami kekuatan keajaibanmu atas mereka baik di dunia maupun di akhirat.
Ya Rabb kami hanya mengadu kepada-Mu dari semua orang yang terlibat dalam aksi pembunuhan, baik yang berinisiatif, mengatur dan merancang, merencanakan, mengeksekusi dan orang orang yang berdiam diri dari atas aksi pembunuhan dan perumpahan darah orang – orang yang tidak bersalah. Dan kepada Allah lah semua pengaduan berkumpul. Ya Allah bantulah kami untuk selalu berdzikir dan bersyukur kepadaMu, dan bantulah kami juga untuk bisa beribadah dengan yang terbaik. Ya Allah, wafatkanlah kami dan Engkau ridha pada kami. Masukkanlah kami pada kelompok Nabi-Mu Al-Mustafa Muhammad Saw., dan para sahabatnya, As-Shiddiiqiin (orang orang yang jujur), As-Syuhada, As-Sholihin dan sungguh mereka itulah teman yang terbaik.”


Allahumma Amitna Ala As-Syahadati fi sabiilik.. 




[islamedia]