Bersiap Diri Menghadapi Kematian


Islamedia - Tidak ada yang tahu kapan ajal kita akan tiba. Ajal (kematian) adalah rahasia yang dimiliki Allah swt. Dia-lah yang menentukan, kapan kematian itu akan datang menghampiri kita.

“Maka apabila telah datang ajal mereka, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya” (QS. Al-A’raf: 34)

Tidak ada yang menyangka, demontrasi pesawat Shukoi  sebagai ajang promisi penerbangan berakhir dengan duka yang dalam. Para pramugari dan penumpang  yang berpose dengan riang gembira sesaat sebelum pesawat lepas landas, harus berakhir dengan musibah yang sangat menyedihkan semua manusia. Wajah yang cantik dan tampan beberapa jam yang lalu, kini harus hancur dan nyaris tidak dikenali lagi.

Begitulah ajal. Ia datang secara tiba-tiba dan sulit diprediksi kapan datangnya. Ia akan datang ke semua orang, baik anak kecil maupun orang dewasa, baik lelaki maupun perempuan, baik rakyat maupun penguasa. Semua akan datang ajalnya.

Hidup kita memang dibatasi  oleh ajal dan waktu. Cobalah anda siapkan pena dan secarik kertas, lalu tulislah di atas secarik kertas itu angka tahun berikut: “1940—2060”, lalu tanyakan pada diri Anda, apakah Anda pernah wujud dan terlahir di dunia ini sebelum tahun 1940? Lalui tanyakan kembali pada diri Anda, apakah Anda akan hidup terus hingga tahun 2060? Jawabannya adalah tidak.! Hidup kita benar-benar dibatasi waktu, dan kematian akan selalu datang menghampiri kita kapan saja Allah menghendakinya.

Lalu, persiapan apa yang harus kita lakukan sebelum ajal menjemput kita?.

Hidup adalah ibarat sebuah perjalanan. Jika kita hendak melakukan sebuah perjalanan maka segala sesuatunya harus dipersiapkan. Sebagai contohj: Jika kita ingin melakukan perjalanan menuju Surabaya, maka kita harus mempersiapkan segala sesuatunya, mulai dari biaya (ongkos), pakaian, obat-obatan, bahkan jalan mana yang harus kita lewati sehingga kita selamat sampai tujuan seperti yang kita kehendaki.

Demikian pula dalam hidupi ini, tempat tujuan akhir kita adalah kematian. Lalu apa yang harus kita siapkan menghadapi kematian itu?.

Rasulullah saw bersabda, “Orang yang cerdas adalah orang yang dapat menahan hawa nafsunya, dan ia beramal untuk persiapan setelah ia meninggal dunia” (HR: Muslim).

Orang yang melakukan perjalanan, akan tetapi orang itu tidak tahu tempat tujuannya maka dia aldah orang bodoh. Dan jika dia sudah tahu tempat tujuannnya, akan tetapi tidak mempersiapkan bekal, maka ia pun termasuk orang bodoh.

Orang cerdas adalah orang yang dalam melakukan suatu perjalanan, mengetahui ke mana tujuannya? Kemudian ia pun mempersiapkan bekal untuk perjalanan tersebut agar tiba di tempat tujuan dengan selamat.

Dengan demikian, jika kita hidup di dunia ini yang diibaratkan seperti melakukan perjalanan, maka kita harus mengerti bahwa tujuan akhir kita adalah akhirat, kemudian kita pun harus mempersiapkan bekal untuk sampai ke akhirat dengan selamat dan bahagia.

Orang yang hanya sibuk dan menyibukkan diri untuk kebahagiaan dunia saja tanpa memikirkan bekal untuk akhirat, naka sama saja dia melakukan sebuah perjalanan akan tetapi dia tidak mengetahui kemana tempat tujuannya dan dimana dia akan berakhir. Demikian pula orang yang mengetahui bahwa tujuan akhir hidup ini  adalah akhirat akan tetapi dia tidak mempersiapkan bekal untuk akhiratnya, maka sama saja dengan orang bodoh.

Oleh sebab itulah, dalam mengarungi bahtera hidup ini, yang pelabuhan akhirnya adalah akhirat, maka kita harus mempersiapkan bekal untuk menuju kampung akhirat itu dengan selamat dan bahagia.  

Lalu, bekal apa yang ideal dalam hidup kita ini? Allah swt berfirman, “Dan, berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa, dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal “ QS. Al-Baqarah: 197)

Jadi, takwa-lah sebaik-baik bekal dalam hidup ini. Takwa adalah perasaan takut melakukan perbuatan dosa, takwa adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya. Takwa adalah seperti engkau berjalan di sebuah jalan yang oenuh dengan onak-duri lalu engkau berhati-hati agar tidak terluka oleh duri itu. Takwa adalah perasaan selalu diawasi oleh Allah dimanapun kita berada.

Dengan takwa itulah, kebahagiaan akan dapat kita raih, bukan hanya kebahagiaan abadi di akhirat saja yang memang menjadi ujung perjalanan hidup kita, akan tetapi kebahagiaan juga akan kita rasakan saat dalam perjalanan hidup kita di dunia.

Firman Allah swt,  “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Dia akan memberikan baginya jalan keluar (dari segala masalah) dan akan memberi rezeki yang tidak diduga-duga” (QS. At-Thalaq: 2-3

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” (QS. Al-A’raf: 96)
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur dan gadis-gadis remaja yang sebaya dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman). Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula) perkataan dusta Sebagai pembalasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak.” (QS. An-Naba’: 31-36).


http://islamediaonline.files.wordpress.com/2012/05/jamhuri.jpg
Ustadz Muhammad Jamhuri