Erdogan's Way vs Paham 'Take Away'


Islamedia - Tak ada alasan bagi saya, selain mengatakan Bravo untuk Tuan Erdogan, keluarga besar AKP, dan seluruh rakyat Turki. Mereka mampu mencapai puncak kedewasaan berbangsa bernegara, kendati perbedaan politik selama ini.

Di sisi lain. Erdogan menunjukkan kapasitasnya. Sebuah aksi kudeta yang dirancang lama, didanai asing. Direstui negara adidaya. Namun Erdogan tampil memenuhi janjinya:

"Aku telah siapkan kain kafanku!" Tampil percaya diri. Sebab ia pemimpin sukses prestasi, bukan sukses menjual asset negeri.

Bayangkan. Di saat genting. TV Turki dikuasai dan media massa dunia sudah menurunkan berita, bahwa Erdogan meminta suaka ke Jerman. Erdogan malah menantang maut. Pesawatnya terbang ke Istanbul. Persis ke bandara yang dikuasai anasir kudeta.

Di malam Sabtu itu, Mesir, Syiria, Iran, Rusia, Amerika, Israel dan Emirates Arab, sudah siap-siap berpesta pora atas kudeta terhadap sosok pemimpin yang mereka juluki sebagai "si kepala batu". Semua akhirnya gigit jari. Semua berita kepergian Erdogan, disiarkan dari UAE.

Apa kunci suksesnya Erdogan? Selain pertolongan Allah, Erdogan mempercayai rakyatnya, bukan pada Amerika atau Uni Eropa. Terbukti, rakyat turun ke jalan, tampilan mereka lengkap, dari segala unsur, bukan hanya tampilan agamis.

Saya pun melihat, wajah-wajah pengkudeta, nampak wajah-wajah shalih. Saya yakin. Upaya Islamisasi di lingkungan militer Turki, cukup sukses. Pihak militer nampak "setengah hati" saat jutaan rakyat membela Erdogan.

Paling tidak, Militer Turki tidak serusak militer Mesir, yang sejak 1973 dijuluki "anjing Camp David". Militer Mesir dihancurkan jiwa ksatriaannya. Tentu oleh "suguhan wanita-wanita Israel", yang tiada lain agen-agen Mossad di dunia Arab.

Nah jangan lupa, di Turki, kalangan Muslim yang bernaung di bawah Depag, mereka telah tershibghah dengan pembinaan Sayyid Noorsi sejak lama. Lain halnya dengan lembaga seperti Al-Azhar dan kementrian Wakaf Mesir. Pun di Turki, elemen-elemen Muslim berpaham 'Take Away' pembenci Erdogan, bisa dikatakan adanya sama dengan tiada.

Kunjungi website dan tulisan kader-kadernya. Kita akan temukan. Mereka banjir galau. Tanpa sadar, semakin membuktikan bahwa mereka seiring sejalan sehaluan dengan kalangan Liberalis, Sekularis, Syiah, aliran sesat. Padahal di tataran jargon, teramat menakjubkan. Tapi di tataran realita, menjemukan.

Nandang Burhanudin