Darimanakah Radikalisme ISIS ?




Islamedia - ISIS atau Daesh adalah varian kelompok Salafi-Jihadis yang lebih radikal dan takfiris dari kelompok pecahan sebelumnya, Jabhah Nusrah atau Tandzim al Qaidah. Mereka menjadikan kaum Muslimin yang tidak mendukung perjuangan atau berhijrah ke wilayah yang mereka proklamirkan sebagai target Jihad.


Dalam tradisi gerakan Islam, kebangkitan kelompok super radikal biasanya difasilitasi pihak-pihak musuh sebagai strategi pelemahan atau balance of power atas gerakan ‘radikal’ yang ada. Doktrinnya, enemy of enemy is friend. Biasanya, varian yang dimunculkan cenderung lebih radikal, lebih militan dan tanpa kompromi. Counter strategy bagi Faksi Mujahidin adalah Taliban dan bagi Al Qaidah adalah ISIS atau Daesh. Kendati dalam perjalanannya, sang fasilitator selalu tidak dapat mengendalikan sepak terjang embrio musuh yang difasilitasinya.


Pelbagai bukti menunjukkan kehadiran ISIS banyak difasilitasi intelejen AS, Barat dan Israel. Para pendukung Daesh adalah kombinasi eks pengikut tandzim al Qaidah Irak dan elemen garda revolusi Irak Baathis pasca tergulingnya Saddam dengan dukungan dan fasilitas intelejen Barat baik secara langsung maupun lewat pihak ketiga.


Ideologi takfiri ISIS harus diakui berangkat dari pemahaman teks keagamaan (kendati salah) tentang prinsip-prinsip Jihad, Hijrah serta Iman dan Kafir. Untuk itu, wajib bagi kita mendudukkan kesalahan dan interpretasi khariji tersebut. Namun, tidak dapat dibantah bahwa kelahiran pemahaman tersebut tidak dapat dilepaskan dari konteks politik yang terjadi.


Elemen ekstrimis dalam sejarahnya selalu lahir karena dua alasan; Pertama, perlakuan zalim para rejim diktator yang menghisap rakyat dan umat. Kedua, campur tangan dan eksploitasi Barat di dunia Islam.


Kedua faktor atau salah satunya selalu dianggap sebagai patologi politik akut di dunia Islam. Misalnya, Revolusi Iran pecah karena kombinasi dua faktor tersebut, kezaliman Shah Iran 1989 dan eksploitasi kekayaan minyak negara tersebut. Sementara, embrio radikalisme di dunia Arab yang tidak terkendali sekarang adalah buah manipulasi perang Bush di Irak.


Resolusi problem radikalisme di dunia Islam mutlak berada dalam pendekatan,pertama, koreksi paham keberagamaan yang salah. Dalam praktiknya, Yusuf Qaradhawi pernah berperan penting dalam deradikalisasi Jamaah Islamiyyah pasca syahidnya Sayyid Qutb. Kedua, Barat belajar menghormati pilihan demokratis rakyat di negeri-negeri Muslim dan meninggalkan campur tangannya di dunia Islam.


Resolusi konflik tanpa mendekati dua aspek krusial tadi adalah mubazir. Hanya saja, pertanyaannya, mungkinkah? Semoga.



Ahmad Dzakirin