Rusia Perkuat Kerjasama dengan Malaysia untuk Makanan Halal dan Keuangan Islam




Islamedia - Rusia sedang aktif menjalin kerjasama dengan Malaysia untuk memfasilitasi dan mengembangkan industri halal dan perbankan Islam di Rusia, demikian disampaikan Presiden Asosiasi Regional-Rusia Linar Yakupov. Demikian dilansir kantor berita IINA pada Jumat (28/8/2015) kemarin.

Menurut media Daily Express Malaysia, Yakupov menjelaskan bahwa perusahaan-perusahaan Malaysia yang terlibat dalam industri halal, dapat bergabung dengan joint venture untuk membangun pusat produksi dan distribusi di pasar Rusia, yang memiliki populasi muslim lebih dari 20 juta jiwa.

"Rusia benar-benar sedang mendorong agenda substitusi impornya. Kami memproduksi banyak bahan dasar pertanian, yang masih perlu untuk diproses."

"Kami tahu kekurangan kami. Saya pikir kami sedang mendapatkan momentum karena sudah ada perusahaan-perusahaan Malaysia yang cukup matang untuk memasuki pasar Rusia," ujar Yakupov kepada para wartawan setelah menghadiri pertemuan konsultasi Rusia-Malaysia yang dipimpin Menteri Perdagangan dan Industri Malaysia Datuk Seri Mustapa Mohammad.

Pertemuan konsultasi tersebut diadakan di sela-sela berlangsungnya Pertemuan Menteri-menteri Ekonomi ASEAN (AEM) ke-47 yang berakhir Kamis (27/8/2015) lalu.

Delegasi Rusia yang mengikuti AEM dikepalai oleh Menteri Pembangunan Ekonomi Alexey Ulyukaev.

Terkait tema perbankan Islam, Yakupov mengatakan bahwa sudah dilakukan studi kelayakan oleh para pakar dari Malaysia untuk membangun baik itu bank Islam tersendiri ataukah cabang bank Islam dari bank konvensional di Rusia.

Menteri Ulyukaev menggariskan bahwa Rusia telah mencapai tingkat di mana pihaknya dapat menyediakan teknologi industri yang bagus bagi pasar ASEAN.

Pada tahun 2014, Rusia menjadi mitra dagang terbesar Malaysia di urutan ke-22, dengan jumlah total transaksi dagang mencapai 2,8 milyar dolar AS, naik 55,2% dari pencapaian 1,81 milyar dolar AS pada 2013.

Tahun lalu, Malaysia mengimpor senilai 2,07 milyar dolar AS dari Rusia, naik 77% dari 1,17 milyar dolar AS yang diimpor pada tahun 2013. (iina/ismed)