Ramadhan, Ketika Tentara Allah Turun dari Langit





Islamedia -  22 Ramadhan, malam ke-23 Ramadhan. Berarti Ramadhan, bulan penuh berkah dan ampunan ini, tinggal 7 atau 8 hari lagi. Tak terasa, memang. Sepekan ke depan, bulan sudah berganti. Syawal akan menggantikan Ramadhan.

Tak terasa butir-butir kristal bening membasahi kedua mataku. Dan tak lama kemudian, menetes, mengalir di kedua pipiku. Suhu badanku mendingin. Keringat keluar deras dari pori-pori kulitku. Aku tak tahu kenapa, kedua tanganku pun bergerak-gerak, bergetar. Jantungku berdegup keras.

Dua hal yang membuatku sedih. Pertama, karena hingga hari ke-22 Ramadhan ini, aku merasa belum maksimal memburu ridha dan pahala yang diobral-Mu di bulan penuh ampunan ini, ya Ilahi Rabbi. Sedangkan Ramadhan tinggal sepekan lagi. Kedua, karena tidak lama lagi, engkau wahai bulan mulia, Ramadhan akan pergi menjauhiku.
Aku sama sekali tidak pernah tahu apakah akan bisa menjumpaimu lagi atau tidak setahun akan datang. Dan aku berdoa dan berharap agar Ilahi Rabbi mempertemukanku dengan engkau, Ramadhan tahun depan. Amin ya Rabbal alamin.


Saudaraku, tak ada kata terlambat untuk berbuat baik. Meski tersisa satu menit pun, bila ia dapat mengangkat derajat kita, maka pastinya akan dikerjakan. Dengan al-Rahman dan al-Rahim-Nya, di bulan Ramadhan, Allah SWT memberi peluang besar kepada kita untuk menjadi orang-orang yang bertakwa dan diridhai-Nya.

Itulah sebabnya, Dia melipatgandakan pahala mereka yang mengerjakan amal shaleh di bulan penuh ampunan ini. Terlebih lagi, Dia sediakan pahala setara dengan 83 tahun kepada mereka yang berhasil mendapatkan Lailatul Qadar yang Dia sediakan di sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Saudaraku, tak ada kata terlambat untuk memburu ridha-Nya dan pahala Lailatul Qadar di sepekan waktu Ramadhan yang tersisa ini. Di waktu yang tersisa ini, fokuskanlah hati dan diri kita untuk bertakaruf kepada Allah. Luangkan waktu sejenak untuk bercengkrama dengan amalan-amalan akhirat, seperti tadarus al-Qur’an, zikir, shalat, bershalawat, Qiyamullail, perbanyak sadaqah dan amalan akhirat lainnya.

Saudaraku, di sepuluh terakhir Ramadhan, keberkahan Allah SWT akan lebih banyak lagi turun dari langit. Bahkan, di malam di mana datangnya Lailatul Qadar, jutaan malaikat akan turun ke bumi. Turun secara berbaris dan bershaf-shaf dalam jumlah yang tak terhitung, bak jutaan pasir di pantai.

Sehingga, bumi terasa begitu sesak, seakan tak ada ruang lagi yang tersisa. Para malaikat yang mulia itu, mendoakan dan memohon ampunan kepada Allah untuk mereka yang sedang bertakaruf kepada-Nya, melakukan amalan-amalan akhirat di sepuluh hari terakhir Ramadhan dan kepada mereka, para peraih Lailatul Qadar. Subhanallah.
Salah satu hikmah Ramadhan adalah kita bisa berempati kepada orang lain (berdimensi sosial). Empati tidak melulu kita tujukan kepada orang lain, eksternal kita. Justru yang lebih penting dari itu, empati kudu kita berikan kepada internal kita, yaitu keluarga, istri dan anak-anak kita.


Saat ini, karena kesibukan kerja dan tuntutan kebutuhan, keluarga Muslim urban (perkotaan) sulit sekali menemukan momen untuk berkumpul utuh dengan seluruh anggota keluarga inti, istri dan anak-anak. Sehingga, komunikasi antar anggota keluarga pun akhirnya menjadi kendala.

Ramadhan menjawab problematika keluarga tersebut. Banyak momentum di Ramadhan yang bisa menjadi mediasi terbangunnya relasi dan komunikasi yang antar anggota keluarga. Itu bisa kita jalani saat iftor (berbuka puasa) dengan anak-anak dan istri. Bisa juga saat shalat Tarawih berjamaah atau ketika sahur bersama di rumah.

Bahkan, momentum membangun empati dengan anggota keluarga itu juga kini bisa kita jalani saat melakukan Itikaf di masjid. Kita bisa mengajak anak-anak dan istri kita bersama-sama Itikaf di masjid. Saat bertakaruf kepada Allah, Itikaf di masjid itulah kita bisa kembali menyambung dan berkomunikasi intens dengan keluarga, anak-anak dan istri kita. Saat itulah, kita juga bisa saling membangun pengertian dan kesamaan sikap dengan anak dan istri kita.
Ya Rabb, dengan rahman rahim-Mu, kokohkanlah empati di antara kami, anak dan istri kami. Jadikanlah mereka, keturunan kami para hafidz dan hafidzah, para pecinta Qur’an, kalam-Mu. Yang mencintai dan memegang teguh perintah-Mu dan Sunnah Rasul-Mu. Amin.



Rivai Hutapea





 


close
Banner iklan disini