Detik-detik Jelang Kepergian Ramadhan


Islamedia - Ramadhan hari ke-26 atau malam 27. Tiga hari atau empat hari di pengujung Ramadhan. Detik-detik terakhir di mana Ramadhan, bulan ketika napas-napas orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada minyak kesturi, bulan ketika Allah menjadikannya sebagai penghubung antara orang-orang berdosa yang bertaubat, akan meninggalkan kita untuk yang lama.

Di detik-detik terakhir sebelum bulan ketika Allah setiap malamnya membebaskan ratusan ribu orang yang harus masuk neraka, kebanyakan orang lebih memilih bertawaf ke mall dan pusat perbelanjaan, ketimbang Itikaf di masjid bertakaruf kepada Ilahi Rabbi.

Di saat-saat di mana hari tengah berada pada puncak Ramadhan, kebanyakan orang rela bersusah payah memadati jalan-jalan menuju kampung halaman, tanah kelahiran untuk bertemu dengan sanak keluarga, teman sepermainan atau teman-teman sekolah dulu di kampung halaman, ketimbang mengencangkan ikat pinggang, memperbanyak tilawah dan amal ibadah lainnya.

Bahkan, di detik-detik terakhir di bulan yang Allah bukakan pintu-pintu surga, Dia tutup pintu-pintu neraka dan belenggu setan, tidak sedikit juga orang yang merasa “bebas” karena tidak lagi harus berpuasa selama satu bulan penuh. Mereka bergembira karena terbebas dari kewajiban-kewajiban ibadah.

Sungguh paradog jika dibandingkan dengan sikap para sahabat, tabiin, tabiin tabiin dan orang-orang shaleh. Di detik-detik pengujung kepergian Ramadhan, mereka justru merasa berat dan sedih. Terisak-isak, air mata mereka tak henti-hentinya tumpah keluar dari kedua mata mereka.

Itulah kenapa pada zaman Rasulullah Saw, di pengujung berakhirnya Ramadhan, Masjid Nabawi selalu sesak dipenuhi oleh para sahabat Nabi Saw yang menjalani Itikaf. Selama Itikaf mereka tak henti-hentinya meneteskan air mata karena Ramadhan, bulan penuh berkah, ampunan dan pembebas api neraka itu tak lama lagi akan meninggalkan mereka. Dada mereka terasa sesak karena tak kuasa menahan sedih.

Hati mereka berat dan sedih karena merasa belum banyak mengambil manfaat dari Ramadhan. Mereka sedih karena khawatir amalan-amalan ibadah mereka, shaum, tarawih, Qiyamullail, tadarus Qur’an, sadaqah dan amal ibadah lainnya, tidak diterima Allah SWT.

Para sahabat dan orang-orang shaleh setelah mereka tak kuasa menahan sedih karena mereka pun khawatir amal-amal yang dilakukan selama Ramadhan belum dapat menghapuskan dosa-dosa, besar dan kecil yang menumpuk selama ini.
Betapa tidak, bulan yang penuh keberkahan dan keridhaan Allah itu akan segera pergi meninggalkan mereka. Kelezatan bertakaruf kepada Allah saat shaum, Tarawih, tadarus Qur’an, tahajud, Itikaf, dan ibadah lainnya dengan limpahan kasih sayang, keberkahan dan bonus-bonus pahala dari-Nya, tidak lama lagi akan berakhir.

Terlebih lagi, mereka juga sangat paham bahwa usia bukanlah milik mereka. Belum tentu Allah mempertemukan mereka kembali dengan Ramadhan tahun depan. Tidak ada yang tahu apakah mereka bisa merasakan kembali kelezatan beribadah shaum, tilawah Qur’an, Tahajud, Itikaf di Ramadhan tahun depan.

Karena itulah, tak heran jika mereka, orang-orang shaleh begitu sedih bila melihat suatu kamu tertawa, terbahak-bahak di Hari Raya. Mereka akan mengatakan seperti yang dikatakan Wahb bin al-Ward saat melihat suatu kaum sedang tertawa di hari raya, “ Jika mereka termasuk orang yang diterima ibadah puasanya, lantas pantaskah tertawa itu sebagai wujud rasa syukurnya? Dan jika mereka termasuk orang yang ditolak ibadah puasanya, lantas pantaskah tertawa itu sebagai wujud rasa takut mereka?“

Subhanallah, begitu halus dan mulianya pensikapan para sahabat, tabiin dan orang-orang shaleh menjelang kepergian Ramadhan. Mereka merasa khawatir amalan ibadah mereka tidak diterima Allah karena merasa diri banyak kekurangan. Padahal realitanya, mereka adalah orang-orang mulia karena paling bersungguh-sungguh menjalani perintah Allah dan Rasul-Nya.

Jika sahabat dan orang-orang shaleh mensikapi detik-detik kepergian Ramadhan seperti itu, lantas bagaimana dengan kita yang realitanya selama ini kurang bersungguh-sungguh menjalankan perintah-Nya. Yang juga selama ini tidak sering banyak berlumur dosa ketimbang pahala.

Ya Rabb, dengan sifat ghafur-Mu, ampunkanlah sekecil apa pun kesalahan kami. Dengan sifat rahim-Mu, berilah keberkahan sepanjang perjalan hidup kami hingga Engkau memanggil kami. Amin.

Rivai Hutapea