Revolusi Sunyi Erdogan Menuju Kebangkitan Islam di Eropa



Islamedia -  Peningkatan jumlah sekolah Imam Hatip serta pemberian akses bagi mereka masuk ke perguruan tinggi sepertinya menjadi jalan pintas (shortcut strategy) Erdogan untuk menyediakan SDM alternatif setingkat middle management.

Dalam rentang 5-10 tahun, mereka akan mengisi kekosongan lapis tengah birokrasi setelah menyelesaikan studi berdasarkan jurusan yang dipilihnya, tidak hanya terbatas di lingkungan kementerian agama (Diyanet) saja.


Konversi sekolah Imam Hatip juga menjadi strategi efektif lainnya untuk meningkatkan jumlah dan cakupan sekolah agama ini pasca Kudeta 1997. Jumlah sekolah bertambah dan pendidikannya dapat ditempuh mulai setara tingkat menengah pertama.


Seiring berlakunya kewajiban pendidikan agama bagi usia wajib sekolah, maka otomatis terjadi konversi besar-besaran sekolah Imam Hatip yang tadinya masuk dalam kategori pendidikan non formal (vocational school) menjadi sekolah formal.


Sejak AK Parti berkuasa di 2002, terjadi peningkatan secara signifikan jumlah murid Imam Hatip, sekitar 90 persen atau 1 juta siswa, hampir 10 persen dari jumlah total anak wajib sekolah.


Pada 2012, pemerintah mengenalkan sistem pendidikan wajib, yang dikenal dengan 4+4+4. 4 tahun untuk pendidikan dasar, 4 tahun pendidikan menengah dan setelah itu, 4 tahun berikutnya, siswa diberi kesempatan pilihan untuk memilih jurusan pendidikan umum atau agama. Dalam skema baru ini, kira-kira 40 ribu siswa di sekolah pemerintah secara otomatis terdaftar sebagai siswa sekolah Imam Hatip.


Sebagai sebuah transformasi strategi Erdogan terhitung brilian. Konsep sekularisme Kemal mengakar di Turki. Mustafa Kemal dalam akal mayoritas rakyat Turki -selain dikenal sebagai pendiri Republik, juga pahlawan bagi rakyat Turki. “Jangan mengkritik langsung Ataturk didepan rakyat Turki,” nasehat mahasiswa Indonesia. Bagi saya, saran itu bukannya berlebihan. Dalam buku kurikulum sekolah di Turki, dua lembar setelah sampul depan selalu disisakan untuk gambar dan pidato Kemal Ataturk. Dan, setiap hadir di sekolah, diwajibkan ‘berjanji’ didepan fotonya untuk menjadi warga Turki yang baik.


Transformasi Erdogan membutuhkan waktu satu dekade. Dalam rentang itu, Erdogan secara formal tidak pernah mencela atau menantang dominasi Kemalisme. Bahkan, Erdogan menyatakan menerima prinsip-prinsip sekularisme tentu dengan interpretasinya. Sebaliknya, dia fokus pada sektor lain, perbaikan ekonomi dan kinerja pemerintah demi merebut kepercayaan dan hati rakyat.


Saya bertemu dengan seorang pemuda di dekat lapangan Hagia Sophia,-katakanlah- setipe generasi sekuler karena tidak sholat dan minum alkohol. Dia juga mengatakan tidak akan memilih dalam pemilu mendatang, karena benci politik. Hanya saja uniknya, dia mengatakan dirinya cukup waras ‘membela’ Erdogan ketimbang Kemal Kilicdaroglu. “Ekonomi membaik dan Turki yang kuat,” demikian kurang lebih alasannya.


Citra positif dan dukungan suara mungkin target yang dibutuhkan Erdogan dan AK Parti sehingga menang pemilu tiga kali berturut-turut. Dalam konteks itu, proses reformasi konstitusional terjadi. Amandemen UU pendidikan 2012 menjadi titik tolak reformasi di sektor pendidikan karena mengakhiri secara simbolik kontruksi sekularisme anti agama. Bukannya tanpa resistensi ataupun protes, namun masyarakat tampaknya cukup nyaman dengan kondisinya dan tidak terlalu tertarik dengan aksi tersebut. So What?


Simbol Kemalisme yang Memudar

Hanya saja, ada fenomena menarik yang saya amati disepanjang kunjungan saya di situs-situs utama peninggalan Usmani, seperti Topkapi, Hagia Sophia dan museum teknologi Islami. Dalam 3 hari berbeda, saya menjumpai banyak anak-anak dari pelbagai sekolah di Turki mengunjungi tempat tempat tersebut. Dapat dikatakan, mereka rombongan turis terbesar kedua disana.


Hal serupa juga terjadi di Panorama 1345, museum diorama yang dibangun khusus pemerintah Erdogan untuk mengabadikan sejarah penaklukan Muhammad al Fatih. Gambar tiga dimensi, dentuman meriam dan dentingan suara pedang hampir secara sempurna menggambarkan heroisme Turki. Beberapa hari pasca peringatan, museum tersebut masih dipadati pengunjung dan sebagiannya anak-anak sekolah.


Bukan semata kebetulan, jika saya melihat benang merah dari semua hal tadi. Tampak kuat konstruksi sistemik Erdogan dalam reformasi pendidikan versinya. Jika konstruksi sekuler sebelumnya mewajibkan siswa mengikuti mata pelajaran sejarah Mustafa Kemal, maka Erdogan sebaliknya mengenalkan kembali simbol baru Turki yang berasal dari akar dan kebanggaan sejarah mereka sendiri, yakni Muhammad al Fatih, Sang penakluk.


Hanya saja, tidak untuk menegasikan eksistensi Kemal Ataturk, karena faktanya tradisi foto dan janji kepada Ataturk masih ada, namun Erdogan secara evolutif memberikan alternatif sosok baru yang dipandang tepat bagi Turki yang kuat di masa depan.


Erdogan sepertinya hendak membangun memori baru rakyat Turki dengan sosok idola baru dimata rakyat, bukan dirinya- namun tokoh kuat, bahkan lebih kuat dari Kemal sendiri. Dari sosok ini melekat citra kuat yang relevan dengan misi Erdogan membentuk generasi relijius. Menyoal Muhammad al Fatih, maka otomatis juga membincangkan Islam karena dalam kenyataannya, perjalanan hidup sang legenda menjadi perjalanan cita-cita dan harapan Islam.


“Penakluk Konstantinopel adalah sebaik-baiknya pemimpin dan pasukan,” demikian puji Nabi SAW. Pesan politik yang sangat kuat, karena dalam konteks kesejarahan, rakyat Turki pasti akan mengatakan bahwa mereka adalah keturunan sebaik-baiknya pemimpin dan sekuat-kuatnya pasukan.


Jika demikian, saya melihat Erdogan hendak menanamkan akal baru atau setidaknya pesan baru bagi rakyat Turki dan khusunya, murid-murid sekolah dasar di Turki. Erdogan sedang berinvestasi masa depan. Setidaknya 20 tahun depan, generasi relijius akan menjadi fenomena utama dan jamak di masyarakat.


Jika terjadi, maka pencapaian tersebut layak disebut ‘the greatest silent revolution'. Revolusi tanpa berisik. Erdogan sukses melakukan revolusi dukungan dan preferensi politik rakyat, maka tahap berikutnya, ditunggu revolusi akal dan pikiran baru rakyat. Wallahu A’lam.


Ahmad Dzakirin

[islamedia]