Aku Iri Dengan Lebah


Ilustrasi - © National Geo
Islamedia -  Selasa (5/5), Subuh. Langit masih tertutup tirai hitam. Sayup-sayup, suara azan berkumandang dari pengeras suara masjid yang terletak persis di depan rumah tempat tinggalku, Rawajati, Kalibata, Jakarta Selatan. Seperti biasa, setelah kutunaikan kewajiban sebagai hamba shalat Subuh berjamaah di masjid, kulanjutkan tilawah harianku sebelum aku dan istri sibuk mengurusi keperluan anak-anak sekolah.

Langit hitam perlahan berganti putih. Aku buka jendela dan pintu rumah. Udara pagi yang sejuk dan dingin, langsung menyergap tubuhku dan perlahan tapi pasti mengisi sudut-sudut di ruangan rumah kami. Suhu ruangan di rumah kami yang sejak semalam normal, berubah menjadi terasa segar.


Pagi itu, tiba-tiba saja aku terhentak dengan polah seekor hewan kecil berwarna hitam. Ia terbang berputar-putar di atas taman depan halaman rumah kami. Kemudian hinggap di salah satu bunga yang tumbuh di situ. Lebah. Benar hewan itu adalah lebah. Ia hewan kecil, tak lebih besar dari jempolku.


Entah mengapa aku benar-benar iri dengan lebah. Bahkan sangat iri. Mungkin saudaraku akan bertanya-tanya kenapa harus iri dengan seekor lebah. Apalah artinya lebah ketimbang kita manusia, makhluk mulia ciptaan-Nya. Meskipun hanya seekor hewan, tidak lebih mulia dari kita manusia, tapi lihatlah lebah sangat tersohor, tenar ke seantero negeri. Bahkan, boleh jadi lebah lebih tersohor ketimbang seorang publik figur sekalipun. Jujur saja, siapa yang tidak kenal lebah. Pastinya, jarang sekali dari kita yang tidak mengenal makhluk kecil ciptaan Allah ini.


Mengapa lebah begitu tersohor? Bukan karena bentuknya yang kecil hingga ia tersohor. Tapi, karena makhluk kecil ini memberikan banyak manfaat dan keutamaan bagi makhluk lain, tak terkecuali bagi kita manusia. Tengok saja, selain membantu proses penyerbukan pada tumbuhan, madu makanan yang dihasilkan lebah, memiliki banyak manfaat. Memacu pertumbuhan dan pembentukan otak, khususnya di usia pertumbuhan anak-anak adalah salah satu manfaat dari madu. Menjaga imunitas tubuh, manfaat berikutnya dari madu. Sehingga, wajar jika banyak orang di belahan dunia manapun, doyan mengkonsumsi madu. Hal itu terlihat dari tingginya asupan madu dunia selama ini.


Tak cukup sampai di situ. Kehidupan lebah pun sungguh bersih dan terpuji. Untuk mempertahankan hidupnya, lebah hanya memakan dan menghisap sari pati bunga, sesuatu yang bersih dan terbaik dari bunga. Sari pati bunga yang dihisap lebah masuk ke dalam tubuh lebah. Kemudian, sari pati ini bercampur sebuah sekresi dari tubuh lebah. Hasil proses itu menghasil cairan terbaik, yaitu madu. Subhanallah.


Inilah yang membuat aku iri dengan lebah. Sepanjang hidupnya, lebah selalu memberi banyak manfaat bagi makhluk lain, tak terkecuali kita manusia. Hidupnya pun cukup bersih. Hinggap dari satu bunga ke bunga lainnya. Memakan hanya sari pati bunga, makanan yang paling terbaik.


Ini pula yang membuat aku meneteskan air mata. Aku manusia, bukanlah seekor lebah. Tapi, terkadang hidupku tidak lebih mulia dari binatang kecil ini. Terkadang aku sering lupa mengingat Allah SWT. Karena ambisi dan keserahan, aku terkadang tidak lagi ingat batas-batas halal dan haram.


Bahkan, tak jarang aku memberikan makanan dan minuman tidak baik dan haram kepada keluarga, rekan-rekan, sahabat dan sanak familiku. Ironisnya lagi, hal itu terjadi tidak hanya sekali. Berkali-kali. Berhari-hari. Berminggu-minggu. Bahkan, bertahun-tahun. Aku sering lupa, sering mengabaikan perintah-Nya, sebaliknya malah menjalani larangan-Nya. Naudzubillahi mindzalik.


Padahal, aku telah tahu itu larangan-Mu. Aku pun mengerti pesan Rasul-Mu. Tapi, lagi-lagi aku sering melanggarnya. Aku justru mengabaikannya. Aku seakan-akan tak takut dengan ancaman-Mu, ya Rabb. Bahkan, aku terkadang lupa. Bahwa cepat atau lambat aku pun pasti akan kembali kepada-Mu, ya Rabb untuk mempertanggungjawabkan segalanya di hadapan pengadilan-Mu, kelak.


Aku rindu hidup seperti lebah. Sepanjang hidup selalu mampu menjaga diri dari hal-hal yang kotor. Hanya menkonsumsi makanan dan minuman pilihan yang baik dan bersih. Seperti halnya lebah, aku pun sangat rindu untuk selalu tulus menebar dan memberikan manfaat bagi banyak makhluk dan hanya mengharap balasan dari-Mu, ya Allah. Dan seperti halnya lebah, aku rindu selalu taat mengikuti perintah-Mu dan menjauhi larangan-Mu dan Rasul-Mu. Aku iri dengan lebah.
[Rivai Hutapea]