Pentingnya Definisi Ketika Membahas Wahyu Allah SWT


Islamedia - #IndonesiaTanpaJIL kembali mengadakan perkuliahan Sekolah Pemikiran Islam (SPI) yang kelima pada hari Kamis, 2 April 2015. Kuliah diadakan di Rumah Shynergy, Kantor Tabloid Suara Islam, di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan. Sebanyak 24 peserta hadir dalam kuliah ini, yang terdiri dari 17 peserta pria dan 7 peserta wanita, membahas “Konsep Wahyu dan Kenabian”, bersama Muhammad Fadhila Azka, Ketua Divisi Kaderisasi #IndonesiaTanpaJIL Pusat. 

Secara bahasa, menurut Azka, definisi wahy (wahyu) adalah al-maktub (tertulis), al-risalah (pesan), ilham, al kalam al khafi (pembicaraan yang tersembunyi), dan wakullu al-qaituhu lighairika (suara yang berada di dalam manusia). “Adapun definisi wahy secara bahasa yang terambil dari Al-Qur’an adalah ilham sebagai bawaan dasar manusia, insting naluri pada binatang, isyarat cepat melalui kode, bisikan dan tipu daya untuk menjadikan sesuatu tampak indah dalam diri manusia, dan apa yang disampaikan Allah sebagai suatu perintah untuk dikerjakan,” ujarnya.

“Secara istilah, wahyu adalah pemberitahuan yang bersifat tertutup, tidak diketahui pihak manapun, cepat dan hanya untuk yang dituju. Sedangkan kaum Islam liberal mendefinisikan wahyu sebagai pesan ilahiyah yang diturunkan kepada manusia dan melibatkan proses respon manusia. Definisi dari kelompok Islam liberal ini mengisyaratkan bahwa wahyu yang tertulis dalam Al-Qur’an telah diubah oleh Rasulullah,” ungkap Azka lagi. Dengan definisi semacam ini, muncul kesan bahwa Al-Qur’an dapat dikritisi, karena Rasulullah saw bisa jadi salah dalam menangkap pesan-pesan Ilahi.

“Definisi menjadi sangat penting dan harus jelas karena salah satu upaya kaum liberal dalam mengaburkan ajaran Islam adalah dengan mengaburkan definisi dari konsep-konsep kunci,” ujar pria kelahiran Jakarta yang kerap dipanggil Askung ini. 

Kajian seputar wahyu dan kenabian ini mendapat tanggapan baik dari para peserta kuliah. “Membuka lebih ilmu tentang hal yang selama ini dianggap tabu untuk di bahas. Insya Allah, semakin menambah khazanah keilmuan dan keimanan kita”, ujar Nurul Iman. Imamudin Mukhtar, peserta SPI lainnya, juga berkomentar positif. “Dengan perkuliahan kemarin banyak menambah pengetahuan saya tentang konsep wahyu dan nabi. Jelas, dalam konsep wahyu tidak ada sama sekali campur tangan manusia.”, ujarnya. (Almay-SPI/islamedia/aj)



close
Banner iklan disini