Nasehat Kehidupan


Islamedia -  Saudaraku,
Dunia memang dahsyat. Dunia memang luar biasa. Ya, ia luar biasa indah. Berbagai kesenangan dan keindahan, membaluti dunia ini. Karena itu, tidak mengherankan jika banyak di antara kita yang akhirnya tergoda. Tergoda sekaligus terlena mengejar keindahan dan kesenangan yang ditampakkan oleh dunia itu.


Tarikan dunia benar-benar melelahkan dan melengahkan kita, sejadi-jadinya. Banyak, ya cukup banyak dari kita kemudian lalai mengingat Allah SWT. Kita semakin jauh dari-Nya, sejauh-jauhnya. Lantaran nafsu mengejar obsesi dunia, wajah kita kering karena tak lagi pernah dibasuhi air wudhu. Karena nafsu mengejar kedudukan, pangkat dan jabatan, bibir ini kelu karena tak lagi pernah menyebut nama-Mu. Karena nafsu serakah itu, jidat ini pun tak pernah lagi bersungkur sujud mengeluhkan kefakiran diri.


Tangan ini, kaku karena tak pernah lagi menengadah memohon ampunan dan belas kasih-Mu. Karena obsesi, cita-cita dan kecintaan yang berlebihan terhadap dunia ini, hati ini kian keras, sekeras batu hingga tak lagi mampu bergetar saat firman-Mu dilantukan. Dan mata ini, ya mata ini, karena kerasnya hati, tak lagi bisa meneteskan air mata saat berita kubur dan neraka disampaikan. Naudzubillahi mindzalik.

Saudaraku,
Sampai kapan hal ini akan terjadi. Sampai kapan nafsu, obsesi dunia ini mengejar-ngejar kita. Sampai kapan kita harus mengejar kedudukan, pangkat dan segala kenikmatan dunia lainnya. Sampai kapan kita menomorduakan Allah. Sampai kapan tangan ini tidak lagi menengadah memohon segala kepada-Nya. Sampai kapan diri ini tak lagi tersungkur sujud mengharap belas kasih-Nya.


Sampai kapan, saudaraku. Sampai besokkah. Sampai satu pekan lagi atau dua pekan lagikah. Atau sampai satu bulan lagi. Sampai satu tahun lagi. Atau nanti sampai usia kita sudah senja. Waktu di mana mata sudah rabun, pipi sudah kendur, rambut sudah beruban dan pikiran sudah pikun. Sampai kapan saudaraku. Sampai umur usia kita di atas 50 tahun atau 60-an tahunkah.
Mungkin ada di antara kita yang menjawab berbeda. Sampai hidayah menghampiri kita. Baru kemudian kita akan kembali bersujud simpuh kepada-Nya. Sekarang adalah waktunya mengejar obsesi dunia dan mewujudkan keinginan-keinginan pribadi. Nanti akan tiba saatnya untuk datang bersujud kepada-Nya. Bukan saat ini.

Duhai sahabatku,
Ketahuilah, hari esok, pekan besok, tahun besok, bukanlah milik kita. Dapatkah kita menjamin bisa berjumpa lagi dengan hari esok, pekan besok atau tahun depan. Apakah kita yakin bisa bersama-sama lagi dengan anak, istri, orang tua, rekan, klien bisnis kita besok, pekan besok atau tahun depan.
Yang berpendapat nanti saja sampai hidayah tiba. Yakinkah nanti kita akan mendapat hidayah dari-Nya. Bagaimana jika sebelum hidayah tiba, malaikat maut sudah mendatangi dan menjemput nyawa kita. Kita sudah berpindah alam sebelum sempat untuk bersujud simpuh kepada-Nya. Pernahkah hal itu terlintas dalam benak kita?

Saudaraku,
Hari esok belum tentu milik kita. Mungkin besok, pekan besok atau tahun besok kita sudah tak bisa lagi bicara, tak bisa becanda dengan anak istri, tak bisa lagi membicarakan bisnis dengan klien kita. Karena tubuh kita telah terkujur kaku di rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal kita.


Kita tak dapat lagi bicara karena kita sudah menjadi seonggok daging yang tak bernyawa. Para tetangga, kolega, rekan bisnis, teman kantor mendatangi jasad kita. Setelah berdoa, mereka pun meninggalkan kita yang tetap terkujur kaku di atas dipan rumah kita. Hanya tertinggal anak, istri dan saudara dekat yang hanya bisa meneteskan air mata di samping jasad kita yang kaku itu.


Kini, kita tak bisa lagi berbuat apa-apa. Kita tak lagi bisa menambah amal shaleh. Tak bisa lagi berinfak, menegakkan shalat, zakat, berpuasa. Bahkan, kita tak lagi bisa , menambah amal kebajikan walau hanya menebar senyum kepada orang lain. Tertutup sudah pintu amal kebaikan untuk kita. Tinggallah kita menghadapi pengadilan Allah, mempertanggungjawabkan perbuatan semasa hidup.

Saudaraku,
Janganlah menunggu-nunggu lagi. Segeralah datangi Allah SWT. Bertaubatlah dan mohon ampunlah kepada-Nya. Basuhilah kembali muka kita dengan wudhlu. Kemudian datangilah rumah-Nya di mana pun berada. Dengan penyesalan yang mendalam, bersimpuh sujudlah kepada Sang Khalik.


Angkatlah tangan kita, merengek, menangis, berbicaralah kepada Allah, Tuhan kita. Akuilah bahwa selama ini kita telah salah memilih jalan. Kita telah terbuai dengan keindahan dunia. Kita telah memperturutkan nafsu sampai sejadi-jadinya. Hingga kita telah melupakan-Nya. Kita telah menomorduakannya. Kita telah mempersekutukannya dengan yang lain.


Menangislah di hadapan-Nya. Mohonlah agar Dia, Allah memberi kesempatan dan waktu sekali lagi bagi kita sebelum ajal menjemput. Mudahkan kita untuk menjalani perintah-Nya dan mengikuti Sunnah Rasul-Nya. Teguhkan dan kuatkan iman dan hati kita untuk selalu istiqamah berada di jalan-Nya yang lurus.


Ya Allah, kepada-Mu kami bersimpuh, kepada-Mu kami mengadu, kepada-Mu pula kami memohon, kuatkan akar iman dalam diri kami dengan sekuat-kuatnya hingga tak lagi goyah dengan keyakinan lain. Mudahkan kami meneladani Sunnah Rasul-Mu. Sempurnakanlah amal ibadah kami.


Dan bila saatnya kematian itu tiba. Maka akhirkan lisan kami ini dengan menyebut la ilaha illallahu. Agar dengan itu Engkau, ya Rabb, masukkan kami ke dalam surga.



Rivai Hutapea

close
Banner iklan disini