Inilah Pengakuan Mengejutkan Mantan Menteri Libanon Eks-Penasehat Bashar Assad


Islamedia -  Mantan Menteri Informasi Libanon, Michel Samaha, kemarin mengakui bahwa ia telah mengangkut bahan peledak dan sejumlah uang dari Suriah untuk digunakan dalam serangkaian pembunuhan dan serangan bom di Libanon, demikian dilaporkan kantor berita AFP sebagaimana dikutip Middle East Monitor, Selasa (21/4).

"Saya menerima dari pihak Suriah, duit sejumlah 170.000 dollar di dalam tas ... dan saya taruh di bagasi mobil bersama bahan peledak," kata Samaha, yang juga pernah menjadi penasihat Presiden Suriah, Bashar Al-Assad. Ia menyampaikan pengakuan itu dalam sesi pertama pengadilannya yang telah lama tertunda, di hadapan pengadilan militer.

Namun, Samaha masih berkelit bahwa ia hanyalah korban penjebakan, karena dirinya mengaku tidak menyadari bahwa rekan konspiratornya ialah seorang informan pasukan keamanan Libanon.

"Saya membawa duit dan bahan peledak itu ke Beirut pada Agustus 2012 dan menyerahkannya kepada seorang lelaki bernama Milad Kfouri, namun saya tidak sadar bahwa Kfouri ternyata terkait dengan badan intelijen," ujarnya.

Samaha sudah ditahan semenjak Agustus 2012 atas dakwaan bahwa ia dan dua orang pejabat Suriah, yaitu pejabat Biro Keamanan Nasional Suriah Mayjen Ali Mamlouk dan seorang asistennya yang nama depannya diidentifikasi sebagai Adnan, mengangkut bahan peledak dari Suriah ke Libanon sebagai bagian dari usaha pembunuhan para pemimpin politik dan keagamaan Libanon.

Samaha mengatakan, bahwa rencananya ialah untuk menjalankan serangkaian pengeboman di perbatasan Suriah, agar menutup perbatasan itu secara permanen, dan menghentikan arus pejuang Sunni Libanon yang hendak bergabung dengan kekuatan oposisi melawan rezim Suriah.

Pengacara Samaha, Rana Azoury mengatakan kepada AFP bahwa kliennya "menjelaskan kepada pengadilan bahwa ia jatuh ke dalam perangkap yang dipasang oleh badan intelijen Libanon melalui Milad Kfoury."

Azoury menambahkan "Di bawah hukum Libanon, jika Anda bertindak karena dorongan seorang agen provokator, maka itu pembelaan yang sah dan bisa membebaskannya dari tuduhan."

Samaha berdalih bahwa bertindak seperti itu untuk melindungi Libanon dari perselisihan sektarian. "Memang benar saya telah berbuat salah, tetapi saya berbuat itu untukmenghindarkan sengketa sektarian," katanya.

Pengadilan tersebut ditunda hingga tanggal 13 Mei. Jika terbukti bersalah, Samaha bakal menghadapi hukuman mati. (memo/islamedia)