Bullying Adalah Kita


Islamedia -  Sebuah film dokumenter besutan sutradara Larry Clark berjudul Bully mengungkapkan bagaimana peristiwa bullying itu terjadi hari-hari dan tanpa sepengetahuan pihak yang bertanggung jawab terhadap sekoloah seperti guru dan kepala sekolah. 

Peristiwa ini bisa terjadi di bus sekolah, di kelas saat guru tidak ada, di koridor sekolah atau tempat-tempat tersembunyi di sekolah. Gambaran dokumenter di Amerika tersebut ternyata juga mulai menggejala di lingkungan kita di Indonesia. Peristiwa bullying di sekolah hingga yang makan korban sudah menjadi santapan harian kita di media massa Kekerasan dan penganiayaan (bullying) kerap terjadi dalam lingkungan sekolah. Dalam sekolah model pabrik yang berisi ratusan atau ribuan siswa, fenomena ini sudah seperti api dalam sekam. 

Menurut Kamus Webster, makna kata bullying adalah penyiksaan atau pelecehan yang dilakukan tanpa motif tapi sengaja dilakukan berulang-ulang terhadap orang yang lemah.Biasanya peristiwa bully antara siswa terhadap siswa lainnya terjadi karena beberapa hal berikut.

1. Adanya perasaan superior dari seorang siswa terhadap siswa lainnya. Sikap ini kemudian menumbuh mental zalim. Ibaratnya bahwa ketika di rumah dia tidak memiliki power. Maka di hadapan siswa yang lebih lemah hasrat berkuasanya dilampiaskan. Gejalanya biasanya bukan hanya berkenaan kekerasan fisik atau verbal belaka. Ini juga kadang dalam bentuk memerintah, ngebos terhadap siswa lain. Menyuruh-nyuruh untuk memenuhi kebutuhan hingga yang ekstrim memaksakan kehendak hingga berbuat kekerasan. 
2. Bullying sebenarnya hal yang lazim terjadi dan tak mungkin diberantas sama sekali. Karena  hasrat berkuasa atas orang lain itu sudah merupakan insting dasar manusia. Namun, tentu saja saya tidak sedang mengatakan bahwa bullying boleh karena itu dorongan dasar. Yang saya maksud adalah kita harus mencari akar persoalan bullying agar manifestasi sikap berkuasa tidak dilampiaskan secara brutal dan zalim.
3. Bullying juga kerap dilakukan secara berkelompok terhadap anak yang dianggap tidak layak masuk ke kelompok tersebut, atau anak yang lebih lemah dan sebagainya. Bullying berkelompok juga didasari oleh insting berpolitik manusia. Berkumpul, membentuk koloni, mengumpulkan kekuatan dan menyerang sudah menjadi tabiat dasar manusia. Ini yang sempat dikhawatirkan malaikat ketika Allah hendak menciptakan manusia. “Apakah engkau hendak menjadikan orang-orang yang akan menumpahkan darah di muka bumi? Sementara kami senantiasa mensucikanMu? (Al Baqarah 30). Namun kita yakin insting berkelompok dan bersaing serta berperang itu dapat dibingkai dalam sesuatu yang positif. Pertandingan olahraga dijadikan sarana memenuhi insting ini. 

Melihat fakta-fakta diatas kita dapat melihat sebuah solusi jitu. Pertama hendaklah ditanamkan pada anak usia sekolah. Rasa kepemimpinan yang mengayomi. Ketika anak merasa dirinya istimewa  dibanding anak yang lain. Jadikan itu sebagai motivasi dia untuk justru menebarkan kebaikan. MIsalnya orangtua bisa memotivasi anak dengan kalimat : “Karena kamu spesial dan berbeda dari temanmu maka kamu harus bersabar melihat perilaku mereka” Ini kemudian menumbuhkan motivasi positif. Karena bagi anak usia dini, pujian dan sanjungan tidak lantas membuatnya besar kepala, namun membantu membuatnya mempunyai harga diri.

Bulying yang terjadi verbal ataupun fisikal berkenaan kekurangan seorang anak harus diantisipasi sejak dini. Sikap biasa mengejek orang lain yang kekurangan barangkali sudah menjadi wabah penyakit yang tertanam lewat budaya pop. Hampir semua pengisi acara di tv atau bintang iklan dan sinetron dipilih berdasarkan keunggulan fisik. Berbagai produk pun dibuat untuk memenuhi ‘kekurangan’ yang terus dihembuskan budaya pop. Jadi kita harus melindungi anak-anak kita dari serbuan hiburan-hiburan ‘sampah’ tersebut. 

Sebagai orangtua kita juga harus berhenti memperlakukan anak seperti barang mati yang dititipkan. Masih banyak orang tua yang menjadikan sekolah sebagai tempat penitipan anak belaka. Untuk menggantikan peran mereka di masa-masa sibuk. 

Dan jika tidak bisa menjadi homeschooler carilah sekolah yang memperhatikan siswa dalam berbagai aspek keunikannya. Sekolah yang memanusiakan anak. Sekolah yang guru-gurunya tidak semata mengenal siswa terpintar dan siswa ternakal belaka. Sekolah model begini tidak menjejali kelas dengan banyak siswa. Jika di sekolah kebanyakan dalam satu kelas berisi 20 hingga 30 siswa. Carilah sekolah yang dalam satu kelas hanya ada 5 hingga 10 siswa. Aktivitas belajar akan menjadi jauh lebih efektif. Dan yang terpenting perilaku bullying bisa dieliminasi karena ketiadaan kesempatan. Agar tidak menjadi slogan bagi siswa-siswa kita di sekolah hari ini bahwa “Bullying Adalah Kita”. 


Fajri Hidayat, S.S
Kepala Sekolah HS Alkindi Mahardika - Batam



close
Banner iklan disini