Pemimpin Itu Bermagnet


Ilustrasi
Islamedia.co -  Pada satu hari Jum’at, seusai menunaikan sholat Jum’at berjamaah, sembari istirahat sejenak di pelataran masjid, saya sempatkan membaca sebuah buletin pekanan Jum’at yang diterbitkan rutin oleh sebuah yayasan. Isinya menarik, tentang kepemimpinan dan rekam jejak para pemimpin yang berakhir di penjara. Dewasa kini, antara pemimpin, perilaku buruk mereka, dan penjara (setidaknya urusan pelanggaran hukum) seakan menjadi hal yang punya magnet untuk saling berpasangan, saling terikat satu dengan yang lain. Ibarat perangko dengan amplop surat.

Ambil  smartphone  Anda,  cobalah  search  pemberitaan tentang isi  penjara di  berbagai  media. Penjara negara kita ini telah diisi banyak narapidana yang tak biasa. Banyak mantan menteri, kepala daerah, penegak hukum, anggota dewan, dan pengusaha yang kini mendekam di balik jeruji  besi.  Mereka  dulunya  penuh  wibawa,  berkharisma,  melekat  dengan  bermacam embel-embel  kehormatan  menyertai  kekuasaan  yang  dititipkan  padanya.  

Kini?  Mereka  menghuni penjara  dengan  segala  stempel  keburukan  yang melekat  padanya.  Penjara  dulu  menakutkan, memalukan. Kini? Penjara seakan tidak menyeramkan lagi,  karena telah dijejali  oleh mereka yang berkedudukan dan berpendidikan formal tinggi. Sungguh sebuah ironi. Bukankah banyak dari  mereka itu  notebene para pemimpin  yang (awalnya)  menjadi  public  figure bagi  banyak orang? 

Membaca buletin tadi saya mendapat informasi tentang sebuah surat yang pernah dikirimkan oleh seorang sahabat Nabi Muhammad Saw, ‘Abdullah bin Zubair, kepada seorang tabi’in, Wahbbin Kaisan. Isi  surat itu diabadikan oleh Abu Nu’aim al-Ashbahani dalam karyanya,  Hilyatul Awliya’:  


“Sesungguhnya, pemimpin itu ibarat  pasar.  Apa saja yang laris  di  sana pasti  akan didatangkan ke dalamnya. Jika kebenaran laris di sisinya, maka kebenaran akan didatangkan kepadanya dan para pembelanya pun akan berdatangan. Jika kebatilan yang laris di sisinya, maka para pembela kebatilan pun akan berdatangan kepadanya dan laris di sekitarnya.”


Iya benar. Saya sendiri belum menemukan alasan untuk tidak membenarkan isi surat di atas. Pemimpin itu ibarat pasar yang punya magnet, punya daya tarik yang kuat. Daya tarik di sini bukan seperti daya tarik magnet sebagaimana yang kita ketahui yang menarik kutub berlawanan dan menolak kutub yang sama. 

Tetapi daya tarik pemimpin di sini dalam arti memiliki suatu hal yang membuat semua hal yang ada di sekitarnya tertarik untuk mendekat. Apa daya tarik itu? Dia adalah  power,  kekuasaan.  Menjadi  pengetahuan  umum,  bahwa  pada  diri  pemimpin  melekat kekuasaan yang memberikannya ruang untuk bisa melakukan banyak hal. Baik itu hal yang baik ataupun hal yang buruk. Sehingga para pelaku keburukan dan pelaku kebaikan tertarik mendekat kepadanya. Mereka berlomba mendapatkan tempat di lingkaran kekuasaan pemimpin tersebut.Untuk apa? Tidak lain tidak bukan untuk mewujudkan target mereka masing-masing. 

Seorang bijak, Abul Hasan al-Mawardi, pernah memberikan nasehat kepada para penguasa dizamannya kala membahas bagaimana cara meluruskan rakyat. Beliau menasehati para penguasa untuk terlebih dahulu meluruskan dirinya sendiri. Sebab, tidaklah mungkin meluruskan bayangan jika benda aslinya ternyata bengkok. Sedangkan rakyat ibarat bayangan dari para penguasanya.Beliau berkata, “Penguasa adalah orang yang jauh lebih utama untuk mewaspadai dan berhati-hati  dari  semua  hal  buruk.  Sebab,  ada  sangat  banyak  orang  yang  menginginkan  dirinya, sebagaimana pasar yang didatangkan padanya semua hal yang laris di dalamnya. 

Semua orang yang menemuinya pasti ingin dekat dengannya, entah melalui ucapan maupun tindakan. Entah ingin mengejar kedudukan atau memanfaatkan peluang. Jika saja akal sehat tidak menghalangi mereka  dan  agama  pun  tidak  menahan  mereka,  mereka  pasti  akan  merajalela  dalam kemunafikannya, lalu berkhianat dan melakukan praktek-praktek kotor di lingkaran kekuasaan.”

Bagi para pemimpin, kaidah ini patut menjadi perhatian. Jika Anda kebingungan menyaksikan kondisi orang-orang di sekitar Anda, segeralah berkaca. Sadarilah, bahwa Anda tidak ubahnya pasar yang bermagnet. Komoditas apa pun yang laku dan mudah didapatkan di sekitar Anda, pasti akan semakin ramai berdatangan. Jika yang banyak laku di lingkaran Anda adalah kejujuran dan integritas,  maka para penipu akan kehilangan pasar  dan  dagangan tipuannya tidak  akan punya tempat. Sebaliknya, jika yang merajelala di sekitar Anda adalah penipuan dan manipulasi, maka orang-orang jujur dan berintegritas yang akan kehilangan pasar dan segera tersingkir.

Pemimpin Memang Bermagnet, tapi Rakyat Ikut Menciptakan Magnet Itu

Bagi  rakyat  biasa,  kaidah  ini  bisa  menjadi  metode  bagi  kita  untuk  menggali  calon-calon pemimpin  dan  meneropong  para  pemimpin  yang  tengah  menjabat.  Indonesia  sedang menyongsong pesta pergantian pucuk pimpinan di berbagai daerah. Mari jeli untuk membaca track record para calon pemimpin yang mulai gencar menawarkan diri di berbagai tempat. Kota dimana Anda tinggal bisa jadi sudah dirundung beragam masalah yang belum kunjung tertangani dengan baik. Jangan diperbanyak lagi masalah yang sudah ada ini dengan salah memilih figur pemimpin selanjutnya.  

Perhatikanlah lingkaran para penguasa saat ini. Sebagaimana pasar  illegal yang dipenuhi oleh pedagang dan pembeli illegal, maka – tak menutup kemungkinan – pemimpin yang bermasalah juga  akan  dikelilingi  oleh  para  pembantu  yang  bermasalah  dan  tak  mampu  menyelesaikan masalah. Bukankah secara psikologis manusia cenderung berteman (berkumpul) dengan orang yang serasa,  sealiran,  atau sepemikiran? 

Jika para pelaku kejahatan telah berkumpul,  mereka akan bekerjasama,  bahu-membahu,  saling sokong,  tolong-menolong,  menutup semua bolong, untuk memuluskan agenda kejahatan mereka menjadi sangat rapi dan sulit untuk dibongkar. Didekat  lingkaran  pemimpin  semacam  ini,  hanya  sedikit  kita  temukan  orang  yang  jujur  dan berintegritas.  Mereka  menjadi  kelompok  minoritas.  Biasanya,  para  minoritas  ini  akan menghadapi berbagai macam tekanan dan isolasi yang sungguh menyengsarakan psikis dan fisik. Yang pada akhirnya membuat mereka tersingkir atau menyingkir secara perlahan. 

Dalam konteks lain, kaidah ini bisa menjadi bahan renungan untuk kita. Pada hakikatnya, para pemimpin adalah bagian dari masyarakat itu sendiri. Para bijak terdahulu berpandangan bahwa tampilnya  pemimpin  yang  baik  bagi  suatu  kaum adalah  karunia  dari  Tuhan  atas  kebaikan-kebaikan yang ada pada kaum tersebut. 

Sebaliknya, tampilnya seorang pemimpin yang burukadalah hukuman Tuhan atas dosa dan kesalahan yang banyak pada kaum tersebut. ‘Abdullah bin Bakr  as-Sahmi  berkata,  “Semoga  Allah  memperbaiki  kita  dan  para  pemimpin  kita,  karena sesungguhnya kerusakan mereka  adalah akibat dari dosa-dosa kesalahan kita sendiri.”

Jika  para  pemimpin  yang  muncul  adalah  mereka  yang  suka  disuap,  bisa  jadi  karena  kita warganya mudah disuap saat proses pemilihan umum berlangsung. Jika pemimpin yang muncul tidak memperhatikan kebersihan kota, bisa jadi karena kita warga yang memilihnya lebih suka membuang sampah sembarangan. 

Jika pemimpin yang ada (nampak) acuh tak acuh menangani tambang yang bermasalah, bisa jadi karena kita sendiri adalah warga yang lebih memilih untuk kompromi dengan tambang, lebih acuh dengan kehadirannya, dan lebih memilih untuk terbiasa dengan temuan jenazah bocah di bekas lubang tambang. Atau jika pemimpin kita tidak becus untuk menyelesaikan persoalan yang ada, mungkinkah kita sendiri yang membiarkan dan lebih memilih pasrah menanti “keajaiban”?

















@SurahmanJie
Forum Mata Publik



close
Banner iklan disini