Aku Ingin Kembali Tarbiyah (2) - Cerita Mantan Komentator Dakwah


Islamedia.co -  Iwan (nama disamarkan) merasa jengah. Terasa jiwanya kering. Ruhnya kerontang. Ada rutinitas yang hilang yang kini ia rindukan.

Telah beberapa bulan ia tinggalkan majelis di mana anggotanya saling menasehati dengan cinta. Ia menjauh, duduk di sebuah tempat, lalu mulai mengomentari semua aktivitas peserta majelis itu. Dalam duduk, ia komentari orang-orang yang berlalu-lalang yang sibuk dalam urusan kebaikan. Tentu saja, selama yang sibuk itu adalah seorang manusia, akan terdapat celah kesalahan. Dan dengan celah itu Iwan berkoar-koar.

Beberapa bulan ini ia masih duduk-duduk saja. Bersungut-sungut ia mengecam ketidaksempurnaan kerja orang-orang yang hilir mudik di hadapannya. Tak terima ia dengan kekurangan yang diperbuat orang yang bekerja itu, baik kesalahan itu disengaja maupun tidak.

Dan Iwan menyangka aktivitasnya adalah kebaikan. Bahkan dengan menjauhnya ia dari orang-orang yang memiliki celah berbuat kesalahan itu, Iwan merasa menjadi lebih baik dari mereka.

Namun pada akhirnya Iwan lelah. Letih dengan kata-katanya sendiri, letih dengan sindiran-sindirannya sendiri, letih dengan komentar-komentarnya sendiri. Dan Iwan mulai bertanya pada diri sendiri apakah yang diperbuatnya benar? Apakah yang diperbuatnya bermanfaat? Apakah yang diperbuatnya lebih produktif dari mereka yang ia komentari?

Dan kini Iwan merasa rindu untuk berada kembali di tengah-tengah mereka yang selama ini Iwan komentari. Rindu untuk saling menasehati, rindu untuk sibuk hilir mudik dalam urusan kebaikan.

Dengan kepala tertunduk, Iwan mengenang... 


"Awalnya saya orang yang bermasalah dari sisi kehadiran di halaqoh/Usrah. Tidak perlu ditanya tentang aktifitas yaumiyah; tilawah, almatsurat, qiyamul lail, dhuha, hafal qur'an, hadits, shalat berjamaah dimasjid, aktifitas sosial kemasyarakatan dll. Semua garis datar (-) atau kali (x) (artinya tak melakukan amalan sunnah itu) ketika mengisi di daftar mutabaah. Kehadiran saya sudah terlalu membahagiakan teman2 LQ dan Murobi jika sebulan datang sekali," Iwan memulai cerita.


"Selanjutnya saya menjadi penggangguran da'wah. Dikasih amanah, karena alasan kesibukan kerja, urusan keluarga dll, amanah tidak ada yang terlaksana. Ditengah kelemahan iman itu saya mulai bernostalgia dengan masa lalu, mengapa jamaah ini tidak seperti dulu lagi, semua terasa hambar. Semangat itu mulai hilang. Dan saya mulai berkesimpulan ADA YANG SALAH DENGAN JAMAAH INI," lanjutnya bercerita.


"Berikutnya saya mulai menjadi "KOMENTATOR DA'WAH" mulailah mengomentari satu persatu masalah yg ada di jamaah. Mulai dari anggota dewan yang rangkap jabatan jadi ketua dakwah level Kabupaten, anggota dewan yang studi banding, ustadz yang tdk bisa mengurusi keluarganya, acara yang biasa diadakan dimasjid kini pindah ke hotel, ustadz-ustadz yang biasa menenteng Al Quran ditangannya kini lebih senang memainkan communicator saat diwawancarai oleh media dan masih banyak masalah jamaah yang tidak luput dari komentar saya. Pokoknya waktu itu saya sukses menjadi KOMENTATOR. 
Selain sukses jadi komentator, saya juga sukses mempengaruhi beberapa teman halaqoh untuk bersama-sama menjadi PENGANGGURAN sekaligus KOMENTATOR. Setelah itu saya memutuskan untuk CUTI liqo'. Hal yang paling membuat mantap saya untuk CUTI adalah karna Ustadz kesayangan saya, yang menjadi Murobbi saya ketika SMA di-IQAB atau bahasa sebahagian teman DIPECAT.  Beliau diturunkan jenjang keanggotaannya karena sesuatu dan lain hal. 
Saya tidak terima, saya protes dengan cara tidak liqo' lagi. Tapi yang aneh, ustadz kesayangan saya yang di IQAB itu justru tetap liqo', walaupun harus duduk manis bersama mantan-mantan binaanya di kelas MUDA. aneh kan saya, hehehehe...yang saya bela ternyata tetap liqo' malah saya yg berhenti.  
Ustadz yang di IQAB ini baru saja diamanahi amanah yang jauh lebih berat sebagai pimpinan jamaah level propinsi, karena kesabarannya bersama jamaah. Semoga Allah memberikan kekuatan kepadamu Ustadz  untuk memikul amanah da'wah yg semkin berat ini.  
Singkat cerita, setelah lama menjalani status sebagai PENGANGGURAN sekaligus PENGAMAT DA'WAH, membuat saya jenuh juga. Saya mulai rindu dengan ikhwah-ikhwah, mulai rindu dengan liqo', MABID. Rindu akan amanah, rindu akan kerja-kerja da'wah. Saya ingin kembali bangkit menjadi PEMAIN, yang siap menhantarkan bola-bola amanah da'wah menuju sasarannya. Saya mulai benci menjadi PENGAMAT, yang serba tau segalanya, saya benci jadi PENONTON yang hanya bisa menyoraki para pemain ketika mereka salah dalam mengoper bola, dan kadang hanya membuat ONAR di lapangan pertandingan. 
Dari situlah saya mulai merenung; APAKAH BETUL ADA YANG SALAH DENGAN JAMAAH INI? atau....jangan-jangan SAYA YANG BERMASALAH?.....jabawannya ternyata; SAYA YANG BERMASALAH !!!"

Iwan menarik nafas berat dan menghembuskannya. Ia kini mantap untuk kembali bersama mereka yang punya celah kesalahan namun konsisten untuk saling menasehati. Karena ia sadar, kondisi mereka dengan kesalahannya itu justru lebih baik dari kondisinya yang tak berbuat apa-apa.

Ia rindu kembali tarbiyah.

Ditulis ulang dari Saya Mantan Komentator Dakwah

*****

Anda memiliki pengalaman kisah ketika akhirnya kembali tarbiyah? Ceritakan kisah Anda ke:

imredaksi@yahoo.com

Baca juga: Aku Ingin Kembali Tarbiyah (1)