Islam, Perjuangan dan Sukses Dunia Akhirat


Islamedia.co -  Nabi Muhammad, siapa yang tak kenal gemilangnya. Betapa masyhur namanya di penjuru dunia, ketika risalah kenabian mulai diemban sebagai perintah Allah sang pencipta semesta. Bahkan malaikat pun tunduk, tanda penghormatan pada makhluk mulia yang tak ada cacat dalam dirinya. 

Setiap detik hidupnya, tersimpan hikmah teruntuk umatnya. Hingga tersebutlah Islam sebagai agama sempurna yang tiada tandingan setelahnya. Dengan Al-Qur’an dan As-Sunah sebagai pedoman. Terselamatlah mereka yang berpegang teguh pada keduanya.

Rentetan peristiwa dalam perjalanan hidup Rasulullah terhimpun jelas dalam lembar-lembar kisah bernama sejarah. Ianya lebih dikenal Siroh Nabawiyah yang kini dikaji secara ilmiah hingga dijadikan studi tersendiri. Umat Islam harusnya belajar dari Siroh Nabawiyah secara sempurna. 


Kemudian menerapkan prinsip-prinsip Islami yang menjadi kunci kesuksesan generasi sebelumnya. Sampai terealisasi apa-apa yang menjadi cita umat Islam generasi sekarang. Tak mudah memang untuk menggapainya, sehingga diperlukan sebuah kerja bernama perjuangan, yang kadarnya tak sama antara satu dengan lainnya. Namun sukses dunia akhirat menjadi pemersatunya.

Pengaplikasian atas Siroh Nabawiyah di negeri tercinta Indonesia, nampaknya belum mencapai rata-rata. Tercermin dari sikap dan tindakan umat yang terkadang arogan, menunjukkan ketidakdewasaan. 


Baik dalam menyikapi perbedaan antar gerakan (harokah) ataupun fitnah yang sengaja dihembuskan musuh-musuh Islam. Padahal Rasulullah telah memberi teladan sebaik-baiknya dalam bersikap terhadap sesama. Seperti kisah di awal perjalanan dakwah Rasulullah, di mana perlakuan kasar dari kaumnya dibalas do’a penuh kasih. 

Belum lagi perjanjian Hudaibiyah yang diajukan kaum kafir Qurais sebagai ganti perdamaian, namun nyatanya kaum muslim diperlakukan tak adil untuk kesekian kalinya. Hingga sebuah fitnah zina ditujukan pada istri Raasulullah, Aisya, yang merupakan anak sahabat utama Rasulullah, Abu Bakar.

Tentu tidak seberapa ujian yang menimpa umat Islam sekarang, bila dibandingkan dengan apa yang menimpa Rasulullah dan generasi pada masanya. Maka belajarlah dari mereka, akhlak karimah yang menyejukkan keadaan. 


Bermula dari sebuah pikiran postif, yang akan mewujud pada keadaan positif pula. Jati diri seorang muslim tidak bisa tercermin hanya dari sebuah keteranagan “Islam” di KTP. Melainkan harus direalisasikan dalam bentuk tindakan yang lahir dari pemikiran mendalam tentang Islam. Sampai di anatara kita menjadirahmatan lil ‘alamin, seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Perbedaan kultur masyarakat Indonesia yang amat beragam, serta merta melahirkan sebuah rumusan baru tentang pegangan hidup menjadi WNI. 


Adapun yang dimaksud ialah siroh nabawiyah, sejarah perjuangan umat Islam sejak 2001-sekarang, sumpah rakyat Indonesia, ideologi bangsa, jatuh bangunnnya pemerintahan Indonesia serta hukum laut Internasional ’82 (Maritim). Pemahaman terhadap nilai-nilai Islam serta wawasan nusantara itu terhimpun dalam sebuah kalimat “Islam, Perjuangan dan Sukses Dunia Akhirat”. [PPSDMS NF/sifa fauziah]