Mengapa do'a Sapu Jagad belum juga mewujud nyata?


Islamedia.co - Semenjak merdeka, kita selalu berdoa, mengharap, agar umat islam dari hari ke hari makin baik, berjaya, sukses, dan bisa mengatur dirinya didalam negeri sendiri. Bukan jadi penumpang dinegerinya sendiri. Dan setiap berdoa selalu ditutup dengan do'a sapu jagad...

“Rabbana Atina fi al Dunya Hasanah wa fi al-Akhirah Hasanah wa Qina ‘Adzabannar”, (Wahai Tuhan kami, anugerahi kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan jauhkan kami dari api neraka).

Urusan hasanah didunia adalah urusan bersama. Bukan sendiri-sendiri. Ini urusan kolektif umat islam. Tidak dibatasi oleh batas teritori, ras, suku bangsa.


Usaha kaum ulama, zhuama dan muslimin tidak seimbang dengan do'a sapu jagad tersebut. Karena cenderung setiap arahan, nasihat, pendidikan ulama diarahkan untuk selalu sukses diakhirat.


Hasanah di akhirat adalah urusan pribadi masing-masing. Tetapi hasanah didunia ini harus diupayakan secara kolektif.


Umat islam indonesia belum merasakan surganya dunia di indonesia. Kita masih menjadi subordinat belum menjadi pengatur diri sendiri.


Surga yang digambarkan dalam alquran adalah taman-taman dan sungai-sungai, kata orang arab indonesia adalah surga...jannah...jannah...


Semua kekayaan ada di indonesia. Indonesia adalah surga...surga dunia...
Apakah semua kekayaan indonesia ini adalah hasanah didunia yang dimaksud dalam do'a sapu jagad?


Menurut KH. Khalil Ridwan, hasanah didunia bagi kita adalah negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur...


Konsep surga akhirat merupakan tempat kehidupan yang seluruhnya halal...tidak ada yang haram.


Jika umat islam indonesia, ulama, zuama dan lainnya inginkan indonesia sebaga surga maka bersihkan indonesia dari hal-hal yang haram. Judi, korupsi, perzinahan dan lain-lain.


Setelah puluhan tahun kita ucapkan do'a sapu jagad. Dan kita berdo'a agar orang kafir tidak menjadi pemimpin kita. Kita ternyata masih belum bisa keluar dari kondisi subordinat musuh-musuh islam.


Ideologi sekularisme, liberalisme sudah difatwakan MUI tahun 2006, bahwa jika mengamalkan ideologi itu haram hukumnya.


Puluhan tahun kita sudah berdoa sapu jagad. Tapi mengapa islam belum juga berjaya di negeri surga ini?


Nabi ajarkan kita, berdoa saja tidak cukup. Tapi Nabi percaya sunnatullah. Bahwa doa harus didukung dengan usaha yang maksimal.


Perang badar ajarkan hikmah pada kita, betapa usaha dan kerja keras adalah penopang dari doa yang terlantunkan. Pasukan muslim hanya sepertiganya dari musuh. Tapi Rasul tetap yakin dan berusaha. Setelah itu barulah berdoa.


Do'a Nabi, "Duhai Rabb, jika engkau tidak menangkan kaum muslimin kali ini, niscaya esok lusa tak akan ada lagi yang menyembah Mu."


Umat islam harus bangga dan bersyukur bahwa mekkah dan madinah sebagai simbol kesucian. Suci dari kemusyrikan. Itu semua karena pemimpinnya muslim dan shalih.


Puluhan tahun lalu, kita berujar bahwa mustahil presiden kita non muslim. Mustahil dipimpin gubernur non muslim. Tapi hari ini kita lihat realita berkata seperti itu.


Ini karena kita tidak peduli dengan politik. Semua hal yang tidak mungkin, halhal buruk terhadap umat islam bisa jadi terulang kembali. Dimasa akan datang. Karena kita buta politik. Karena kita bercerai berai dalam politik.


Mudah-mudahan Allah swt memberikan kita kesadaran akan pentingnya kepemimpinan yang berpihak pada islam. Pemimpin muslim yang peduli dengan urusan umat. Aamiin allohumma aamiin


Allohumma aizzal islaam wal muslimin...
@mang_awien
Mengutip Khutbah Jum'at KH. Kholil Ridwan