Homeschooling Alkindi Mahardika Mengajak Hijrah


Islamedia.co - “Mengapa anak saya susah sekali bertanggung jawab, meski pada benda yang paling disukainya?” Keluhan semacam ini, sering terdengar dari orangtua. Menanamkan tanggungjawab kepada anak bukanlah hal yang sederhana. Karena banyak orangtua yang kebingungan dalam proses penanaman ini. Inilah yang menjadi bahasan dalam Seminar Parenting: Menumbuhkan Rasa Tanggung Jawab berbasis Iman kepada anak” bersama psikolog Srie Hemawati S.Psi yang diadakan oleh Sekolah Komunitas Homeschooling Muslim Al Kindi Mahardika (HS Al Kindi Mahardika).

Acara yang diadakan di lokasi HS ini diadakan dalam rangka memperingati tahun baru hijriyah 1 Muharram sering dijadikan momentum untuk berhijrah atau berpindah dari sikap jahiliyah kepada sikap yang lebih Islami. Begitu pun dalam menjadi orangtua. Banyak orang menjadi orangtua tanpa bekal ilmu yang memadai. Sehingga ketika berhadapan dengan berbagai perilaku anak, mereka tidak mampu bersikap benar.

“Acara ini, dibuat sebagai bekal untuk wali murid Al Kindi untuk mendapatkan wawasan menjadi orangtua (parenting)” ucap Fajri Hidayat S.S Kepala Sekolah Homeschooling Al Kindi. Sebagai sekolah alternatif berbasis komunitas HS Al Kindi merasa perlu menyamakan frekuensi dengan berbagai pihak yang terkait dengan HS Al Kindi, baik guru, siswa dan juga orangtua siswa. Agar tercipta paradigma yang sama dalam menyukseskan program pendidikan.

Sekolah yang didirikan oleh Kiki Barkiah S.T ini memang didirikan dengan maksud menciptakan generasi yang Solih, Mushlih dan Produktif. Berkaca pada pengalamannya di masa silam, wanita yang sekarang berdomisili di san Jose California USA ini ingin membuat sebuah sekolah yang memperhatikan siswa secara personal. Metode mengajar yang kontekstual, hands on learning dan eksploratif terhadap lingkungan sekitar, serta menitik beratkan pada lifeskill yang dibutuhkan pada kehidupan nyata. Masih kurang optimalnya peran pemerintah dalam penangan siswa berkebutuhan khusus, memunculkan berbagai pendidikan alternatif yang bersifat inklusi atau secara khusus melayani anak-anak yang berkebutuhan khusus.

“Dari dulu saya sekolah, di sekolah-sekolah favorit hingga kuliah di Tehnik Elektro ITB, namun saya merasa itu semua bukan berdasarkan minat dan keinginan saya” kata Kiki. Sehingga akhirnya meski telah lulus dengan nilai baik dari Tekhnik elektro ITB, dia tidak pernah menggunakan ijazahnya dari ITB itu. Dia lebih enjoy menjalankan bisnisnya di bidang kuliner yang lebih merupakan passionnya. Namun, karena latar belakang orangtuanya yang merupakan seorang guru, dia juga mulai berfikir untuk berkontribusi untuk pendidikan.

“Awalnya karena anak saya merasa kurang menikmati bersekolah, saya mulai berfikir mencarikan alternative buatnya, hingga dimasukkan ke sebuah homeschooling di Batam dan akhirnya terfikir untuk mengadakan sendiri." terang Kiki.

Kurang optimalnya sistem pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah bagi anak-anak yang membutuhkan pelayanan personal, memunculkan berbagai pendidikan alternatif yang bersifat inklusi atau secara khusus melayani anak-anak yang berkebutuhan khusus. Namun sayangnya, biasanya lembaga pendidikan yang memberikan pelayanan ini sangat mahal. Padahal kenyataannya, ada sebagian masyarakat yang membutuhkan layanan pendidikan personal dari kalangan yang tidak mampu. Selain itu pendidikan yang baik harus diselenggarakan oleh SDM terbaik. Oleh karena itu HS Al Kindi berusaha mencari SDM terbaik untuk menjadi pengajar. SDM yang cerdas, inovatif namun juga berjiwa pejuang sosial.

“Alhamdulillah sekarang, kita baru punya satu Master Tekhnik Lingkungan lulusan Taiwan, dan guru-guru pejuang dari berbagai kampus besar di Indonesia, esok semoga makin banyak orang-orang cerdas yang berpendidikan tinggi yang berminat untuk menjadi pengajar di Al Kindi” terang Fajri.


Dikarenakan siswa yang dihadapi adalah siswa-siswa istimewa, siswa yang sering disebut sebagai Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dan layanan pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan personal yang masih kurang optimal. Hal ini memicu lahirnya sekolah alternative berbasis inklusi. Sayangnya, lembaga pendidikan yang memberikan pelayanan ini biasanya berbiaya sangat mahal.

“Padahal di masyarakat banyak yang membutuhkan layanan pendidikan personal tapi mereka tidak mampu” terang Kiki.


Karena itulah HS Al-Kindi Mahardika juga memperhatikan ABK yang berasal dari kalangan yang tidak mampu. Melalui sistem subsidi silang dan dukungan donatur Al-Kindi Mahardika bisa menjalankan kegiatan belajar mengajarnya meski 80% siswanya berasal dari kalangan dhuafa. Pendiri sekaligus Ketua Yayasan Al Kindi Batam ini pun membuka kesempatan kepada siapapun yang ingin ikut berkontribusi moril atau materiil untuk menghidupkan proyek amal solih ini. Yang ingin berinfak dapat mengirimkan donasinya ke rekening BSM: 7047550453 atas nama yayasan Al-Kindi Batam. (islamedia/js)