Nasihat Imam Syafii dari Surah Al-Ashr


Islamedia.co -  Demi Masa. demikian bunyi ayat pertama Al-Ashr. Semasa Islam awal, para sahabat menyebut surat ini Al-Ashr. Ulama dan Ahli Alquran, At-Tabari meriwayatkan setiap kali sahabat Nabi bertemu, mereka tidak akan membubarkan diri sampai mereka membaca Al-Ashr.

Mayoritas ulama (jumhur) berpendapat surat ini turun di Makkah. Ulama seperti Qatadag, Mujahi dan Muqatil berpendapat surat ini diturunkan di Madinah. Pendapat ini juga didukung sahabat Rasulullah, Ibnu Abbas. Yang pasti, para ahali berpendapat surat ini terdiri dari tiga ayat. Ini membuat surat Al-Ashr, Al-Kautsar dan An-Nashr menjadi surat terpendek dalam Alquran.

Imam Ar-Razi menyebutkan surat ini diturunkan ketika kaum kafir Makkah sering mengatakan melecehkan Rasulullah dengan menyebut Nabi seorang pecundang. Surat ini selanjutkan dibacakan oleh Amr bin Al-Ash ketika diminta pembual Musaylamah terkait wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah SAW. Kemudian, ayat-ayat ini dituliskan pada sebuah surat yang dikirimkan Zaid bin Ali bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalid kepada rakyat Mosul, Irak.

Adapun tujuan surat ini ada lima hal, yakni menegaskan kerugian bagi mereka yang menolak kebenaran, dan bagi mereka yang tahu kebenaran itu tapi tidak menjalankannya. Kedua, penegasan janji Allah kepada mereka yang menerima kebenaran akan memperoleh kebajagiaan yang kekal. Selanjutnya, ayat ini menunjukan pentingnya kerjasama, berkah sebuah kebenaran dan pentingnya kesabatan.

Imam Syafii memiliki pernyataan menyejukan soal surat ini, "Jika umat Islam introspeksi diri melalui ayat ini, mereka akan terpukau dibuatnya. Jika surat ini satu-satunya yang dikirimkan untuk umat manusia maka akan cukup bagi mereka, dan banyak Muslim yang lalai dari surat ini," kata dia.[islamedia/munawir]