Pria Ini Meraih Syahid dengan Jasad Terbakar di Medan Rabia



Islamedia.co - Kisah Syuhada kita kali ini adalah kisah seorang yang dengan kondisinya yang pincang, ingin menggapai surga, kakinya yang pincang tak menghalanginya untuk tidak ikut dalam aksi bertahan di Lapangan Nahdah, hingga ia pun gugur syahid dengan tubuhnya yang terbakar (dibakar), dan keluarganya baru bisa menemukanya sebulan kemudian. 

Inilah kisah Hisham Abdul Fattah, seorang ayah dari empat anak tiga putri dan satu putra yang baru berumur tiga tahun, dan dua dari putrinya dalam kondisi lumpuh.

Kondisi Hisham Abdul Fattah yang pincang hingga dikenal dengan sebutan Hesham Al-A'raj (Hesham yang pincang), kakinya yang pincang tak menyurutkan langkahnya untuk ikut serta dalam aksi bertahan di Lapangan Nahdhah mempertahankan legitimasi dan kebebasan di Mesir.

Hisham pun gugur syahid terbunuh oleh peluru sniper yang kemudian jasadnya dibakar dalam pembubaran demonstrasi An-Nahdah pada tanggal 14 Agustus 2013.

Keluarganya tidak bisa menemukan jasadnya selama satu bulan tiga pekan pasca pembantaian demonstrasi Nahdah, karena kondisi tubuhnya yang terbakar secara keseluruhan.
Hisham Abdul Fattah terkenal berbakti kepada keluarga, ibu dan ayahnya, terkenal dengan kepribadiannya yang baik di kalangan tetangga-tetangganya di wilayah Kardasah. Mesir.

Al-Jazeera pun membuat laporan khusus dengan kelurga As-Syahid, berikut video laporan khusus Al-Jazeera dengan keluarga korban:


Keadaan Hisam Abdul Fattah hampir  menyerupai sahabat Amr bin Al-Jumuh yang memiliki kaki pincang dan sudah berumur tua, dan memiliki tiga Putra yaitu Muawwadz, Muadz dan Khalad. Namun dengan kondisinya yang pincang, Amr bin Al-Jumuh yang telah merasakan nikmatnya cahaya Islam ingin menyempurnakan nikmat tersebut dengan meraih gelar syahid. Ia pun berulang kali mengajukan diri kepada Rasulullah untuk ikut berperang.

Tatkala terjadi Perang Badar, Amr bin Jamuh bersiap-siap hendak turut bergabung, namun sayang Rasulullah tak mengizinkannya turut serta—melihat kondisinya yang renta dan pincang. Beliau memberikan keringanan padanya untuk tidak ikut berperang.

Namun ketika terjadi Perang Uhud, ia pun bersiap-siap hendak turut berjihad. Namun putra-putranya melarang. Ia pun nekat menemui Rasulullah dan berkata, "Wahai Rasulullah, putra-putraku melarangku berbuat kebajikan. Mereka keberatan jika aku ikut berperang karena sudah tua dan pincang. Demi Allah, dengan pincangku ini, aku bertekad meraih surga."

Rasulullah pun akhirnya mengizinkan Amr bin Jamuh turut serta dalam Perang Uhud. Dengan suara mengiba ia memohon kepada Allah SWT, "Ya Allah, berilah aku kesempatan untuk memperoleh syahid. Jangan kembalikan aku kepada keluargaku."

Tatkala perang berkecamuk, kaum Muslimin berpencar. Amr bin Jamuh berada di barisan paling depan. Dia melompat dan berjingkat seraya mengelebatkan pedangnya ke arah musuh-musuh Allah, sambil berteriak, "Aku ingin surga, aku ingin surga!"

Apa yang didambakan Amr akhirnya terwujud jua. Ia gugur sebagai syahid bersama beberapa sahabat lainnya. Tatkala perang berakhir, Rasulullah SAW memerintahkan untuk memakamkan jasad Abdullah bin Amr bin Haram dan Amr bin Jamuh dalam satu liang lahat. Semasa hidup, mereka berdua adalah sahabat setia yang saling menyayangi. Dalam riwayat lain disebutkan, Amr bin Jamuh dimakamkan satu liang dengan putranya, Khalad bin Amr.

Setelah 46 tahun berlalu, tanah pemakaman itu dilanda banjir. Kaum Muslimin terpaksa memindahkan jasad para syuhada. Kala itu, Jabir bin Abdullah bin Haram putra Abdullah bin Amr bin Haram masih hidup. Bersama keluarganya, ia memindahkan jasad ayahnya, Abdullah bin Haram dan Amr bin Jamuh. Mereka mendapatkan kedua jasad syuhada itu tetap utuh. Tak sedikit pun dari tubuh mereka yang dimakan tanah. Bahkan keduanya seperti tertidur nyenyak dengan bibir menyunggingkan senyum.[syuhadar4bia.com]
close
Banner iklan disini