Anak Muda Mesir Ini Melantunkan Ayat Suci Al-Qur'an Sebelum Syahidnya



Islamedia.co - Rabu, 14 Agustus 2013, adalah hari kelam dalam sejarah modern demokrasi Mesir, ketika aparat kudeta militer Mesir dengan bersenjata lengkap, didukung oleh tank dan helikopter menembaki para demonstran damai yang telah lama bertahan di Lapangan Rabia, ribuan jiwa pun berjatuhan gugur, satu di antara manusia-manusia pilihan yang gugur itu adalah seorang pemuda, penghapal Al-Qur’an, dia adalah Ahmad Ezzat Afifi (18 tahun), siswa Al-Azhar yang dua kali bertemu dengan sahabat Umar bin Khattab dan pada detik-detik ia syahid, membaca potongan surat As-Syu'ara:


وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِلْغَاوِينَ وَقِيلَ لَهُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ هَلْ يَنصُرُونَكُمْ أَوْ يَنتَصِرُونَ فَكُبْكِبُوا فِيهَا هُمْ وَالْغَاوُونَ وَجُنُودُ إِبْلِيسَ أَجْمَعُونَ قَالُوا وَهُمْ فِيهَا يَخْتَصِمُونَ تَاللَّهِ إِن كُنَّا لَفِي ضَلالٍ مُّبِينٍ إِذْ نُسَوِّيكُم بِرَبِّ الْعَالَمِينَ وَمَا أَضَلَّنَا إِلاَّ الْمُجْرِمُونَ

Artinya:
Surga disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, dan neraka disiapkan bagi orang-orang durhaka. Dan, dikatakan kepada mereka (orang-orang durhaka itu), “Di mana pun kamu berada, kamu menyembah selain Allah, bukankah Dia yang menolongmu dan memenangkanmu?”. Dan, tentara-tentara iblis seluruhnya. Mereka berkata: dan mereka di dalamnya (saling) bermusuhan. Demi Allah, sungguh kami berada di dalam kesesatan yang nyata. Saat kami menyamakan engkau seperti Tuhan semesta alam. Kami tidak tersesat, melainkan (karena) perbuatan orang-orang yang jahat. 

Selasa, sehari sebelum ia syahid, saat ayahnya akan meninggalkan lapangan Rabi’ah El-Adaweah, Ezzat menceritakan mimpinya kepada Ayahnya, Ahmad berkata: “Ayah, saya bermimpi bertemu dengan Sayyidina Umar bin Khattab dan sebagian sahabat yang lain, mereka berkata kepadaku bahwa “berpuasalah besok, karena kamu akan berbuka puasa dengan kami.” Ahmad pun lalu memegang tangan ayahnya, lalu mencium tangan dan kepalanya, lantas berkata pada ayahnya: “Katakan pada Mama, restuilah saya”. Ayahnya terlihat bimbang, kemudian berkata: “Jangan berkata seperti itu Ahmad, ayolah pulang bersama ayah”. Ia menjawab: “Tidak ayah, saya akan bertahan di sini bersama teman-teman, tolong katakan pada Mama, restuilah saya”.
Hari yang Allah takdirkan, Ahmad Ezzat gugur pun tiba, Ahmad Ezzat terkena tembakan sniper yang berada di atas salah satu gedung dekat lapangan Rabi’ah El-Adaweah. Teman-teman yang bersamanya (Abdu Al-Rahman, Ahmad Miftah) bertanya, “Siapa menembakmu?” Ia menjawab, “Penembak jitu, di atas Gedung Umum Kantor Lalu Lintas, di samping Rabi’ah”. Bagian kakinya tertembak peluru tajam, ia kemudian dilarikan ke rumah sakit sipil, tetapi darah yang terus saja mengucur tak bisa dihentikan, karena alasan itu, ia dirujuk ke rumah sakit Ta’min Al-Shih-hi.
Ketika berada di rumah sakit Ta’min Al-Shih-hi, Ahmad Ezzat masuk rumah sakit dengan kaki pincang, lalu berwudhu dan shalat Asar, sehabis shalat Ashar dia menerima telpon dari salah satu temannya, dalam pembicaranya, menurut suster yang merawatnya, temannya menguatkan Ahmad Ezzat dengan mengatakan “Tetaplah pada tempatmu (tegarlah) wahai pahlawan”, Ahmad lalu berkata kepada temannya bahwa dia merasa akan mati”. “Sudahlah, jangan kamu berkata begitu, kamu akan bisa berdiri tegak, kembali pulih seperti sedia kala” nasehat temannya kepada Ahmad. 
Setelah selesai bicara, Ahmad Ezzat memberikan handpone itu ke suster. Lalu berkata, kalau nanti ada yang menelpon lagi, katakan padanya bahwa Ahmad sudah syahid. Bilang saja, dia terbunuh. Hingga suster pun menasehatinya bahwa itu hanyalah kekahwatiran dan menyarankan agar Ahmad beristrahat dan akan kembali sehat. Ahmad pun tertidur, selang beberapa menit, tiba-tiba ia berteriak, mengucapkan kalimat: Hasbiyallah wa ni’ma al-wakil (tiga kali), setelah itu ia mengucapkan: Asyhadu an la Ilaha illallah, wa anna muhammadan rasulullah. Selepas itu ia pun tertidur kembali, dan darahnya tak berhenti mengalir, hingga ia kehabisan darah. Ungkap suster yang merawat Ahmad Ezzat. 


Berikut video yang langka di mana Ahmad Ezzat Afifi terlihat tengah membaca Al-Quran beberapa saat sebelum kematiannya di Rabi'ah:
 

Di lapangan Rabi’ah El-Adaweah, Ahmad Ezzat dua kali bercerita kepada teman-teman dan ayahnya tentang mimpinya, mimpi pertama yaitu mimpi pada hari pertama bertahan di Rabi’ah, ketika Ahmad bermimpi melihat Umar bin Khattab, wahai Ahmad, engkau akan mati dalam keadaan syahid. Dan mimpi kedua adalah mimpi yang dia ceritakan kepada ayahnya, mimpi di malam terakhir sebelum terjadinya pembantaian, di mana Umar bin Khattab mendatanginya untuk kali kedua, bersama beberapa orang sahabat, mereka berkata kepada Ahmad: “Ahmad, berpuasalah besok, karena kamu akan berbuka puasa bersama kami di surga”.

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam ke­adaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bersenang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekha­watiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bersenang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyia­kan pahala orang-orang yang beriman.” (Q.s. Ali Imran: 169-171).[syuhadar4bia.com]
close
Banner iklan disini