Cerita Kecil di Rumahku Menjelang Pemilu


Islamedia - Tak sengaja terbangun tengah malam. Jam 12. Dengan mata yang setengah sadar, kusisir sekeliling kamar, memeriksa anak-anak kecilku yang masih suka berbondong-bondong tidur menyesakkan kamar Umi dan Abinya. “Satu, dua, tiga... empat. Ya, lengkap!” Ini kebiasaanku jika terbangun di malam hari.

Eh, tapi ke mana Abinya? Hmm... Aku ingat tadi ia pergi rapat untuk persiapan kampanye besok. “Uhh! Ikhwan ini pada ngapain sih, rapat sampe malem-malem begini belom pada pulang? Udah tau besok harus mengawal massa dalam kampanye. Bukannya istirahat yang cukup, biar pagi-pagi fresh... Emangnya mau konvoi sambil mata teler apa?” benakku bersungut-sungut sendiri. Aku pun segera menyampaikan unek-unek itu pada suamiku lewat sms. Intinya, agar ikhwan segera bubar rapatnya dan istirahat untuk persiapan energi besok pagi. Ternyata ada balasan sms, bahwa ikhwan sudah selesai rapat dan sedang memasang bendera partai di sepanjang jalan satu kecamatan, serta mempersiapkan alat transportasi untuk kampanye besok.

Aku tertegun. Merenung dalam diam. Perlahan kekesalan hatiku mereda. Baiklah... Kumaafkan... Hehee... emang siapaaaa pula yang minta maaf? Itu memang bukan sebuah kesalahan yang harus dimaafkan. Para ikhwan itu bukan tanpa alasan melakukan persiapan kampanye di malam gelap saat harusnya tertidur lelap. Tentu saja karena siang hari aktifitas mereka mencari nafkah tak dapat diwakilkan.

Ini memang sangat membutuhkan perjuangan dan pengorbanan, karena besok bukan kampanye biasa. Besok bukan kampanye yang hanya membayar massa untuk menonton serangkaian pertunjukan goyang erotis dan mabuk-mabukan. Ini bukan kampanye biasa, karena ini adalah kampanye PKS!

Memperjuangkan PKS bukanlah sekedar memperjuangkan partai politik demi memperoleh sembako gratis dan beberapa lembar uang sesaat sebelum pemilu. Mengkampanyekan PKS bukanlah sekedar happy-happy agar mendapat kaos partai ataupun door prize. Memenangkan PKS berarti menggolkan sebuah sistem dahsyat yang dapat mengubah tatanan kehidupan bangsa menjadi lebih baik.

Jadi, suamiku bersama ikwan lain keluyuran malam-malam begini bukan tanpa tujuan yang jelas. Dan sesungguhnya itu belumlah seberapa. Para petinggi di PKS jauh lebih besar pengorbanannya, yang kata orang sudah duduk di atas kerjanya sama saja hanya ongkang kaki dan korupsi. Dalam parpol lain mungkin saja seperti itu, tetapi dalam tubuh PKS tidak.

Baiklah, tidak usah membicarakan yang jauh-jauh Gubernur Jabar Aher dan istrinya yang hampir tak ada waktu untuk tidur selama menduduki jabatan. Setiap hari blusukan dan pulang jam 1 dini hari, lalu keluar lagi menuju masjid jam 3 untuk tahajud, lanjut shalat shubuh lantas kembali pada aktifitas. Bayangkan! Itu baru gubernur, bagaimana presidennya? Belum harta yang mereka sedekahkan untuk umat, tak terhitung dengan jari.

Apalagi pengorbanan Ustaz Luthfi yang dikriminalisasi. 16 tahun penjara bukan hal enak, terlebih jika harus menjalani vonis yang bukan kesalahannya. Permohonan maaf Ahmad Fathanah sang biang keladi, yang minta maafnya sampai nangis-nangis itu, tentu tak berarti mampu menghapus luka hati Ustadz Luthfi dan keluarga. Dan permohonan maaf itu tidak bisa sekonyong-konyong memulihkan nama baik ataupun citra. Bukankah ini merupakan pengorbanan yang orang lain belum tentu bisa? (baca: mana mungkin bisa) *aku menulis ini sampai berkaca-kaca, rasanya sakiiiit hatiku, gemaaas sama si AF biang kerok!* Teriring doa, semoga Ustadz Luthfi senantiasa dalam lautan kesabaran dan samudera keimanan nan dalam, aamiin.

Tapi sekali lagi, tidak usah jauh-jauh membicarakan pemimpin selevel Gubernur Aher ataupun Ustadz Luthfi. Para caleg dan aleg PKS level kota saja, masya Allah pengorbanannya... *speechless* Bahkan tak sedikit dari mereka yang jatuh sakit. Padahal andai boleh memilih, bagi mereka lebih baik tak usah jadi anggota legislatif. Mendingan duduk manis sebagai penonton, bisa bersantai menikmati harta hasil usaha tanpa harus khawatir mendapat sakit dan fitnah di mana-mana. (karena rata-rata aleg PKS sebelum jadi aleg adalah pengusaha sukses)

Tetapi itulah perjuangan demi terwujudnya cita-cita tinggi, bukan sekedar terpancangnya bendera PKS, melainkan tegak syariat di negeri tercinta Indonesia. Mendirikan bendera Allah di negara ini tidak seperti membalik jari tangan. Seminar, demo, serta orasi-orasi seputar khilafah yang banyak dilakukan HTI tidak akan membuat orang awam sadar begitu saja akan syariat. Ini terbukti, ada beberapa orang guru dan saudaraku yang belum paham, malah menyangka HTI adalah kelompok garis keras. Jangankan mau ngerti syariat, orang yang ngajarnya saja disangka penjahat. Whaatt? Padahal cuma orasi dan koar-koar doang? Apalagi ISIS atau Al-Qaida yang baru kuketahui ada juga di Indonesia. Di beberapa negara mereka angkat senjata dan menerapkan potong tangan. Bisa jadi di Indonesia juga, dan ini hanya akan menambah fobia masyarakat Indonesia terhadap hukum islam. Apakah dengan begitu dawah akan diterima oleh umat islam Indonesia yang mayoritas masih ambigu, kurang ilmu dan kurang pemahaman? Bukankan kita harus berdawah kepada suatu kaum dengan bahasa kaum tersebut? Rasul saja berdawah dengan hikmah, tidak dengan menghujat apalagi membuat takut. Bahkan menjadikan non muslim pun merasa aman di bawah bendera islam.

Para petinggi PKS kini sudah memasuki beberapa wilayah kepemimpinan di Indonesia agar mampu membuat kebijakan yang memudahkan dawah islam bergerak secara leluasa. Tentu ini bukan pekerjaan mudah pula. Bersinggungan dengan para elit politik yang notabene intelek berpendidikan tinggi, namun minim pengetahuan agama secara kaffah. Belum lagi tantangan kaum Yahudi dan Nashrani yang tak pernah berhenti memerangi sampai umat islam mengikuti mereka. Melalui berbagai fitnah, pembodohan media massa, serta cara apapun mereka lakukan dalam rangka menyerang pemimpin PKS agar berhenti memperjuangkan syariat islam, lantas negara kaya ini tetap dikelola Yahudi, Nasrani, Liberal, Sekuler dan sejenis kesesatan lainnya. Mereka tak pernah berhenti, dan PKS pun tak kenal menyerah!

Jadi, sesungguhnya pengorbanan suamiku belum apa-apa dibandingkan para qiyadah yang bahkan berhadapan langsung, bertatap muka dengan orang-orang yang ingin menzhaliminya secara diam-diam ataupun terang-terangan. Tak ubahnya seperti berada di moncong serigala yang siap menerkam.

Ya, pengorbanan suamiku yang hanya memasang bendera dan pulang dini hari itu, belum seberapa. Lalu bagaimana dengan diriku sendiri? Apa saja yang telah kukorbankan? Oh, malunya... *berkaca pada diri sendiri* Jangan-jangan aku termasuk orang yang berkamuflase di balik kerudung panjangku, dianggap shalih karena berkumpul di tengah-tengah kader PKS yang shalih-shalih. Oh...

Akhirnya, rengkuh sujud pada Illahi. Duhai Allah, Ampuni dosa kami yang belum mampu berkorban sehebat para pemimpin kami. Semoga Engkau terima secuil amal kami ini sebagai amalan besar yang mampu menjadi hujjah bagi kami di yaumil akhir nanti. Aamiin Allahumma Aamiin.

Kota Bandung 29Maret2014 

Neli Jamilah