Muhasabah Seorang Istri



Islamedia - Yaa Rabbi, Jika boleh aku memohon, tiga belas tahun lalu ikatan ini kuawali dengan niat suci meneruskan risalah Ilahy. Tak semata mengagungkan cinta manusia, yang ku yakin tanpa penjagaan-Mu akan cepat pudar ditelan masa. Kujaga sedemikian rupa prosesnya sejak tahap awal perkenalan hingga ke pelaminan, untuk selalu tunduk patuh dengan aturan-Mu. Semuanya semata karena aku berharap keberkahan yang melimpah dalam naungan ridha-Mu pada pernikahan ini, sepanjang masa, hingga maut memisahkan. Meski masa penantian seperti itu sungguh berat dalam mengelola rasa, tapi aku takut. Aku sungguh takut, sedikit saja proses awal itu terkotori, entah apa yang akan terjadi pada ikatan ini, di kemudian hari.


Jika dalam perjalanannya kemudian,  langkah kakiku mulai goyah tak terarah, tegurlah aku dengan kasihmu ya Rabb. Jadikanlah keteguhan dan kebersihan awal proses pernikahan itu  yang semata mengharap ridho-Mu, sebagai amal wasilah doaku, yang mampu mengantarkanku, menjadi istri sholehah, menjadi ibu sholehah, sepanjang hidupku. Meski aku tahu, sedikit amalku yang mampu kujadikan wasilah doa pada Mu. Tapi aku sungguh takut, jika pintu surga bagiku akan tertutup rapat, karena langkah kaki dan tangan yang maksiat.

Jika dalam rentang waktu kemudian, hatiku mulai menghitam, ingatkan aku segera ya Rabb dengan cahaya-Mu. Jadikanlah upayaku selama ini menyebarkan kebaikan lewat lisan dan tulisan menjadi amal wasilah doaku, yang mampu menghalangiku dari kenistaan. Meski aku tahu, sungguh amalku sangat tak seberapa. Namun ya Rabb, jangan biarkan hati ini semakin hitam dan menghitam, hingga aku sulit  melihat kebenaran, hingga aku tak mampu lagi membedakan kebenaran dan kebatilan. Meski yang batil itu tampak demikian kemilau indah bercahaya. Meski yang benar itu tampak mendaki dan berliku. Berikanlah kepekaan hati padaku ya Rabb, untuk mudah menerima kebenaran itu dan mendekapnya erat dalam dadaku, lalu membuang jauh-jauh kebatilan, sekecil apapun, dari hatiku. Karena aku sungguh takut, tiga belas tahun suka duka perjuangan menegakkan rumah tangga dakwah yang sakinah, akan sekejap musnah karena kotornya hati. Ibarat kayu bakar kering termakan api. Na’udzubil-Lah.

Ya Rabb, jika masih boleh aku memohon, untuk segala maksiat hati yang tak terlihat, untuk kotornya lisan yang terucap, dan untuk langkah kaki yang terjerat; yang mungkin tak diketahui sesiapa kecuali oleh-Mu, ampuni aku ya Rabb. Faghfirlii, fainnahu laa yaghfirudz dzunuuba illa Anta. Hadirkanlah selalu di hatiku gambaran diri-Mu sebagai yang Maha Melihat segala perbuatan manusia, hingga mampu menghindarkanku dari nista, agar aku tak terperosok dan terperosok lagi di dalamnya. Jangan biarkan aku terlena dengan kenikmatan semu, hingga Engkau putar semuanya kelak di padang Mahsyar nanti. Tidak ya Allah, aku akan sungguh malu pada ratusan juta manusia yang menyaksikannya. Ampuni aku ya Allah, hapuskanlah kesalahanku, karena sungguh aku ingin layar diriku putih bersih, seperti saat Kau hadirkan aku ke bumi.

Ya Rabb, pagarilah langkahku hari ini dan nanti, dalam melakoni hidupku di dunia ini, sebagai istri, sebagai ibu, sebagai umat. Karena sungguh aku ingin masuk surga-Mu, sebagai seorang istri sholehah yang taat lagi diridhai suami, lalu berhak memilih masuk surga dari pintu mana pun yang kusukai.
Ya Rabb, sungguh panjang doa dan permintaanku hari ini, sungguh tak sebanding dengan banyaknya dosaku dan sedikitnya amalku. Namun, jika tidak kepada-Mu, pada siapa lagi aku memohon?



Allahumma arinal haqqo haqqon, warzuqnat tiba’ah
Wa arinal bathila bathilan, warzuqnaj tinaabah



*untuk suamiku tercinta: maafkan aku mas, jika aku belum purna sebagai istri dan ibu*
#derai air mata di atas sajadah, di hari 13 tahun pernikahan


Pamulang, 15 Nov 2011

Muktia Farid