Korban Revolusi Libya: 10 Ribu Syahid, 50 Ribu Orang Luka-luka


Islamedia - Anggota Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) pada hari Rabu (23/2) kemarin, mengumumkan, bahwa korban tewas sejak meletusnya revolusi di Libya pada 17 Februari lalu berjumlah 10.000 syahid, dan korban luka-luka lebih dari 50.000 orang.

Lembaga ini juga menyinggung kebijakan Qadafi, yang menggunakan senjata kimia untuk menghadapi para demonstran. Mereka juga menyerukan dunia internasional untuk segera melakukan tindakan penyelamatan terhadap rakyat Libya.

Dalam pernyataannya, ICC mengatakan, bahwa Muammar Qadafi telah menyerang rakyatnya sendiri dengan menggunakan berbagai jenis senjata perang mematikan, baik dari jenis pesawat tempur, roket dan meriam. Qadafi juga menyewa tentara bayaran berdarah afrika, sehingga berdasarkan data yang mereka dapatkan, serangan brutal kepada para demonstran itu telah menyebabkan tewasnya 10.000 orang dan melukai 50.000 orang lainnya.

Sejalan dengan ICC, sebuah Organisasi Arab juga mengkriminalkan kasus berdarah yang terjadi di Libya, dengan mengirimkan Presiden Libya, Muammar Qadafi dan putranya, Saif beserta para kroninya dari pihak kepolisian, tentara dan milisi bersenjata yang berpihak ke pemerintah Libya untuk kemudian mereka disidangkan dalam Peradilan Kriminal Internasional. Mereka didakwa karena selama menghadapi para demonstran menggunakan cara-cara kekerasan, dengan dipersenjatai peluru tajam dan juga menggunakan pesawat tempur dalam membubarkan demonstran yang tengah berada dalam posisi terisolasi. Mereka juga memiliki data yang menunjukkan bahwa pemerintah Libya menurunkan senjata beratnya di jalan-jalan Libya. Kemudian mereka juga mengutuk kejahatan yang dilakukan oleh tentara bayaran pemerintah, yang melakukan aksi penculikan terhadap para wanita.

Organisasi Arab ini dalam bayannya kemudian menuliskan, data terakhir jumlah korban syahid dalam revolusi Libya kali ini lebih dari 400 orang. Mereka yang menderita luka-luka lebih dari ribuan orang. Pemerintahan Qadafi dan angkatan bersenjatanya diketahui melegalkan kekerasan dalam menghadapi para demonstran, dan sikap ini disampaikan secara resmi oleh putra Qadafi, Saif.

Qadafi sendiri dalam pidatonya telah berjanji kepada rakyat Libya, Selasa (22/2) malam waktu setempat, dengan menggunakan istilah "tentara suci", ia akan menurunkan mereka untuk menghabisi para demonstran.

Ia mengatakan, "apabila aksi demonstrasi tidak juga berhenti pada malam ini, kami akan turunkan tentara dengan jalan damai, apabila gagal, kami akan datangkan tentara yang tentu kalian tahu dari mana mereka berasal, kalau masih gagal juga, maka saya akan datangkan tentara bangsa-bangsa yang akan saya pimpin langsung, karena Libya memiliki kekuatan tentara multi internasional."

Isi pidato Qadafi penuh dengan tuduhan dan ancaman, ia kemudian membanggakan para serdadunya yang masih setia, "tentara akan terus merengsek ke depan, dan tak ada kata mundur dalam kamus mereka", tegasnya.

Dirinya menuduh bahwa demonstrasi yang berlangsung selama ini didalangi oleh mereka yang berkepentingan, yaitu para mafia ekstasi yang mendanai para demonstran.  (msy/itd)