Hadirkan Senyum untuk Duka Sulteng


Hadirkan Senyum untuk Duka Sulteng
Islamedia Senin, 15 Oktober 2018 atau bertepatan dengan 06 Shafar 1439 H, beberapa ormas Islam dan Komunitas dakwah, bersepakat untuk beraliansi strategis membantu korban bencana Palu, di antaranya : Al-Hayah Hayatuna, Nasyitha Center ( NC), Ikatan Da'i Indonesia ( IKADI), Majlis Islam ( MANIS.ID), Adab Insan Mulia, Secerah Negri, dan Komunitas Sedekah Harian. Beberapa ormas Islam lainnya telah berangkat juga seperti BKPRMI dan PUI.
Rombongan pimpinan ormas dan komunitas dakwah ini berangkat menggunakan pesawat Batik Air terpagi, pukul 02.30 WIB, dan tiba di kota Palu pada pukul 06.25 WIT.Tiba di Bandara, rombongan langsung menuju satu pusat posko bencana di pusat kota Palu.

Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Balaroa, satu dari tiga lokasi likuifaksi. Likuifaksi di Palu adalah fenomena bergeraknya lapisan tanah dengan kecepatan cukup cepat (kasu Palu, sekitar 20 km/jam), menggerakkan seluruh yang berada di atasnya (rumah, pepohonan, persawahan, dll.), disertai semburan lumpur dan terbelahnya tanah di beberapa titik. Secara zhahir, apa yang terlihat akan seperti proses 'blending tanah', buka tutup, hingga mengangkat tinggi dan membenamkan kembali ke dalam tanah.

Balaroa merupakan wilayah pemukiman padat penduduk, area Perumnas, dengan aktifitas yang sangat padat. Ditemani Ustadz Nurkholish, salah satu korban bencana yang kehilangan 2 (dua) dari 4 (empat) orang anaknya (anak pertama dan terakhir) pada bencana kemarin. Di area ini, rombongan menyaksikan langsung tumpukan tanah, mobil, pohon bersatu tidak teratur. Ustadz Nurkholis menunjukkan posisi rumahnya yang teridentifikasi, namun telah terpisah 150 meter dari rumah besar milik tetangganya. Wilayah Balaroa digenangi banyak air dan munculnya aliran-aliran sungai baru melalui bawah-bawah rumah.

Fenomena perpisahan bangunan yang lebih mencolok terlihat pada bangunan sebuah Rumah Sakit besar yang baru berdiri 3 (tiga) tahun yang lalu. Terlihat rumah sakit ini terpisah menjadi dua bangunan besar yang berjarak, padahal sebelumnya adalah menyatu sebagai bangunan yang kokoh.

Lokasi posko pertama yang kami kunjungi adalah Donggala yang berdiri di sebuah lapangan cukup luas, di seberang sebuah masjid besar.

Gema adzan Zhuhur telah berbunyi, rombongan bersegera menuju lokasi posko kedua, Kantor Ormas Al-Khairat. Selepas melaksanakan shalat Zhuhr berjama'ah yang diikuti oleh banyak sekali jama'ah, rombongan mendengatkan tausyiyah singkat dari seorang habib disana. Beliau mengingatkan bagaimana dirinya dan Al-Khairat telah berulang kali mengingatkan pemerintah akan bentuk-bentuk kemaksiatan, sehingga ulama di Palu terlihat sebagai ulama juga sebagai 'polisi' bagi ragam kemaksiatan, namun tidak banyak elemen masyarakat yang membersamai. Taushiyah yang padat data otentik itu (titik-titik LGBT dan pelacuran di pinggir pantai, kemusyrikan, dll.) sepertinya berhasil membangkitkan persatuan umat. Hal ini terlihat dari semangat jama'ah untuk bersama-sama menjaga Kota Palu dari ragam kemaksiatan, dan tidak lagi meremehkan dan membiarkan para elemen dakwah bergerak dan bersuara sendiri.

Di posko Al-Khairat ini rombongan ditemui dan dijamu makan siang khas Palu dari Dapur Umum oleh Ustadzah Sakinah al-Jufr. Di pesantren yang sangat sederhana namun mendidik banyak santri ini, Al-Khairat membuka dapur umum untuk masyarakat. Tidak ada bantuan langsung pemerintah disini, namun ragam ormas mempercayakan bantuannya di posko ini, untuk kemudian disalurkan oleh Ustadzah Sakinah ke berbagai titik yang membutuhkan.

Ustadzah Sakinah Al-Jufri dikenal tidak hanya sebagai muballighah namun juga beliau adalah sosok yang dikenal mampu merapatkan shaf umat dan terbuka bekerjasama dengan siapapun. Beliau menceritakan bagaimana suatu saat ia bergerak langsung menemui Walikota dan Wakil Walikota, namun karena tidak berada di tempat, ditemui oleh Kepala Dinas Pendidikan Palu, PJ Walikota. Saat itu, beliau menegaskan agar pemerintah segera membatalkan rencana festival Nomoni karena bertentangan dengan nilai agama. PJ Walikota saat itu menegaskan ketidaksetujuannya atas masukan ustadzah. Hal ini karena pemerintah menganggap Nomoni adalah bagian dari budaya yang dapat mengundang banyak turis mancanegara hadir ke Kota Palu.

Palu Nomoni adalah rangkaian kegiatan adat yang di antaranya adalah melakukan seserahan ke laut dalam, sebuah tradisi dari Kaili. Namun begitu, dari beberapa wawancara di lapangan dengan masyarakat Kaili, ternyata filsafatnya Nomoni adalah tradisi pengobatan Raja dahulu, yang dilakukan oleh segelintir orang dan bukan untuk dipublikasikan besar-besaran bahkan mengundang banyak orang. 

Hadirkan Senyum untuk Duka Sulteng


Dalam catatan pemerintah, setidaknya Nomoni telah ditiadakan sejak ratusan tahun lalu, dan baru dihidupkan 3 (tiga) tahun terakhir oleh Walikota Drs. Hidayat, M.Si., sejak tahun 2016. Di antara rituak yang berusaha dihidupkan kembali adalah Ritual Adat Balia dari Suku Kaili. Nama 'Kaili' diambil dari nama pohon dan buah yang banyak ditanam di tepi Sungai Palu dan Teluk Palu.

Beberapa peringatan dari alam disaksikan oleh banyak masyarakat terjadi sejak pertama kali dihidupkan. Kegiatan Palu Nomoni 2016 menyisakan catatan hujan deras dan angin puting beliung di saat pembukaan acara. Namun pemerintah tetap melanjutkannya. Pada kegiatan yang sama di tahun 2017, muncul buaya dan hiu tutul di muara. Dua kali peringatan alam ini ternyata tidak menghentikan semangat pemerintah Palu untuk memperjuangkan Palu Nomoni lebih agresif lagi. Terjadilah apa yang kita saksikan yakni di hari Jum'at, pukul 17.45 WIB, saat masuk waktu malam, Maghrib. Tsunami menelan seluruh yang ada di bibir pantai, termasuk 12 orang polisi (menurut catatan sementara saksi kepolisian), tentara, PNS, dan masyarakat. Angka ini masih bersifat sementara karena masih banyaknya korban yang berlari dan mengungsi, belum melaporkan apapun terkait kondisinya kepada kesatuannya masing-masing.

Di posko dan dapur umum Al-Khairat, kami juga mendapatkan kesaksian langsung dari korban yang bernama Helmi bin Abu Bakar al-Jufri. Beliau berhasil selamat dari likuifaksi Balaroa, setelah dua malam tertimbun reruntuhan bersama ibunda tercinta yang juga selamat. Beliau menceritakan detik-detik mencekam yang bahkan terus beliau rasakan hingga dua malam berikutnya di rumahnya yang rubuh tertimbun tanah dan air lumpur di sekitarnya.

Selepas dari posko kedua ini, rombongan bergerak menuju posko dan dapur umum berikutnya yakni berlokasi di sekolah Bina Insan pimpinan Ustadzah Erni. Di sini banyak pengungsi dan anak-anak. Setelah menurunkan bantuan disini kami mencukupkan aktivitas karena waktu sudah menjelang malam.

Palu di siang hari memiliki suhu cukup panas. Namun cuaca panas sejak kejadian bencana memiliki sisi positifnya, yakni pengungsi di tenda-tenda di lapangan yang tentunya dapat mencoba menata ulang segala sesuatunya. Hujan turun sekitar 4 hari yang lalu, dan menyebabkan banjir sedikit di wilayah tertentu.

Malam hari rombongan memanfaatkan waktu untuk bersilaturrahim ke salah satu tokoh keumatan, yakni Ustadzah Wiwik, langsung di rumahnya, di lokasi yang juga mengalami bencana. Beberapa hari beliau dan para tetangganya tidur di luar rumah, karena masih trauma tinggal di dalam, wa bil khusus, anaknya yang masih berusia 6 tahun. Rumah beliau termasuk yang tidak rusak, kecuali retak-retak sedikit di beberapa wilayah. Beliau meski asli Temanggung, Jawa, memilih untuk tetap di Palu guna melayani umat yang membutuhkan pertolongan.

Malam itu kami menyempatkan mengunjungi wilayah likuifaksi kedua, yaitu Petobo. Likuifaksi disini justeru terjadi dari sisi dataran tinggi dan terus turun ke bawah dan berhenti tepat sebelum sebuah Rumah Sakit Ibu Anak. Pergeseran tanah bisa mencapaii 2.5 km disini. Terdapat kesaksian dari seorang relawan yang sempat mengantar tamu di wilayah ini, bagaimana kemudian ia memacu mobilnya karena berkejaran dengan aliran pecahan tanah yang menuju mobilnya. Ia juga menceritakan temannya di mobil yang lain yang justru berlari ke atas, mobilnya terlihat terbalik dan hilang ditelan tanah. Sepanjang jalan, mobilnya melewati banyak manusia yang meminta tolong masih terkunci di pagar rumahnya. Namun tidak sempat lagi baginya untuk menolong mereka.

Hari pertama kami tutup dengan review rencana di hari kedua dan kemudian beristirahat. Walhamdulillāh.


CATATAN HARI KEDUA

Hari kedua kami mulai di pagi hari dengan bergerak ke Posko di Sekolah Al Fahim. Disini, terdapat juga posko Turki 'Hasene'-IZI, Militer, ACT, dan lainnya. Dapur umum juga tersedia. Kami mengumpulkan para guru di sekolah besar yang telah berusia 13 tahun ini, dan mendengarkan sharing dari mereka.

Dari guru-guru Al Fahmi, setidaknya ada 2 (dua) kisah yang sangat mengharukan. Salah satunya kisah dari Ustadz Ihsan yang harus kehilangan rumah, istri dan anak pertamanya (Hafizh) yang juga penghafal Quran yang baru berusia 5 tahun. Pesan terakhir isterinya adalah membaca surat Al-Kahfi di pagi hari.

Selepas memberikan bantuan makanan dan dana disini, rombogan menuju wilayah likuifaksi ketiga yaitu Jonooge dan Lolu. Namun karena medan yang cukup menantang disini, rombongan akhirnya langsung ke posko pengungsian di Kampung Sidera. Kampung ini retak-retak saja, namun wilayah Jonooge mengalami likuifaksi bahkan bergeser sejauh 1.5 km.

Sepanjang jalan menuju Kampung Sidera, rombongan melalui tanah luas yang banyak diisi tenda-tenda pengungsi. Terlihat ada denyut-denyut gerakan pemerintah disini meski tidak terlalu masif, yakni pembangunan ruang-ruang sementara dengan besi baja.

Di dapur umum dan posko Sidera, rombongan mendapati bahwa relawan Non-Muslim telah bergerak dengan misi mereka, dan meninggalkan stiker-stiker misi suci mereka, khas seperti gerakan mereka biasanya.

Para pahlawan sebenarnya disini di antaranya adalah para juru masak yang mewakafkan waktunya bahkan hingga hari ke-18 sejak bencana terjadi. Para relawan dengan idenya masing-masing sejatinya juga penggerak-penggerak penting bangkitnya denyut nadi Kota Palu. Para muhsinin, seperti seorang habib yang mewakafkan tanahnya seluas 5 Hektar untuk dibangun rumah pengganti pun bagian dari cara Allah untuk menghadirkan ruang-ruang kebaikan. Pada akhirnya, semua berharap, umat terbangun dari menomorduakan agama dari adat istiadat, dan bahwa persatuan umat itu sangat penting. Masyarakat juga diharapkan sadar betapa pentingnya memiliki pemerintah yang dapat bergerak cepat, dan partai politik yang bergerak dengan tulus melayani umat. Tidak lupa para aparat militer TNI yang terlihat begitu siap bergerak berdampingan di tengah masyarakat yang wilayahnya hancur lebur. Tentunya membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk mengembalikan segala sesuatunya.

Donasi Palu perdana yang berhasil kami himpun sebanyak 300 juta, kami sudah salurkan untuk membantu warga yang ada di posko-posko pengungsian,  memberikan bantuan untuk 6 (enam) dapur umum dan memberikan bantuan untuk para relawan yang rumahnya juga hancur tetapi terus bergerak membantu warga yang mendapat musibah yang sama, yang berada di posko-posko pengungsian. Bantuan datang dari berbagai pihak di dalam negeri, baik pribadi, komunitas, maupun organisasi. Bantuan juga datang dari luar negeri seperti dari PERMAI (Persatuan Masyarakat Indonesia) Brunei Darussalam.

Semoga, bantuan kami yang tidak seberapa bisa sedikit menghadirkan senyum untuk duka Palu. Kerja masih panjang untuk mendukung Palu kembali bergeliat sebagai awalnya. Mari terus kita galang kebersamaan untuk Palu.
[islamedia]

Baca Ini Juga ...: